Menariknya sebuah film muncul dari keberaniannya mengambil terlalu banyak risiko. Empat Musim Pertiwi adalah salah satunya. Kamila Andini seperti sengaja menaruh drama keluarga, trauma, kritik sosial, romansa, horor psikologis, sampai fiksi ilmiah dalam satu ruang yang sama. Hasilnya jelas jauh dari aman. Sebagian terasa begitu kuat, sementara sebagian lainnya membuat film ini berjalan di batas antara ambisius dan prestisius.
Empat Musim Pertiwi merupakan film produksi Forka Films, dengan Kamila Andini sebagai penulis sekaligus sutradara dan Ifa Isfansyah sebagai produser. Film berdurasi 137 menit ini dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi, Arya Saloka sebagai Bisma, Christine Hakim sebagai Mak Ira, Hana Malasan sebagai Niken, termasuk Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Nagra Pakusadewo, Totos Rasiti, Shofia Shireen, Hanna Aretha, Maryam Supraba, Dwika Pradnyana, dan Cut Mini.
Film Empat Musim Pertiwi tayang di bioskop pada 8 Oktober 2026 setelah world premiere di Toronto International Film Festival. Mantap, deh!
Dikisahkan Pertiwi yang pulang ke kampung halaman setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Dia pernah membunuh laki-laki yang berusaha memperkosanya ketika dirinya masih remaja. Kepulangan itu semestinya jadi kesempatan untuk memulai hidup baru. Namun, orang-orang di desa menyambutnya dengan tatapan curiga.
Keluarganya pun terasa asing. Hanya beberapa orang seperti Mak Ira dan Bisma yang membuka ruang untuknya. Dari sana, Pertiwi perlahan berhadapan dengan trauma, masa lalu, serta empat laki-laki berkuasa yang terkait dengan kehancuran hidupnya.
Di tengah kabut Bromo, benda-benda elektronik yang terbuang mulai menyala, sementara kekuatan aneh membawa Pertiwi menuju perjalanan yang lebih jauh dari realisme.
Wuih, menarik banget, ya? Asli, bikin penasaran.
Ambisi Besar yang Nyaris Kehilangan Keseimbangan Cerita
Sutradara Kamila Andini jelas punya banyak hal yang ingin dibicarakan. Kekerasan seksual, stigma, patriarki, ketimpangan kuasa, keluarga, trauma, solidaritas kelompok marginal, sampai perlawanan terhadap penguasa desa, semuanya masuk ke dalam satu wadah. Ambisi sebesar itu membuat film terasa kaya, tapi juga membuat beberapa jalur cerita berjalan terlalu melebar. Interaksi Pertiwi dan Bisma, misalnya, sesekali seperti keluar dari jalur utama sehingga ritme 137 menitnya jadi kayak kepanjangan.
Karakter Pertiwi menarik banget, karena hampir seluruh konflik akhirnya kembali padanya. Pengalaman dua dekade di penjara, stigma setelah kepulangan, hingga keberaniannya menghadapi kembali orang-orang dari masa lalu membuat perjalanan Pertiwi jadi tulang punggung film. Masalahnya, karakter-karakter di sekelilingnya belum selalu mendapat kedalaman yang sama.
Untungnya, visual Bromo lebih dari sekadar mempercantik layar. Lanskap luas, kabut, tanah vulkanik, dan ruang terbuka membuat Pertiwi tampak kecil ketika berhadapan dengan masa lalu. Keindahan itu sekaligus menciptakan kontras dengan kekerasan yang dialaminya. Andini bahkan berani membawa film menuju mistisisme dan fiksi ilmiah. Cuma ya gitu, pergeseran genre ini bikin filmnya mendadak seperti berbicara dengan bahasa berbeda.
Buatku, Film Empat Musim Pertiwi paling kuat saat membicarakan pulang sebagai bentuk konfrontasi. Pertiwi sudah membayar masa lalunya dengan dua dekade penjara, lalu harus menjalani hukuman sosial setelah kembali. Rumah pun berubah menjadi ruang penghakiman. Film ini terasa tajam ketika memperlihatkan bagaimana korban bisa dipaksa memikul beban kesalahan sementara orang-orang yang memiliki kuasa terus terus merasa aman.
Empat Musim Pertiwi memang terlalu penuh yang dibahas, tapi jujur saja sangat menarik. Ketika Putri Marino berjalan di tengah kabut Bromo sebagai perempuan yang akhirnya berani merebut kembali hidupnya, film terasa punya tenaga yang sulit diabaikan. Pulang di sini bukan sekadar kembali ke rumah. Pulang adalah keberanian untuk melihat luka, menolak stigma, lalu menentukan sendiri ke mana hidup akan dibawa. Pokoknya keren dan Sobat Yoursay harus nonton. Selamat menonton, ya.
Baca Juga
-
Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia
-
Review Atonement: Saat Perang Usai, Rasa Bersalah Berubah Jadi Medan Tempur
-
Review Bird in Hand: Pulang Demi Pernikahan, Kembali pada Luka Lama
-
Review Lobang Buaya: Saat Hantunya Cuma Alibi untuk Misteri Pembunuhan Berdarah
-
Review In Spite of Ourselves: Jatuh Cinta Mudah, Menjalaninya Lebih Rumit
Artikel Terkait
-
Ulasan Film Hasut: Teror Horor Psikologis yang Menguji Paranoia dan Realita
-
Mengulas Film 'Fall 2: Deadpoint' dan Ketakutan yang Tidak Selesai
-
Intip Sinopsis Street Fighter, Tayang 14 Oktober di Bioskop Indonesia
-
Review Film Fall (2022): Saat Ketinggian Ekstrem Membongkar Rahasia dan Trauma Terkelam
-
Menilik Makna Kepemimpinan di Captain America: Brave New World, Sudah Tayang di Disney+!
Ulasan
-
Ketika Jatuh Cinta Berubah Jadi Dilema: Menyelami Kepedihan 'I LIKE U' Karya NIKI
-
Ulasan Film Hasut: Teror Horor Psikologis yang Menguji Paranoia dan Realita
-
Di Antara Soeharto dan Reformasi: Bedah Buku 'Bersaksi di Tengah Badai' Jenderal Wiranto
-
Petite Histoire Indonesia Jilid 3: Menyusuri Kisah yang Luput dari Sejarah
-
Ratu Player Tobat! Upaya Asya Mengejar Ketua Kelas di Play with Players
Terkini
-
4 Sunscreen Beta Glucan Kunci Kulit Terhidrasi dan Skin Barrier Anti-Rusak
-
Awas Keracunan, Perhatikan 5 Ciri Penting Ini Sebelum Menjadikan Tanaman Liar Sebagai Makanan
-
4 Pore Clear Pad Eksfoliasi Wajah agar Pori-Pori Bersih dan Lawan Bruntusan
-
Variety Show Mr. Trot 4 Tayang Desember, Ini Jajaran Pengisi Acaranya
-
BITCH X RICH Hadirkan Spin-Off Tayang 2027, Ini Para Pemeran Utamanya