Ada kalanya seseorang terlihat baik-baik saja, padahal di dalam dirinya masih tersimpan ketakutan, kesedihan, atau luka yang belum selesai. Gagasan tersebut menjadi salah satu pintu masuk yang digunakan dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ dalam buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero. Melalui sudut pandang psikologi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, buku ini mengajak pembaca melihat kembali pengalaman masa lalu yang mungkin tanpa disadari memengaruhi cara seseorang bersikap ketika dewasa.
Buku ini berangkat dari gagasan bahwa sosok dewasa yang terlihat percaya diri, kuat, mandiri, bahkan selalu mampu mengatasi masalah belum tentu benar-benar merasa demikian. Di balik citra tersebut, bisa saja terdapat bagian diri yang masih membawa pengalaman masa kanak-kanak. Anak tersebut mungkin pernah merasa takut, ditolak, tidak didengar, atau kehilangan rasa aman. Untuk menghadapi keadaan itu, seseorang kemudian membentuk persona sebagai pelindung dirinya.
Konsep inner child menjadi bagian penting dalam pembahasan. Luka masa kecil tidak selalu muncul dari peristiwa besar. Lingkungan terdekat, termasuk keluarga dan rumah yang semestinya memberikan keamanan, justru dapat menjadi tempat seseorang pertama kali mengenal rasa takut atau tidak diterima. Pengalaman semacam itu dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi hubungan seseorang dengan dirinya sendiri maupun orang lain.
Andreas juga membahas mekanisme pertahanan diri yang membuat seseorang cenderung menyembunyikan sisi rapuhnya. Ada orang yang merasa harus selalu kuat, tidak boleh menangis, enggan meminta bantuan, atau terus berusaha memenuhi harapan orang lain. Sikap tersebut bukan semata-mata bentuk kepura-puraan. Dalam konteks tertentu, persona justru pernah menjadi cara yang efektif untuk bertahan ketika seseorang belum mempunyai kemampuan lain untuk menghadapi luka dan rasa tidak aman.
Menariknya, gagasan psikologis dalam buku tidak hanya disampaikan secara teoritis. Andreas menggunakan cerita dan tokoh fiksi, termasuk Victor dan Stelora, yang menjalani proses konsultasi. Percakapan dan pengalaman mereka menjadi sarana bagi pembaca untuk melihat bagaimana persoalan psikologis dapat hadir dalam situasi yang terasa dekat dengan kehidupan nyata. Dengan pendekatan tersebut, pembahasan mengenai mekanisme pertahanan dan luka masa lalu terasa lebih mudah dicerna.
Saya sendiri membaca buku ini setelah menamatkan Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring. Karena kedua buku ditulis oleh penulis yang sama, saya memiliki rasa penasaran untuk melihat karya berikutnya. Meski membawa persoalan berbeda, saya merasakan karakter pendekatan yang serupa seperti hangat, reflektif, dan tidak terasa menghakimi. Dengan ketebalan 272 halaman, buku ini juga cukup ringan untuk dituntaskan dalam waktu relatif singkat.
Hal yang paling melekat bagi saya adalah pemahaman bahwa topeng tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Persona dapat membantu seseorang beradaptasi dengan lingkungan dan menjalani kehidupan sosial. Persoalannya muncul ketika seseorang terlalu lama bergantung pada topeng tersebut sampai lupa mengenali kebutuhan dirinya sendiri.
Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca bukan untuk membuang seluruh topeng yang selama ini digunakan, melainkan memahami alasan di balik keberadaannya. Mengenali luka, menerima sisi rapuh, dan berdamai dengan pengalaman masa lalu menjadi langkah penting untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri. Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero menjadi bacaan reflektif tentang keberanian melihat sisi diri yang selama ini disembunyikan demi terlihat kuat.
Identitas Buku:
Judul: Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero
Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 626221025
Tag
Baca Juga
-
Ulasan Hyper Knife: Obsesi, Pengkhianatan, dan Dendam di Meja Operasi
-
Kepada Ilah yang Tak Diketahui: Ketika Manusia Berhadapan dengan Alam dan Keyakinan
-
Things Left Behind: Menemukan Makna Kehidupan dari Barang-barang yang Tertinggal
-
Ulasan Mini Series Carrie: Ketika Perundungan Digital Membangkitkan Teror
-
It Didn't Start with You: Menelusuri Luka Keluarga yang Membentuk Diri Kita
Artikel Terkait
Ulasan
-
Membaca Wonderstruck: Ketika Dunia Tak Selalu Ramah untuk Anak Disabilitas
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
-
Bukan Sekadar Dongeng, Ini Alasan Buku Pangeran Cilik Wajib Kamu Baca Ulang Saat Dewasa
-
Sisi Kelam Naruto Shippuden: Dari Marginalisasi Hingga Radikalisme Rakyat
-
Review Lupin Part 1: Drama Thriller Kriminal Prancis yang Penuh Kejutan!
Terkini
-
4 Acne Hybrid Sunscreen Proteksi SPF 35 Andalan Cegah Jerawat Makin Parah!
-
Dari Cuaca Hingga Lagu, Hal Kecil yang Diam-Diam Mengatur Suasana Hati
-
2 Tahun Prabowo-Gibran: Antara Janji Sejahtera dan Realitas Harga di Pasar
-
Catat Tanggalnya! NCT Dream Bagikan Jadwal Teaser Album Dream After Dream
-
Huawei Watch GT 7 Pro Hadir dengan Material Premium, GPS Akurat, dan Ketahanan Air 5 ATM