Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
He's Just Not That Into You (IMDb)
Tarassa Q.

He's Just Not That Into You merupakan film komedi romantis dengan sentuhan drama yang dirilis pada 2009. Disutradarai oleh Ken Kwapis, film ini diadaptasi dari buku panduan hubungan asmara karya Greg Behrendt dan Liz Tuccillo yang terbit pada 2004. Deretan aktor ternama turut meramaikan film ini, di antaranya Ben Affleck, Jennifer Aniston, Drew Barrymore, Jennifer Connelly, Kevin Connolly, Bradley Cooper, Ginnifer Goodwin, Scarlett Johansson, dan Justin Long. Penonton juga dapat menyaksikan film ini melalui Netflix.

Antara Harapan dan Kenyataan

He's Just Not That Into You (IMDb)

Alih-alih berfokus pada satu pasangan, film ini menghadirkan sejumlah karakter dengan persoalan cinta yang saling berkaitan. Mulai dari cinta bertepuk sebelah tangan, perselingkuhan, perbedaan pandangan tentang pernikahan, hingga kesulitan mencari pasangan di era digital, semuanya menggambarkan rumitnya hubungan antarmanusia.

Gigi (Ginnifer Goodwin) merupakan perempuan yang mendambakan cinta sejati. Sayangnya, ia kerap menganggap perhatian kecil dari seorang pria sebagai pertanda ketertarikan romantis. Kebiasaannya menafsirkan sikap laki-laki secara berlebihan membuat kehidupan asmaranya dipenuhi harapan yang belum tentu sesuai kenyataan.

Di tengah kebingungannya, Gigi berteman dengan Alex (Justin Long), pemilik bar yang memiliki pandangan realistis mengenai hubungan. Alex tidak segan mengingatkan Gigi bahwa pria yang tidak menghubunginya atau menunjukkan ketertarikan secara jelas kemungkinan memang tidak menginginkannya. Namun, hubungan pertemanan mereka perlahan berkembang menjadi sesuatu yang berbeda. Setelah menyadari ketulusan Gigi, Alex justru jatuh cinta kepadanya dan akhirnya mengungkapkan perasaannya secara langsung.

Sebelum itu, Gigi sempat menaruh hati kepada Conor (Kevin Connolly), seorang agen properti. Kisah ini memperlihatkan bagaimana seseorang bisa terjebak dalam harapan ketika perasaannya tidak mendapatkan respons yang sepadan.

Di sisi lain, Conor memiliki perasaan mendalam terhadap Anna (Scarlett Johansson), instruktur yoga yang juga ingin mengembangkan karier sebagai penyanyi. Namun, Anna lebih menyukai hubungan tanpa ikatan serius. Situasi semakin rumit ketika ia menjalin hubungan terlarang dengan Ben (Ben Affleck), pria yang telah beristri.

Kisah mereka menunjukkan bahwa ketertarikan fisik dan keinginan untuk bersama tidak selalu berarti seseorang siap membangun hubungan yang sehat. Ketika keinginan pribadi mengabaikan komitmen, orang lain pun berisiko menanggung akibatnya.

Di mata orang lain, rumah tangga Ben dan Janine (Jennifer Connelly) terlihat baik-baik saja. Namun, Janine cenderung ingin mengendalikan banyak hal, termasuk urusan renovasi rumah mereka. Di balik rutinitas tersebut, terdapat persoalan yang jauh lebih serius: Ben berselingkuh dengan Anna.

Ketika perselingkuhan itu terungkap, Janine harus menghadapi kenyataan pahit bahwa pernikahannya tidak seindah yang dibayangkan. Ia akhirnya memilih berpisah dari Ben dan berusaha menemukan kembali jati diri serta kedamaian hidupnya. Cerita ini menegaskan bahwa mempertahankan hubungan bukanlah pilihan terbaik jika kepercayaan telah dihancurkan.

Sementara itu, Neil (Bradley Cooper) dan Beth (Jennifer Aniston) telah berpacaran selama tujuh tahun. Beth menginginkan pernikahan sebagai langkah selanjutnya, sedangkan Neil merasa bahwa cinta tidak harus dibuktikan melalui ikatan resmi. Perbedaan prinsip tersebut semakin terasa ketika adik Beth melangsungkan pernikahan.

