Lintang Siltya Utami | Ukhro Wiyah
Four Hands, Two Sonatas (IMDb)
Ukhro Wiyah

Salah satu persaingan yang nggak mudah untuk dihadapi adalah persaingan dengan orang terdekat kita sendiri. Sayangnya, itulah yang harus dialami Kang Pi-o dan Choi Jeong-yo di drama Four Hands, Two Sonatas. Kedua karakter tersebut sebenarnya sama-sama tulus dan saling menyayangi sebagai sahabat. Namun, di saat yang sama, ada keadaan yang memaksa Pi-o memandang Jeong-yo sebagai rivalnya. Sehingga berbagai dinamika konflik dalam persahabatan mereka pun muncul tanpa bisa dihindari.

Jadi, drama ini bercerita tentang Kang Pi-o (Song Kang), jenius piano yang sudah menjuarai banyak sekali kompetisi. Tapi sayangnya, semua usaha yang dia lakukan tak pernah dihargai oleh sang kakek yang merupakan seorang konduktor legendaris. Hal itu membuat Pi-o tumbuh menjadi pribadi yang sangat perfeksionis dalam bermain piano, haus akan pengakuan, sekaligus penuh dengan luka batin dan rasa kesepian mendalam pada dirinya.

Di sisi lain, ada Choi Jeong-yo (diperankan oleh Lee Jun-young). Dalam hal hidup, ia tidak seberuntung Pio yang memiliki keluarga kaya raya. Sejak ibunya meninggal dunia, Jeong-yo harus hidup bersama dengan ayahnya yang alkoholik dan punya banyak hutang. Ia memiliki bakat alami sebagai pianis yang bisa memainkan musik dengan penuh perasaan, hanya saja bakat itu terpaksa sempat ia kubur dalam-dalam karena trauma dan kondisi ekonominya yang kurang memungkinkan.

Karena suatu peristiwa, Jeong-yo akhirnya harus pindah ke sekolah yang sama dengan Pi-o dan kembali bermain piano. Di sanalah, ia kembali bertemu dengan Pi-o yang merupakan sahabat sekaligus rival kompetisi di masa kecilnya. Pertemuan itu membawa mereka pada hubungan persahabatan yang penuh dengan persaingan ketat, perasaan saling peduli, juga kekaguman sebagai sesama pianis berbakat.

Ulasan Four Hands, Two Sonatas

Sejak episode pertama, drama Four Hands, Two Sonatas sudah menunjukkan daya tariknya melalui chemistry dua karakter utama yang sangat kuat. Sementara itu, kehadiran tokoh utama wanita, yaitu Hong Jae-in (Jang Gyu-ri), pemain viola dengan kepekaan pendengaran tajam yang sekaligus memainkan peran sebagai penengah emosi cerita dan sosok yang selalu mendukung serta mencintai Kang Pi-o juga membuat alur drama ini semakin terasa hidup. Dengan chemistry mereka yang begitu solid inilah, Four Hands, Two Sonatas menjadi salah satu drama yang sukses bikin penonton susah move on.

Kelebihan lain dari drama ini adalah alunan musik klasiknya yang berkualitas. Permainan piano dua karakter utama sukses menambah daya tarik drama Four Hands, Two Sonatas. Musik Danse Macabre karya Saint Saens yang menjadi intro di setiap episode juga berhasil membuat penonton betah dan ingin terus menontonnya. Setelah menonton Four Hands, Two Sonatas, saya bahkan beberapa kali memutar musik tersebut karena iramanya yang masih begitu membekas di pikiran.

Sayangnya, di balik semua kekuatan yang dimiliki drama ini, banyak penonton menilai adanya ketimpangan porsi cerita antara Kang Pi-o dan Choi Jeong-yo. Di mana dari keseluruhan episode, alur yang ditampilkan cenderung lebih condong ke karakter Kang Pi-o. Sementara banyak bagian Jeong-yo yang tidak diceritakan secara mendetail.

Meskipun demikian, Four Hands, Two Sonatas tetap berhasil menyampaikan pesannya. Dari drama ini, kita belajar bahwa kesuksesan yang besar sering kali lahir dari kolaborasi, bukan persaingan yang saling menjatuhkan. Sesuai dengan judulnya yang juga merupakan salah satu teknik permainan piano dengan dua orang bermain di satu piano yang sama, Kang Pi-o dengan karakternya yang perfeksionis harus belajar menekan egonya dan menyelaraskan nada dengan Jeong-yo yang lebih berjiwa bebas.

Melalui karakter utamanya, Four Hands, Two Sonatas juga mengingatkan bahwa bakat tanpa ketekunan tidaklah cukup untuk membuat seseorang bisa meraih kesuksesan. Di tengah keadaan yang tidak mudah bagi mereka, pada akhirnya tokoh utama berhasil menghadapi tantangan masing-masing dengan keberanian mereka untuk bangkit dan mengasah potensinya kembali. Sementara kehadiran sahabat sebagai support system dan pendengar yang baik di drama ini pun mengajarkan kita tentang pentingnya komunikasi dan kejujuran emosional agar terhindar dari kesalahpahaman yang terus berlarut.

Kalau Sobat Yoursay menyukai drama tentang persahabatan, persaingan, dan perjuangan meraih mimpi dengan iringan musik klasik yang memikat, Four Hands, Two Sonatas bisa banget menjadi pilihan tontonan untuk masuk watchlist kalian selanjutnya. Meski porsi cerita kedua karakter utamanya terasa kurang seimbang, drama ini tetap menawarkan pesan menarik tentang belajar menekan ego, menghargai potensi orang lain, dan menemukan harmoni melalui kolaborasi.