Challengers (2024), disutradarai Luca Guadagnino dengan skenario Justin Kuritzkes, merupakan drama olahraga romantis yang menempatkan segitiga cinta di pusat kompetisi tenis profesional. Film berdurasi sekitar 131 menit ini dibintangi Zendaya sebagai Tashi Duncan, Mike Faist sebagai Art Donaldson, dan Josh O’Connor sebagai Patrick Zweig. Diproduksi Amazon MGM Studios, karya ini meraih pujian kritis (sekitar 88 persen di Rotten Tomatoes) berkat energi visual, skor Trent Reznor dan Atticus Ross, serta penampilan tiga pemeran utama yang intens.
Laga Penuh Tensi, Manipulasi, dan Cinta Segitiga
Alur cerita bergerak bolak-balik sepanjang 13 tahun. Pada 2006, Art dan Patrick, sahabat serta pasangan ganda junior, memenangkan gelar US Open putra junior. Mereka terpikat Tashi, bintang junior putri yang penuh ambisi. Hubungan mereka berkembang menjadi persaingan yang rumit: Patrick lebih dulu dekat dengan Tashi, sementara Art mendukungnya setelah cedera lutut menghancurkan karier bermain Tashi. Tashi kemudian menikah dengan Art dan menjadi pelatihnya, mengubahnya menjadi juara Grand Slam. Namun, pada 2019, Art mengalami rentetan kekalahan. Tashi memasukkannya ke turnamen Challenger di New Rochelle, di mana ia bertemu kembali dengan Patrick yang kariernya meredup. Ketegangan masa lalu dan masa kini bertabrakan di dalam dan di luar lapangan.
Review Film Chalenggers
Guadagnino mengolah tenis sebagai metafora hubungan: bola yang dipukul bolak-balik mencerminkan hasrat, pengkhianatan, dan ambisi. Sinematografi Sayombhu Mukdeeprom dinamis, dengan sudut kamera yang agresif, sementara editing Marco Costa menjaga ritme yang cepat. Film ini tidak sekadar tentang kemenangan olahraga, melainkan tentang biaya emosional dari hasrat untuk menang—baik di lapangan maupun dalam cinta. Zendaya menampilkan Tashi sebagai tokoh yang kuat, strategis, dan rentan; Faist menggambarkan Art yang terbebani ekspektasi; O’Connor memberikan nuansa nakal dan rawan pada Patrick. Meski beberapa kritikus mencatat struktur non-linear yang kadang membingungkan, keseluruhan karya tetap memikat sebagai eksplorasi hasrat yang jujur dan sensual.
Di wilayah Indonesia, Challengers telah tersedia di Prime Video sejak September 2024 (rilis streaming global utama sekitar 19 September 2024). Saat ini, film dapat diakses melalui layanan sewa atau beli di platform tersebut. Ketersediaan penuh dalam langganan Prime dapat bervariasi menurut lisensi regional, namun opsi sewa/beli memudahkan akses langsung.
Adegan aksi paling dramatis terjadi pada pertandingan final Challenger antara Art dan Patrick. Ketegangan mencapai puncaknya ketika kedua pemain saling berhadapan dengan intensitas tinggi. Kamera mengambil sudut ekstrem—termasuk perspektif bola, bawah lapangan, dan close-up keringat serta otot yang tegang. Skor musik mendorong ritme pukulan yang semakin cepat. Art, yang semula terpuruk, bangkit setelah isyarat dari Patrick (penempatan bola di leher raket yang mengingatkan masa lalu). Voli terakhir penuh keputusasaan dan keindahan atletik. Saat Art memenangkan poin penentu, ia melompat melewati net dan jatuh ke pelukan Patrick. Momen itu menggabungkan kemenangan olahraga dengan pelepasan emosional yang hampir orgasmis, disaksikan Tashi yang berteriak “Come on!” dari tribun. Adegan ini menyatukan seluruh konflik film dalam klimaks fisik dan psikologis yang tak terlupakan.
Adegan paling romantis muncul dalam flashback awal, di kamar hotel ketika Tashi, Art, dan Patrick masih muda. Setelah pertandingan, Tashi mengusulkan bahwa pemenang pertandingan keesokan harinya boleh tidur dengannya. Ia duduk di antara keduanya di ranjang, bergantian mencium Art dan Patrick, lalu mendorong keduanya agar saling berciuman sementara ia mengamati dengan senyum penuh perhitungan. Adegan ini singkat namun sarat ketegangan seksual dan emosional: ciuman tiga arah yang berubah menjadi ciuman antara kedua pria, dengan Tashi sebagai pengendali. Momen tersebut menangkap esensi segitiga cinta—hasrat yang saling tumpang tindih, permainan kekuasaan, dan keintiman yang ambigu—tanpa perlu eksplisitas berlebihan. Nuansa romantis juga terasa dalam tatapan pertama Art dan Patrick saat menyaksikan Tashi bermain, di mana kekaguman atletik segera bercampur dengan ketertarikan pribadi.
Secara keseluruhan, Challengers berhasil menyatukan olahraga, drama, dan erotisme dalam paket yang segar. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengundang refleksi tentang ambisi, persahabatan, dan harga yang harus dibayar untuk kemenangan. Kalau kamu menghargai sinema yang bergaya dan penuh energi akan menemukan pengalaman yang memuaskan. Dengan ketersediaan di Prime Video Indonesia, film ini mudah diakses bagi mereka yang ingin menyaksikan kembali atau menikmati untuk pertama kali. Rating pribadi: 7.5/10.
Baca Juga
-
Review Serial Ted Lasso Season 2: Kehangatan Komedi yang Menyentuh Jiwa
-
Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!
-
Ulasan Film Lobang Buaya: Babak Baru Sinema Horor Sejarah Garapan Hanung
-
Hati-Hati Kena Mental, Review Film 'Verity' Hadirkan Ketegangan Erotis dan Plot Twist Berlapis
-
Review Serial The Fixers: Sajian Aksi Kriminal Asia Terbaru di Netflix!
Artikel Terkait
-
Nonton Sambil Istigfar, 4 Drakor Ini Bikin Kamu Bingung Harus Dukung Siapa!
-
Sinopsis The Silent Storm, Dracin Kriminal Thriller Dibintangi Jing Bo Ran
-
Drama Kill It Mengungkap Kisah Tragis Anak-Anak Bernomor di Panti Asuhan
-
Review Film Galaksi: Luka Tersembunyi di Balik Sikap Keras Seseorang
-
Sinopsis Live Long and Prosper, Dracin Fantasi yang Dibintangi Dylan Wang
Ulasan
-
Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!
-
Memetik Pelajaran Kehidupan dari Buku Harapan Semu untuk Sebuah Masalah
-
Review Serial Ted Lasso Season 2: Kehangatan Komedi yang Menyentuh Jiwa
-
Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!
-
Hendrix and Rocket: Being Brave, Ketika Keberanian Dimulai dari Rasa Takut
Terkini
-
One of a Kind Romance Tayang 9 November, Ini Daftar Para Pemain Utamanya
-
Setelah Sukses di Musim Pertama, Anime Draw This Then Die Lanjut Musim ke-2
-
Anti-Breakout! 4 Hybrid Sunscreen Mugwort Redakan Kemerahan dan Iritasi
-
Macklemore Bikin Tur 'Free Palestine', Tiket dari 3 Kota Langsung Ludes
-
Kirain Murah, Ternyata Cuma Pemancing: Prank Harga di Etalase Marketplace