Pernahkah kamu merasa ingin menghilang saja dari dunia?
Bukan karena ingin mati. Hanya ingin pergi ke tempat yang tidak mengenal kita. Tempat di mana tidak ada orang yang tahu kegagalan kita, tidak ada yang bertanya tentang pekerjaan, tidak ada yang membandingkan kita dengan orang lain, dan yang paling penting, tidak ada masa lalu yang terus mengikuti.
Rasanya seperti ingin menekan tombol reset. Perasaan semacam itu menjadi inti dari One Million Yen Girl, film Jepang tahun 2008 yang dibintangi Yu Aoi sebagai Suzuko Sato. Disutradarai dan ditulis oleh Yuki Tanada, film berdurasi sekitar 121 menit ini mengikuti perjalanan seorang perempuan berusia 21 tahun yang memutuskan meninggalkan kehidupannya dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain setelah menyimpan uang satu juta yen.
Premisnya terdengar sederhana. Suzuko hanya punya satu aturan. Ia akan bekerja sampai tabungannya mencapai satu juta yen. Setelah itu, ia pindah ke tempat lain yang tidak mengenalnya. Di tempat baru, ia kembali bekerja, menabung sampai satu juta yen, lalu pergi lagi.
Begitu terus. Seolah-olah satu juta yen adalah harga yang harus ia bayar untuk mendapatkan kesempatan memulai hidup dari awal. Namun, kenapa Suzuko ingin terus pergi?
Sebelumnya, ia terlibat dalam sebuah masalah dengan teman serumahnya yang berujung pada hukuman dan catatan kriminal. Setelah keluar, ia harus kembali tinggal bersama keluarganya. Tetapi rumah pun tidak lagi terasa seperti tempat yang nyaman.
Tatapan tetangga, pembicaraan orang-orang, hingga hubungan dengan adiknya membuat Suzuko semakin merasa tidak punya tempat. Akhirnya, ia memilih pergi. Bukankah pilihan itu terasa sangat familiar bagi anak muda zaman sekarang?
Bedanya, kita mungkin tidak benar-benar pindah dari satu kota ke kota lain. Kita melakukannya dengan cara yang berbeda. Kita menghapus unggahan lama. Mengganti gaya berpakaian. Membuat akun media sosial baru. Memutus hubungan dengan orang-orang tertentu. Pindah kos. Mencari pekerjaan baru.
Kita sering berpikir bahwa masalah akan selesai kalau lingkungan kita berubah. Kalau pekerjaan baru, kita akan bahagia. Kalau pindah kota, kita akan menemukan diri sendiri. Kalau bertemu orang-orang baru, kita bisa menjadi versi diri yang berbeda.
One Million Yen Girl tidak sepenuhnya membantah pemikiran tersebut. Suzuko memang menemukan pengalaman baru setiap kali berpindah tempat. Ia bekerja di berbagai tempat, bertemu orang-orang berbeda, dan belajar menjalani hidup secara mandiri.
Dari pekerjaan di daerah pantai hingga membantu perkebunan buah persik, setiap tempat memberikan pengalaman yang berbeda kepadanya. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa ia tinggalkan. Dirinya sendiri.
Di mana pun Suzuko berada, ia tetap membawa rasa takut yang sama. Ia takut dikenal, dihakimi, terlalu dekat dengan seseorang, dan takut jika orang lain mengetahui masa lalunya, mereka akan melihatnya hanya sebagai perempuan dengan catatan kriminal.
Karena itu, ketika hubungan mulai terasa dekat, Suzuko justru punya alasan untuk pergi. Bukankah terkadang kita juga melakukan hal yang sama? Ketika sesuatu mulai terasa terlalu serius, kita mundur. Ketika seseorang mulai mengenal kita terlalu dalam, kita takut.
Ketika sebuah pekerjaan mulai menuntut kita untuk benar-benar berkembang, kita ingin menyerah. Ketika hidup mulai terasa tidak sesuai ekspektasi, kita berpikir bahwa mungkin masalahnya adalah tempat kita berada. Padahal, mungkin kita sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu yang sebenarnya ada di dalam diri sendiri.
