Hayuning Ratri Hapsari | Dian Haerani
Galaksi (Instagram/@bryandomani_bd_)
Dian Haerani

Kalau membicarakan film remaja Indonesia, cerita tentang ketua geng sekolah dan perempuan baik-baik mungkin terdengar seperti formula yang sudah sering kita lihat. Ada cowok bermasalah dan ada cewek yang perlahan membuatnya berubah, lalu ada konflik yang membuat hubungan mereka semakin rumit.

Ternyata Galaksi juga memiliki formula tersebut. Namun, setelah menontonnya, rasanya film ini sebenarnya tidak hanya ingin bercerita tentang kisah cinta dua anak SMA.

Film yang dibintangi Bryan Domani sebagai Galaksi Aldebaran dan Mawar de Jongh sebagai Kejora ini justru menarik ketika kita mulai melihat apa yang ada di balik sosok 'bad boy' Galaksi. Galaksi merupakan adaptasi dari novel karya Poppi Pertiwi dan disutradarai oleh Kuntz Agus.

Film berdurasi 118 menit ini mempertemukan romance remaja dengan konflik antargeng, persahabatan, serta persoalan keluarga. Galaksi adalah ketua geng Ravispa di SMA Ganesha. Bagi sebagian orang, Ravispa mungkin hanya sekumpulan anak sekolah yang suka membuat masalah dan terlibat tawuran.

Namun bagi Galaksi, Ravispa lebih dari sekadar geng. Mereka adalah keluarga. Dan kalau dipikir-pikir lagi, mungkin di situlah letak salah satu persoalan terbesar Galaksi. Ketika seseorang tidak menemukan rasa nyaman di rumah, terkadang ia akan mencari tempat lain untuk merasa diterima.

Galaksi sendiri memiliki persoalan keluarga yang membuat dirinya tumbuh menjadi sosok keras. Hubungannya dengan ayahnya tidak berjalan baik, sehingga kemarahan dan sikap agresif menjadi bagian dari cara Galaksi menghadapi hidup. Ravispa kemudian menjadi tempat baginya untuk mendapatkan rasa memiliki yang tidak ia temukan di rumah.

Lalu datanglah Kejora.

Berbeda dengan Galaksi yang hidup dekat dengan konflik, Kejora memiliki dunia sendiri melalui Paskibra. Pertemuan mereka terjadi ketika Kejora membutuhkan bantuan untuk mengikuti seleksi Paskibra. Sejak saat itu, kehidupan keduanya mulai saling bersinggungan.

Awalnya mungkin terasa seperti kisah cinta remaja pada umumnya. Cowok yang terkenal nakal bertemu dengan perempuan yang lebih teratur. Perlahan muncul rasa suka, lalu hubungan mereka mulai menghadapi berbagai masalah.

Tapi Galaksi tidak berhenti di sana. Kehadiran Kejora justru membuat kita melihat sisi lain Galaksi.

Di balik sikap keras, temperamen, dan reputasinya sebagai ketua geng, ternyata ada seseorang yang memiliki banyak luka. Galaksi bukan sekadar anak nakal yang senang mencari masalah. Ia adalah seseorang yang belum benar-benar tahu bagaimana menghadapi rasa sakitnya sendiri.

Dan menurut saya, bagian ini yang membuat karakter Galaksi cukup menarik.

Karena dalam kehidupan nyata pun, kita sering kali hanya mengenal seseorang berdasarkan apa yang terlihat dari luar. Anak yang dianggap kasar mungkin ternyata sedang punya masalah di rumah. Orang yang terlihat selalu marah mungkin sebenarnya tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan rasa kecewa.

Tentu saja, memahami alasan seseorang bersikap buruk bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Dan menurut saya, Galaksi menjadi menarik ketika kita bisa melihat dua hal tersebut secara bersamaan. Galaksi punya luka. Tetapi luka bukan alasan untuk terus menyakiti orang lain.

Di sisi lain, hubungan Galaksi dan Kejora juga tidak sepenuhnya bebas dari masalah. Kehadiran Kejora justru membuatnya masuk lebih jauh ke dalam konflik antara Ravispa dan Avegar, geng rival dari SMA Kencana. Kejora bahkan menjadi salah satu titik yang dimanfaatkan dalam perseteruan kedua kelompok tersebut.

Menurut saya, film ini juga cukup kuat dalam menggambarkan arti 'keluarga' dari sudut pandang yang berbeda. Keluarga ternyata tidak selalu berarti orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kita.

Bagi Galaksi, Ravispa adalah keluarga karena di sanalah ia merasa diterima. Bagi Kejora, Paskibra menjadi ruang yang membuatnya memiliki tujuan dan sesuatu untuk diperjuangkan. Pada usia remaja, kita memang sedang berada di fase mencari tempat untuk menjadi diri sendiri.

Itulah yang membuat Galaksi terasa cukup relatable meskipun kemasannya dipenuhi konflik geng dan romance ala cerita Wattpad. Apalagi bagi penonton yang pernah berada di usia SMA, mungkin ada sedikit rasa nostalgia ketika melihat bagaimana pertemanan, cinta pertama, gengsi, dan ambisi terasa begitu besar pada masa itu.

Memang, kalau dilihat dari sisi cerita, beberapa konflik dalam Galaksi mungkin terasa familiar. Namun, kekuatan film ini justru terletak pada usaha untuk memberikan latar emosional kepada karakter utamanya.

Bryan Domani juga cukup berhasil membawa sosok Galaksi sebagai seseorang yang terlihat keras tetapi menyimpan sisi rapuh. Ia tidak hanya ditampilkan sebagai ketua geng yang ditakuti, tetapi juga sebagai anak yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri.

Ini adalah cerita tentang seorang anak yang sedang mencari keluarga, mencari penerimaan, dan pada akhirnya harus belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti harus selalu melawan. Kadang-kadang, menjadi kuat justru berarti berani menghadapi luka yang selama ini kita sembunyikan.