Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
You Are The Apple of My Eye (Instagram/kimdahyun_updates)
Dian Haerani

Kamu pasti pernah sesekali mengingat seseorang dari masa sekolah yang dulu pernah membuat hari-harimu terasa lebih menyenangkan. Seseorang yang kehadirannya mungkin terlihat biasa saja bagi orang lain, tetapi entah bagaimana selalu berhasil membuatmu tersenyum sendiri.

Lucunya, saat masih muda, kita sering kali tidak benar-benar memahami perasaan sendiri. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam bersama seseorang, saling menggoda, mencari perhatian, bahkan merasa cemburu, tetapi justru kesulitan mengakui bahwa kita menyukainya.

Hal-hal sederhana seperti itulah yang coba dihadirkan dalam You Are the Apple of My Eye (2024), film romansa Korea Selatan yang dibintangi Jung Jin-young dan Dahyun TWICE. Film garapan Cho Young-myoung ini merupakan adaptasi Korea dari film Taiwan berjudul sama yang dirilis pada 2011.

Cerita berpusat pada Koo Jin-woo, seorang siswa SMA yang cukup nakal, suka bercanda, dan tidak terlalu memedulikan pelajaran. Berbeda dengannya, Oh Seon-ah adalah siswi teladan yang cerdas, cantik, dan dikagumi banyak siswa di sekolahnya.

Jin-woo dan teman-temannya sama-sama mengagumi Seon-ah. Namun, Jin-woo selalu berusaha menyangkal ketertarikannya. Sampai suatu ketika, sebuah kejadian membuat mereka harus duduk berdekatan dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama.

Dari sinilah hubungan mereka perlahan berkembang. Seon-ah membantu Jin-woo dalam pelajaran, sementara Jin-woo mulai melihat sisi lain Seon-ah yang tidak selalu bisa dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Keduanya tumbuh semakin dekat, tetapi seperti kisah cinta pertama pada umumnya, mengakui perasaan ternyata jauh lebih sulit daripada sekadar merasakannya.

Film ini mengingatkan kita pada masa ketika jatuh cinta tidak harus dimulai dengan percakapan serius tentang hubungan. Terkadang, semuanya berawal dari saling mengejek di kelas, sengaja mencari alasan untuk berbicara, atau diam-diam memperhatikan seseorang yang bahkan belum tentu menyadari keberadaan kita.

Dan menurut saya, bagian paling menarik dari kisah Jin-woo dan Seon-ah adalah bagaimana keduanya memperlihatkan sisi cinta pertama yang begitu dekat dengan kehidupan nyata.

Ketika masih sekolah, kita sering menganggap cinta sebagai sesuatu yang sederhana. Kalau suka, ya ingin selalu dekat. Kalau rindu, ingin bertemu. Kalau cemburu, ingin tahu siapa orang yang sedang membuat kita merasa tersaingi. Namun, ketika perasaan itu benar-benar hadir, semuanya tidak sesederhana yang dibayangkan.

Ada gengsi yang membuat kita enggan mengakui perasaan. Ada ketakutan bahwa persahabatan akan berubah setelah sebuah pengakuan. Ada pula kekhawatiran bahwa orang yang kita sukai ternyata tidak memiliki perasaan yang sama.

Akhirnya, kita memilih bercanda daripada berbicara jujur.  Klise memang. Tapi kita sering kali lupa bahwa tidak semua orang bisa membaca apa yang ada di dalam kepala kita.

Jin-woo sendiri bukan karakter yang langsung terasa romantis sejak awal. Sikapnya yang kekanak-kanakan terkadang membuat kita gemas, tetapi di balik itu ada seorang remaja yang masih berusaha memahami dirinya sendiri. Kehadiran Seon-ah perlahan membuatnya melihat kehidupan dari sudut pandang berbeda.

Sementara itu, Seon-ah juga bukan sekadar gadis sempurna yang menjadi objek kekaguman banyak orang. Hubungannya dengan Jin-woo memberinya ruang untuk menunjukkan sisi dirinya yang lebih personal. Saya sangat menyukai bagaimana kedekatan mereka tidak hanya dibangun melalui momen romantis, tetapi juga lewat perbedaan kepribadian. 

Meski begitu, menurut saya film ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru bagi penonton. Alurnya cukup familiar, beberapa bagian terasa mudah ditebak, dan nostalgia masa sekolah menjadi salah satu daya tarik utamanya.

Namun, ada hal yang membuat kisah ini tetap menarik, film ini tidak hanya berbicara tentang bagaimana cinta pertama dimulai, tetapi juga tentang bagaimana perasaan itu berubah seiring berjalannya waktu.

Sebab, semakin dewasa kita semakin menyadari bahwa menyukai seseorang tidak otomatis membuat kita siap menjalani hubungan dengannya. Ada impian yang ingin dikejar, pilihan yang harus diambil, dan masa depan yang belum tentu membawa dua orang ke arah yang sama.

Kita mungkin tidak lagi mengingat setiap percakapan yang pernah terjadi. Kita mungkin sudah lupa detail hari-hari ketika masih duduk di bangku sekolah. Namun, perasaan yang pernah muncul saat bersama seseorang bisa tetap tinggal sebagai bagian dari perjalanan hidup.

Pada akhirnya, You Are the Apple of My Eye adalah film yang cocok untuk siapa saja yang ingin bernostalgia dan mengingat kembali bagaimana rasanya menyukai seseorang untuk pertama kalinya. Film ini berhasil mengingatkan kita bahwa pengalaman sederhana pun bisa meninggalkan kenangan yang begitu berarti.

Karena terkadang, orang yang paling kita ingat bukanlah orang yang akhirnya bersama kita, melainkan seseorang yang pernah membuat kita merasakan cinta dengan cara yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Dan kalau suatu hari kita kembali mengingatnya, mungkin yang tersisa bukan lagi penyesalan karena tidak berakhir bersama, melainkan rasa syukur karena pernah dipertemukan.

Sebab tidak semua cinta pertama harus menjadi cinta terakhir. Ada yang cukup menjadi kenangan, lalu diam-diam mengajarkan kita cara mencintai dan bertumbuh menjadi diri sendiri.