Namun, film ini juga tidak mengatakan bahwa Suzuko harus kembali ke kehidupan lamanya. Justru perjalanan tersebut membuatnya semakin mengenal dirinya sendiri. Ia belajar bahwa hidup mandiri bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun.
Ia belajar menerima kebaikan orang lain. Ia juga perlahan belajar bahwa kedekatan dengan seseorang tidak selalu harus berakhir dengan kehilangan kebebasan. Mungkin, inilah yang sebenarnya dibutuhkan banyak anak muda hari ini.
Bukan selalu jawaban tentang “Aku harus menjadi apa?”
Kadang kita hanya perlu bertanya, “Aku sebenarnya sedang lari dari apa?”
Karena ada perbedaan besar antara pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan pergi hanya karena kita tidak sanggup menghadapi kehidupan yang sekarang.
One Million Yen Girl memang film lama. Tetapi setelah bertahun-tahun, pertanyaannya masih terasa dekat dengan generasi yang tumbuh di tengah tekanan untuk sukses, budaya membandingkan diri, dan keinginan untuk terlihat baik-baik saja.
Mungkin kita memang tidak membutuhkan satu juta yen untuk memulai hidup baru. Kita hanya membutuhkan keberanian untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, apakah aku benar-benar ingin memulai hidup dari awal, atau sebenarnya aku hanya ingin merasa bahwa hidupku masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik?
Karena terkadang, kita tidak perlu menghilang untuk menjadi versi baru dari diri sendiri. Kita hanya perlu berhenti berlari, lalu perlahan belajar berdamai dengan diri yang selama ini ingin kita tinggalkan.
Baca Juga
-
Backstreet Rookie: Ketika Dewasa Berarti Berani Perjuangkan Hidup Sendiri
-
Dear Fresh Graduate: Ditolak Pekerjaan Itu Tak Berarti Ditolak Kehidupan
-
Review Reborn Rookie: Ketika Kehilangan Segalanya Membawa Perubahan Baik
-
Istirahat Bagian dari Produktivitas: Belajar Berhenti Tanpa Merasa Bersalah
-
Seni Menghargai Ketenangan Diri, Lebih Berani Berkata Tidak pada Banyak Hal
Artikel Terkait
-
Review Film Galaksi: Luka Tersembunyi di Balik Sikap Keras Seseorang
-
Review Film Bad and Crazy: Saat Sisi Gelap dan Gila dalam Diri Saling Bertabrakan
-
Tazza: The Song of Beelzebub: Intrik Yakuza, Pengkhianatan, dan Plot Twist Bikin Nahan Napas
-
Plot Twist Mengejutkan di 'The Handmaiden', Ketika Cinta Sesama Jenis Jadi Simbol Perlawanan
-
Mengupas Karakter Kim Seon-ho di 'The Childe': Tersenyum Lebar tapi Bikin Merinding!
Ulasan
-
The Final Problem: Penghormatan Indah untuk Detektif Klasik di Tahun 50-an
-
Backstreet Rookie: Ketika Dewasa Berarti Berani Perjuangkan Hidup Sendiri
-
Ulasan Yang Dihantui: Horor Rumah Tua, Luka Keluarga, dan Warisan Masa Lalu
-
Review Novel Potrait: Ketika Pernikahan Menjadi Luka Baru
-
Belajar Tidak Menilai Seseorang dari Ekspresinya Lewat Buku Frog Face
Terkini
-
Yoshihiro Togashi Tolak Proyek dengan Deadline demi Fokus Hunter x Hunter
-
Ibadah Alam GKJ Baturetno ke-9: Memaknai Api, Kematian, dan Daya Hidup dari Balik Area Makam
-
Viral Dibikin Seblak hingga Cookie, Ini 4 Bedanya Umbi Kimpul dan Talas Biar Nggak Salah Beli
-
Jeda Bukan Berarti Berhenti: Makna Self-Care di Tengah Hidup Serba Cepat
-
Sinopsis Avatar: Seven Havens, Kisah Petualangan Pavi Sang Pengendali Tanah