Hayuning Ratri Hapsari | Dian Haerani
Summer Strike (Instagram/@myfavoritekdramas)
Dian Haerani

Ada kalanya dalam hidup kita tidak benar-benar ingin pergi ke mana-mana. Kita hanya ingin rehat sejenak. Berhenti dari pekerjaan yang melelahkan, rutinitas yang terasa begitu-begitu saja, tuntutan untuk selalu produktif, bahkan dari pertanyaan orang lain tentang apa yang sebenarnya ingin kita lakukan dengan hidup.

Perasaan seperti itu mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, setelah menonton drama Korea Summer Strike, aku justru merasa bahwa keinginan untuk berhenti sejenak bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

Summer Strike bercerita tentang Lee Yeo-reum, seorang perempuan yang berada di titik paling melelahkan dalam hidupnya. Setelah menghadapi berbagai hal yang membuatnya kehilangan arah, termasuk pekerjaan dan hubungan yang tidak berjalan sesuai harapan, Yeo-reum memutuskan untuk melakukan sesuatu yang mungkin dianggap nekat, ia berhenti dari kehidupan lamanya dan pergi ke sebuah desa kecil bernama Angok.

Tidak ada rencana besar. Tidak ada target pencapaian. Ia hanya ingin berhenti. Menariknya, keputusan Yeo-reum untuk meninggalkan kehidupan yang selama ini dijalaninya terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang di usia 20-an.

Usia ketika kita sering merasa harus sudah mengetahui arah hidup, tetapi pada saat yang sama justru masih sibuk mencari tahu siapa diri kita sebenarnya. Ada tekanan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik, membangun karier, memiliki hubungan yang stabil, menghasilkan sesuatu, dan tentu saja terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.

Kita terus bergerak karena takut tertinggal. Padahal, pernahkah kita bertanya apakah kita benar-benar ingin terus berlari?

Hal yang paling kusukai dari Summer Strike adalah bagaimana drama ini tidak menggambarkan istirahat sebagai sesuatu yang sia-sia. Yeo-reum memang tidak langsung menemukan jawaban atas semua masalah hidupnya setelah pindah ke Angok. Ia juga tidak tiba-tiba menjadi orang yang memiliki tujuan hidup yang jelas.

Namun, justru di sanalah letak keindahannya. Ia belajar menjalani hari tanpa harus selalu memiliki pencapaian. Bangun pagi, berjalan-jalan, membaca, bertemu orang-orang baru, menikmati suasana desa, dan perlahan mengenal dirinya sendiri.

Hal-hal yang terlihat sederhana itu mungkin justru menjadi sesuatu yang sulit kita lakukan ketika kehidupan sudah terlalu cepat. Aku sendiri terkadang merasa bersalah ketika sedang tidak melakukan apa-apa. Ada perasaan bahwa waktu seharusnya digunakan untuk bekerja, belajar, menulis, atau melakukan sesuatu yang menghasilkan.

Namun, Summer Strike membuatku berpikir bahwa mungkin tidak semua waktu harus menghasilkan sesuatu. Ada waktu yang memang diciptakan untuk sekadar dijalani. Kita tidak harus selalu tahu apa yang akan terjadi lima tahun lagi. Tidak harus selalu punya rencana yang sempurna.

Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah ruang untuk mendengarkan diri sendiri. Menariknya, Angok juga menjadi tempat bagi Yeo-reum untuk menemukan kembali hal-hal yang mungkin selama ini hilang dari kehidupannya.

Ia bertemu dengan orang-orang yang memiliki luka dan masalah mereka masing-masing. Salah satunya adalah Ahn Dae-beom, sosok yang juga memiliki kisah hidupnya sendiri dan memilih menjalani kehidupan dengan cara yang lebih tenang.

Dari hubungan mereka, kita bisa melihat bahwa setiap orang ternyata memiliki waktunya masing-masing. Tidak semua orang harus berjalan dengan kecepatan yang sama. Ada yang sedang berlari mengejar mimpi. Ada yang sedang berjalan perlahan. Ada pula yang sedang berhenti untuk memulihkan diri.

Dan semuanya tidak masalah. Barangkali, terkadang kita memang perlu tersesat sedikit agar bisa menemukan jalan yang benar-benar ingin kita pilih.

Aku belajar dari Yeo-reum bahwa ada keberanian dalam keputusan untuk berhenti. Bukan karena kita sudah menyerah pada kehidupan, tetapi karena kita ingin memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk hidup dengan cara yang lebih sesuai.

Mungkin kita tidak harus benar-benar meninggalkan kota dan pindah ke desa seperti Yeo-reum. Jeda bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana.

Mematikan notifikasi selama beberapa jam. Menghabiskan sore tanpa pekerjaan. Berjalan sendirian. Membaca buku. Menonton drama kesukaan. Atau sekadar duduk diam dan bertanya kepada diri sendiri, “Aku sebenarnya sedang baik-baik saja atau hanya terlalu sibuk untuk menyadarinya?”

Pada akhirnya, Summer Strike mengingatkanku bahwa hidup bukan perlombaan. Kita tidak harus selalu bergerak agar dianggap sedang menjalani hidup. Sesekali, berhenti juga merupakan bagian dari perjalanan. Dan mungkin, ketika dunia terasa terlalu bising dan kehidupan bergerak terlalu cepat, kita hanya perlu mengambil sedikit jeda.

Bukan untuk melarikan diri selamanya, tetapi untuk kembali menemukan diri sendiri sebelum melanjutkan perjalanan. Apakah kamu punya drama atau film andalan yang menjadi inspirasimu untuk berani lebih santai lagi menjalani hidup?