Kejahatan besar seringkali meninggalkan pertanyaan panjang setelah korbannya pergi dan pelakunya tertangkap. Unabomber masuk lebih jauh ke masa sebelum nama Ted Kaczynski dikenal sebagai sosok yang meneror Amerika lewat rentetan surat.
Film yang rilis di Netflix ini mencoba melihat bagaimana remaja jenius di Harvard perlahan berubah menjadi pria yang kelak diburu FBI selama bertahun-tahun. Sayangnya, semakin film berusaha mencari akar perubahan itu, semakin terasa ceritanya masih menyisakan banyak pertanyaan dan menyisakan bagian cerita yang belum matang.
Unabomber merupakan drama kriminal-thriller 2026 yang terinspirasi dari kisah nyata. Film ini disutradarai Janus Metz dari skenario Sam Chalsen dan Nelson Greaves. Sophie Cassidy memproduseri film ini, sementara 2.0 Entertainment dan MRC terlibat dalam produksinya. Film berdurasi sekitar 1 jam 40 menit ini tayang pada 25 September 2026.
Pemerannya terdiri dari Jacob Tremblay sebagai Ted Kaczynski muda, Russell Crowe sebagai Profesor Henry Murray, Shailene Woodley sebagai agen FBI fiktif Joanne Miller, Annabelle Wallis sebagai Christiana Morgan, Alexander Ludwig, Steven Ogg, dan Marc Menchaca.
Ceritanya sendiri bergerak melalui dua masa. Tahun 1958 memperlihatkan Kaczynski sebagai remaja berusia 16 tahun yang sudah menjadi prodigy matematika di Harvard. Kecerdasannya berjalan beriringan dengan kesulitan bersosialisasi, sampai dia bertemu Henry Murray, profesor psikologi yang kemudian mengikutsertakannya dalam eksperimen psikologis kontroversial.
Pengalaman tersebut jadi pusat cerita masa lalu. Kaczynski yang awalnya hanya mengira dirinya mengikuti penelitian akademis perlahan menemukan eksperimen tersebut jauh lebih keras dari bayangannya.
Film kemudian melompat ke sekitar 1995, ketika FBI masih mengejar sosok Unabomber. Joanne Miller mencoba membaca manifesto Kaczynski sebagai petunjuk linguistik, sementara timnya lebih terbiasa menggunakan profil psikologis dan metode investigasi standar. Dua jalur tersebut kemudian berjalan beriringan sampai proses pengejaran mendekati titik akhirnya.
Dua Timeline yang Justru Terasa Terpisah
Aku sebenarnya suka gagasan film yang membelah cerita seperti ini. Masa lalu memberi konteks, sementara masa kini menunjukkan akibatnya. Masalahnya, Unabomber belum berhasil membuat kedua bagian tersebut saling menguatkan dari segi story telling.
Ketika kembali ke Harvard, film ini terasa jauh lebih hidup. Hubungan Kaczynski dan Murray nuansanya dingin, aneh, sekaligus menekan. Jacob Tremblay membawa sosok Kaczynski sebagai remaja cerdas yang canggung dan semakin tertutup. Russell Crowe pun punya daya tarik tersendiri sebagai Murray yang tenang, kharismatik, dan perlahan mengancam.
Bagian FBI justru terasa lebih familier. Investigasi, perbedaan pendapat antara gen, manifesto, dan pencarian identitas pelaku sudah jadi formula yang sering muncul dalam genre ini. Dua alur (masa lalu dan masa kini) rasanya kurang berhasil menjembatani masa lalu Kaczynski dengan pengejarannya di masa kini.
Hal paling menarik sekaligus paling riskan berada pada eksperimen Murray. Film seolah-olah ngajak kita melihat pengalaman tersebut sebagai salah satu pemicu penting perubahan Kaczynski. Secara dramatik, pendekatan ini memang membuat cerita punya jalur sebab-akibat yang jelas.
Masalahnya, hubungan langsung antara eksperimen tersebut dan aksi teror Kaczynski merupakan zona interpretasi. Kaczynski sendiri pernah menyangkal pengalaman itu punya pengaruh signifikan terhadap jalan hidupnya. Karena itu, film jadi semacam sebatas spekulasi semata.
Buatku, Unabomber paling menarik saat jadi drama psikologis tentang remaja jenius yang perlahan kehilangan tempatnya di lingkungan sekitar. Sayangnya, ketika film berpindah jadi thriller investigasi, energinya ikut berubah. Dua timeline yang seharusnya saling melengkapi malah jadi kayak dua cerita berbeda.
Kendati begitu, Sobat Yoursay yang penasaran bisa langsung cek Netflix. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review Bisikan Desa Gringsing: Slow-Burn yang Bikin Misterinya Ngeri Banget
-
Review A Sun: Pilih Kasih dan Ekspektasi Orang Tua yang Menorehkan Luka
-
Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?: Ikatan Kuat, tapi Cerita Cuma Main Aman
-
Dilema Memburu Pemangsa: Eksekusi Jurnalisme Investigasi yang Tergilas Bumbu Supranatural
-
Review Avengers: Endgame Encore, Bocoran 4 Adegan Baru yang Menggoda Fans
Artikel Terkait
-
5 Rekomendasi Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada Avengers Endgame: Encore!
-
Review Bisikan Desa Gringsing: Slow-Burn yang Bikin Misterinya Ngeri Banget
-
Review Film Avengers: Endgame Encore, Sajian Spesial Penyambung Babak Baru
-
Review Film The Love Hypothesis: Trik Pacaran Pura-Pura yang Bikin Baper
-
The Storm Tayang 15 Oktober di Netflix, Komedi Gelap Josephine Bornebusch
Ulasan
-
Mendengar Sure Thing: Bukti Kalau Lagu Bagus Tak Punya Kedaluwarsa
-
Review Bisikan Desa Gringsing: Slow-Burn yang Bikin Misterinya Ngeri Banget
-
How to Grow Old: Seni Menikmati Hari Tua Tanpa Rasa Takut
-
Drama Reborn Rich, Balas Dendam dan Intrik Rahasia Cucu Konglomerat Korea
-
Ulasan Novel Akan Kulintasi Dunia Untukmu: Surat yang Menjembatani Dua Masa
Terkini
-
Bebas Kotoran! 5 Cleansing Cream Ini Ampuh Bikin Kulit Bersih dan Lembut
-
5 Rekomendasi Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada Avengers Endgame: Encore!
-
Anime Hell Mode Resmi Berlanjut ke Season 3, Angkat Arc S-Rank Dungeon
-
Rp11 Triliun untuk Rekening Massal: Kebijakan Publik Kehilangan Prioritas?
-
Review Film Avengers: Endgame Encore, Sajian Spesial Penyambung Babak Baru