Merasa keinginannya tidak pernah dipenuhi, Beth akhirnya memutuskan hubungan mereka. Perpisahan itu membuat Neil menyadari bahwa kebahagiaan Beth lebih berarti daripada mempertahankan prinsipnya semata. Ia kemudian melamar Beth, dan keduanya kembali bersama. Kisah ini menggambarkan pentingnya memahami kebutuhan pasangan dan mempertimbangkan kompromi dalam hubungan.

Terakhir, Mary (Drew Barrymore), seorang pekerja di bidang periklanan, mencoba menemukan pasangan melalui situs kencan dan berbagai platform sosial. Akan tetapi, komunikasi melalui teknologi sering kali tidak memberikan hasil seperti yang diharapkannya. Pengalaman tersebut membuat Mary menyadari bahwa pencarian cinta tidak harus menjadi prioritas yang mendominasi hidupnya. Ia mulai menerima keadaan dan menikmati kehidupannya sendiri.

Pelajaran tentang Cinta dan Harga Diri

He's Just Not That Into You (IMDb)

Saya tertarik menonton film ini setelah cuplikannya tiba-tiba muncul di media sosial dan melihat banyak orang membicarakannya. Perlu diperhatikan bahwa film ini mengandung sejumlah adegan dewasa sehingga lebih sesuai untuk penonton berusia 18 tahun ke atas.

Pada awal film, saya sempat kesulitan mengikuti alurnya karena begitu banyak karakter yang diperkenalkan. Namun, seiring berjalannya cerita, saya memahami bahwa setiap tokoh memiliki persoalan asmara yang kompleks dan saling terhubung. Masing-masing menghadirkan sudut pandang berbeda tentang cinta, komitmen, pengkhianatan, dan ekspektasi.

Hal yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana film ini memperlihatkan bahwa persoalan cinta terkadang terasa rumit bukan karena perasaannya sulit dipahami, melainkan karena seseorang enggan menerima kenyataan. Kita sering mencari pembenaran atas sikap orang lain hanya karena berharap perasaan kita berbalas.

Pesan utama film ini cukup sederhana, yaitu ketertarikan yang tulus seharusnya tidak membuat seseorang terus-menerus menebak-nebak. Apabila kita selalu mempertanyakan perasaan seseorang, menunggu pesan yang tak kunjung datang, atau mencari alasan untuk membenarkan sikapnya, mungkin sudah waktunya berhenti berharap terlalu jauh.

Film ini juga mengingatkan kita agar tidak menggantungkan harapan pada kemungkinan langka bahwa seseorang akan berubah demi kita. Ketika seseorang benar-benar ingin menjalin hubungan, ia semestinya bersedia menunjukkan niat melalui tindakan yang nyata, bukan sekadar memberikan isyarat yang membingungkan.

Selain itu, waktu dan harga diri merupakan hal yang patut dijaga. Terus bertahan dalam hubungan yang tidak memberikan kepastian dapat menghalangi kita menemukan seseorang yang mampu menghargai perasaan kita. Menjalani hidup sendiri dengan bahagia tentu lebih baik daripada mempertahankan hubungan yang dipenuhi ketidakjelasan atau pengkhianatan.

Secara keseluruhan, He's Just Not That Into You menawarkan gambaran tentang berbagai dinamika hubungan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun jumlah karakternya cukup banyak sehingga membutuhkan waktu untuk memahami keterkaitan cerita, setiap kisah menyimpan pelajaran tersendiri mengenai ekspektasi, komunikasi, kesetiaan, dan penerimaan diri.

Bagi saya, film ini bukan sekadar hiburan romantis, melainkan pengingat bahwa kita tidak perlu mengejar seseorang sampai melupakan nilai diri sendiri. Cinta memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan, tetapi kita tetap berhak mendapatkan hubungan yang sehat dan saling menghargai. Rating pribadi 7/10 dari saya. Film ini layak ditonton, terutama bagi mereka yang ingin melihat persoalan asmara dari berbagai sudut pandang dan belajar membedakan harapan pribadi dari kenyataan.