Memburu Pemangsa merupakan film laga horor kriminal Indonesia tahun 2026 yang disutradarai Umay Shahab dan diproduksi Sinemaku Pictures. Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026, berdurasi sekitar 115 menit, dan digolongkan dalam kategori usia D17.
Film ini dibintangi Laura Basuki sebagai Agnes, pemimpin redaksi media Daily Wave News yang masih diliputi trauma kehilangan putrinya dan menolak percaya pada hal-hal supernatural; Prilly Latuconsina sebagai Cia; Yasamin Jasem sebagai Anya; serta Taskya Namya sebagai Brina. Mereka dibantu Andri Mashadi yang berperan sebagai Petra, seorang polisi, sementara Teuku Rifnu Wikana memerankan sosok Pemangsa yang menjadi antagonis utama.
Kisah Investigasi Jurnalistik Berbalutkan Mistik
Sinopsisnya berpusat pada penyelidikan empat jurnalis perempuan terhadap serangkaian kasus hilangnya anak-anak di suatu wilayah. Tujuh anak menghilang, empat di antaranya ditemukan dalam kondisi termutilasi. Penyelidikan yang semula bersifat jurnalistik dan kriminal beralih menjadi perburuan yang melibatkan praktik demonologi, di mana pelaku diduga menjalin hubungan dengan kekuatan iblis demi tujuan pribadi, termasuk upaya membangkitkan sosok yang telah tiada.
Agnes terpaksa memanfaatkan kemampuan indra keenamnya setelah menyaksikan penculikan langsung, sementara masing-masing rekan memiliki keahlian berbeda: Brina mengandalkan kemampuan fisik dan bela diri, Anya fokus pada riset dan teori, serta Cia bersifat impulsif.
Sebagai karya yang menggabungkan elemen crime thriller, horor supernatural, dan aksi, Memburu Pemangsa memiliki premis yang berani dan relevan. Isu kekerasan terhadap anak diangkat dengan latar belakang riset yang melibatkan kriminolog, psikolog, dan lembaga perlindungan anak.
Sutradara Umay Shahab, yang berangkat dari pengalaman sebagai mantan artis cilik, menekankan bahwa pemangsa anak lebih mengerikan daripada iblis itu sendiri. Film ini juga disertai kampanye sosial, termasuk konser amal untuk mendukung penanganan kasus kekerasan anak.
Ulasan Film Memburu Pemangsa
Secara teknis, sinematografi Amalia T.S. dan skor musik Nara Anindyaguna berhasil membangun atmosfer gelap melalui pencahayaan redup, ruang sempit, serta lokasi yang terasa natural. Pembagian peran keempat jurnalis cukup jelas dan memberikan dinamika yang baik dalam proses investigasi. Adegan aksi, yang dipersiapkan melalui workshop intensif, menambah intensitas, sementara penampilan Teuku Rifnu Wikana sebagai Pemangsa dinilai intens dan menuntut, bahkan melibatkan pendampingan psikolog selama produksi.
Akan tetapi, perpaduan banyak genre menjadi titik kritikku sih. Elemen investigasi kriminal yang potensial kuat sering kali dipangkas oleh kemampuan supernatural Agnes, sehingga proses jurnalistik terasa kurang organik. Ketika cerita bergeser lebih dalam ke demonologi, fokus teror dari ancaman manusia nyata sedikit berkurang, dan beberapa elemen drama keluarga serta aksi membuat alur terasa kurang terpusat dalam durasi yang tersedia. Kalau menurutku pribadi sih keberanian pada premis film kurang maksimal dalam mempertahankan kekuatan crime thriller-nya.
Ketegangan terbendung mencapai puncaknya pada rentetan pergulatan langsung melawan Sang Pemangsa, serta saat-saat ketika proses penyelidikan harus berhadapan dengan bahaya fisik sekaligus gaib secara bersamaan. Ketegangan meningkat tajam saat para jurnalis dan Petra mendekati identitas pelaku, diikuti pengejaran serta bentrokan yang melibatkan kemampuan bela diri Brina dan keterlibatan kekuatan gelap.
Visi indra keenam Agnes yang mengungkapkan potongan kejadian masa lalu melalui benda-benda korban juga menciptakan rasa cemas yang berkelanjutan, terutama ketika petunjuk mengarah pada ritual yang mengorbankan anak-anak. Atmosfer mencekam diperkuat oleh ruang gelap dan ancaman yang semakin mendekat, membuatku merasakan desakan waktu untuk menyelamatkan korban yang masih hilang.
Adegan paling dramatis berpusat pada sisi emosional Agnes. Trauma kehilangan putrinya yang semula membuatnya menolak dunia supernatural memuncak ketika ia harus menghadapi kembali kemampuan tersebut demi kasus yang melibatkan anak-anak. Momen-momen ketika karakter-karakter utama dihadapkan pada pilihan antara menghentikan penyelidikan demi keselamatan diri atau terus berjuang, disertai refleksi tentang kerentanan anak dan tanggung jawab orang dewasa, memberikan bobot emosional yang kuat. Hubungan antar tokoh, termasuk keterlibatan personal seperti kekhawatiran Cia terhadap keponakannya, menambah lapisan dramatis yang menghubungkan isu sosial dengan konflik personal.
Overall, Memburu Pemangsa berhasil menyampaikan pesan pentingnya perlindungan anak melalui medium hiburan yang menegangkan. Meskipun perpaduan genre tidak sepenuhnya mulus, film ini layak ditonton sebagai karya yang berani mengangkat isu sensitif tanpa sepenuhnya mengeksploitasi. Penonton diharapkan meninggalkan bioskop dengan kesadaran lebih tinggi terhadap ancaman nyata di sekitar mereka. Film ini tayang serentak di jaringan bioskop seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis mulai 24 September 2026. Yuk segera pesan tiketnya! Dan selamat menonton. Rating pribadi: 8.3/10.
Baca Juga
-
Review Serial Honor Thy Mother: Mengulik Duka dan Ambisi dalam Keluarga
-
A Love Other Than Yours: Takdir Cinta Penuh Rahasia di Antara Dua Pilihan
-
Review Hanuman Ansh: Sebuah Sajian Biopic Spiritual India yang Menyentuh
-
Review Last Seen: Misi Menegangkan Ayah Mencari Putrinya yang Hilang!
-
Tazza: The Song of Beelzebub: Intrik Yakuza, Pengkhianatan, dan Plot Twist Bikin Nahan Napas
Artikel Terkait
Ulasan
-
Makna Lagu Training Season: Untuk Kamu yang Sering Salah Pilih Pasangan
-
Buku 30 Hari Mengubah Kebiasaan Buruk: Belajar Berubah dari Hal Kecil
-
Review Serial Honor Thy Mother: Mengulik Duka dan Ambisi dalam Keluarga
-
Lou Lou dan Naga Peliharaannya: Kisah Unik di Hari Pertama Sekolah
-
Belajar Menghargai Perempuan Lewat Sosok Borno di 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah'
Terkini
-
Heboh Proyek Film 'Damako': Angkat Tragedi Bom Hiroshima hingga Mundurnya WOODZ dan Shim Eun Kyung
-
Gonta-Ganti HP Cuma Buat Gengsi? Awas, Kelas Sosial dari Layar Gadget Seringnya Cuma Ilusi!
-
Sephora Kids dan Obsesi Skincare Dini: Saat Anak SD Lupa Caranya Bermain
-
Profil Intak P1Harmony, Viral Berkat Cover Hip Song hingga Duet Bareng Rain
-
Sinopsis Don't Be Shy, Film Komedi Romantis India Diproduseri Alia Bhatt