Martin Mull mungkin membuat orang tertawa sepanjang hidupnya. Namun, jejak paling personal yang ditinggalkannya justru berada jauh dari panggung komedi. Who Is Martin Mull? rilis dengan cerita simpel, lalu pelan-pelan membongkar ironi seorang seniman yang terkenal karena komedi, sementara dirinya menganggap melukis sebagai panggilan utama.
Who Is Martin Mull? merupakan dokumenter biografi Netflix rilisan 7 Oktober 2026 yang berdurasi sekitar 94 menit. Film ini disutradarai Bob Saget bersama Neil Berkeley. Saget memulai penggarapan pada 2018, lalu Berkeley menyelesaikannya setelah Saget meninggal pada 2022. Martin Mull sendiri meninggal pada 2024. Film ini diproduksi Funny Story Productions dan Tremolo Productions, dengan Netflix sebagai distributor.
Martin Mull jadi sentral cerita sekaligus tampil sebagai dirinya sendiri melalui wawancara dan arsip. Film turut menghadirkan Steve Martin, Tom Waits, David Alan Grier, Fred Willard, Norman Lear, Wendy Mull, Maggie Mull, serta sahabat dan rekan kerjanya.
Seniman yang Sesungguhnya
Ceritanya bergerak dari masa kecil Mull, pendidikan seni, awal karier sebagai penyanyi-penulis lagu, sampai pertemuannya dengan dunia komedi. Lelucon yang muncul dari situasi panggung musik kemudian membuka jalan menuju karier panjang di televisi dan film. Fernwood 2 Night menjadi titik penting, disusul berbagai peran dalam Roseanne, Sabrina the Teenage Witch, Arrested Development, serta Hollywood Squares. Di sela perjalanan itu, dokumenter memperlihatkan kecintaan Mull pada lukisan, pergulatannya dengan alkoholisme, hubungan rumit dengan ayahnya, persahabatan dengan para komedian, dan pernikahannya dengan Wendy yang bertahan sejak 1982 sampai akhir hidupnya.
Dari film ini, publik mengenal Martin Mull sebagai komedian, sementara Mull berkali-kali menempatkan dunia hiburan sebagai pekerjaan yang membiayai kehidupan seninya. Dia ingin menjadi pelukis. Komedi jadi jalan yang membawanya terkenal, lalu ketenaran itu membuat publik lebih mudah mengingat profesinya ketimbang ‘seniman’ di baliknya.
Di sini dokumenter tampak pintar dibandingkan biografi selebritas biasa. Film nggak sekadar menyusun prestasi, melainkan memperlihatkan hubungan antara humor, kebutuhan akan perhatian, dan pengalaman masa kecil Mull. Menariknya, kita jadi tahu ada luka keluarga yang ngasih lapisan baru pada gaya komedinya.
Contoh paling lucu sekaligus paling menjelaskan gayanya muncul ketika Martin Mull mengatakan ingin serius selama satu menit, lalu benar-benar diam sambil mempertahankan wajah serius. Penonton menunggu punchline, Mull justru membiarkan keheningan bekerja. Sederhana, cerdas, dan berani.
Persahabatannya dengan Steve Martin juga jadi bagian yang menyenangkan. Keduanya pernah tampil bersama, memiliki ritme humor yang sama-sama nyeleneh, dan memperlihatkan komedi yang tumbuh dari rasa saling mengagumi. Kehadiran Fred Willard dan Norman Lear kemudian memberi warna berbeda karena rekaman mereka kini seperti potongan arsip dari generasi yang sudah pergi.
Nasib produksi film ini membuat Film Who Is Martin Mull? semakin emosional. Bob Saget membuat dokumenter tentang Martin Mull, lalu meninggal sebelum proyek selesai. Martin Mull menyusul dua tahun kemudian. Akibatnya, film perlahan berubah menjadi arsip tentang kehilangan. Setiap tawa dari rekaman lama membawa bayangan bahwa orang-orang di dalamnya sudah jadi bagian dari masa lalu.
Di bagian akhir, Martin Mull berbicara dan bernyanyi tentang istrinya, lalu merenungkan panggung, set yang dibereskan, dan kehidupan yang memasuki babak terakhir. Adegan itu tampak biasa, tapi berhasil mengaduk-aduk emosi karena film membiarkan emosi tumbuh tanpa dipaksa.
Film Who Is Martin Mull? akhirnya bekerja sebagai film tentang kenangan manis. Martin Mull memang lucu, berbakat, dan serba bisa. Namun, dokumenter ini menemukan sesuatu yang lebih humanis, yakni seseorang yang berhasil menikmati banyak pekerjaan, mencintai seni, mempertahankan hubungan, dan berdamai dengan berakhirnya pertunjukan.
Salut, deh, untuk dokumentasi yang disuguhkan. Sobat Yoursay nggak tertarik cek Netflix terus nonton filmnya?
Baca Juga
-
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
-
Review Empat Musim Pertiwi: Pulang untuk Melawan Luka dan Stigma
-
Review Minotaur: Perselingkuhan, Kekuasaan, dan Monster dalam Diri Manusia
-
Review Atonement: Saat Perang Usai, Rasa Bersalah Berubah Jadi Medan Tempur
-
Review Bird in Hand: Pulang Demi Pernikahan, Kembali pada Luka Lama
Artikel Terkait
-
3 Rekomendasi Drakor Netflix Oktober 2026: Dari Misteri Medis hingga Aksi Spionase
-
Tayang 18 Oktober, Ashida Mana Bintangi Extraordinary Attorney Minami
-
The Conjuring: Unspoken, Game Horor Interaktif Berburu Hantu di Netflix
-
Cyberpunk: Edgerunners 2 Rilis 20 Oktober di Netflix, Hadir dengan Kru Baru
-
The Disciple Tayang 16 Oktober di Netflix, Album Rahasia Wu-Tang Terungkap
Ulasan
-
Review Novel Burung-Burung Manyar: Saat Perang dan Sejarah Merenggut Tempat Kita Pulang
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini
-
Kenanga: Ketika Adat Bali Mengikat Cinta dan Membatasi Kebebasan Perempuan
-
Lebih dari Sekadar Hujan Peluru, One Last Shot Tutup Trilogi dengan Penuh Haru
-
Nyawa Baru di Balik 'Risalah Hati' Yura yang Bikin Pendengar Ikut Galau
Terkini
-
Terjebak FYP Sampai Jam 1 Pagi? Ini Alasan Otakmu Gagal Berhenti Scrolling
-
Tujuh Hari Sebelum Aku Menghilang
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tidak Semua Luka Terlihat, Ini Pentingnya Menjadi Pendengar Tanpa Menghakimi
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan