Ahmad Tohari dikenal sebagai penulis yang kerap menghadirkan persoalan kehidupan masyarakat kecil melalui cerita yang sederhana, tetapi sarat kritik sosial.
Salah satu karyanya adalah Di Kaki Bukit Cibalak, novel setebal 176 halaman yang membawa pembaca menyaksikan pertarungan antara kejujuran dan kekuasaan di sebuah desa pada dekade 1970-an.
Melalui tokoh Pambudi, Ahmad Tohari memperlihatkan bahwa mempertahankan prinsip tidak selalu mudah ketika seseorang harus berhadapan dengan kepentingan penguasa.
Kisah ini berpusat di Desa Tanggir, wilayah yang berada di sekitar Bukit Cibalak. Desa tersebut sedang mengalami perubahan akibat masuknya berbagai unsur modern. Pekerjaan yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia dan hewan perlahan mulai digantikan mesin.
Kilang padi dan traktor mulai mengambil tempat peralatan tradisional, sedangkan sapi serta kerbau yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat mulai banyak diperjualbelikan.
Di tengah perubahan tersebut, muncul persoalan politik desa. Pemilihan lurah yang seharusnya menjadi sarana memilih pemimpin justru berlangsung dengan praktik-praktik yang tidak sehat.
Pak Dirga akhirnya menduduki posisi tersebut melalui proses yang penuh kecurangan. Setelah berkuasa, ia tidak menggunakan jabatannya sebagaimana mestinya. Fasilitas yang seharusnya diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
Pambudi menjadi salah satu orang yang berani mempertanyakan tindakan tersebut. Sebagai pekerja koperasi desa, ia memiliki prinsip yang kuat dan tidak mudah berkompromi dengan penyimpangan.
Kepeduliannya terhadap warga juga terlihat ketika ia membantu seorang masyarakat miskin mendapatkan pengobatan melalui pemberitaan di media lokal. Tindakannya membuat Pambudi memperoleh kepercayaan dari warga, tetapi sekaligus membuat dirinya dianggap sebagai ancaman oleh pihak yang memiliki kepentingan.
Pak Dirga kemudian menggunakan fitnah untuk menjatuhkan Pambudi. Ia dituduh melakukan penyalahgunaan uang koperasi, meskipun tuduhan tersebut tidak benar. Alih-alih membalas dengan tindakan serupa, Pambudi memilih meninggalkan Tanggir setelah mempertimbangkan nasihat orang tuanya. Ia kemudian menuju Yogyakarta dan bekerja di sebuah toko milik kawannya.
Kepergian itu ternyata bukan berarti Pambudi berhenti memperjuangkan kebenaran. Dari kota, ia tetap menyuarakan persoalan yang terjadi di desanya melalui tulisan-tulisan di media massa. Upaya tersebut akhirnya membantu membuka berbagai keburukan dan praktik curang yang dilakukan Pak Dirga. Namun, perjuangan tersebut juga membawa konsekuensi dalam kehidupan pribadinya. Pambudi harus merelakan perempuan yang dicintainya di desa, sebelum kemudian membuka lembaran baru bersama putri pemilik toko tempat ia bekerja.
Membaca novel ini membuat saya beberapa kali merasa seperti sedang melihat persoalan yang masih dapat ditemukan dalam kehidupan Indonesia sekarang. Meski latarnya berasal dari masa lalu, konflik mengenai kekuasaan, kepentingan pribadi, ketidakadilan, dan keberanian menyuarakan kebenaran terasa tidak asing. Dari perjalanan Pambudi, saya semakin memahami bahwa kejujuran dan integritas tetap penting, bahkan ketika keduanya membuat seseorang berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.
Saya juga menangkap pesan bahwa mundur dari sebuah pertikaian tidak selalu berarti menyerah. Keputusan Pambudi untuk pergi menunjukkan bahwa terkadang seseorang perlu menahan emosi, menjaga kejernihan berpikir, dan memilih jalan yang lebih panjang untuk mencapai tujuan. Novel ini sekaligus mengingatkan bahwa pemimpin seharusnya hadir untuk melindungi masyarakat, bukan menggunakan kekuasaan demi kepentingan sendiri.
Selain itu, kisah Pambudi memperlihatkan nilai pendidikan, kepedulian sosial, dan keberanian berpikir kritis. Belajar dapat menjadi jalan untuk memperluas kesempatan, sementara kepedulian membuat seseorang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Di Kaki Bukit Cibalak pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang konflik di sebuah desa, melainkan pengingat bahwa perubahan sosial membutuhkan orang-orang yang bersedia mempertahankan kebenaran, sekalipun jalannya tidak selalu mudah.
Identitas Buku
Judul: Di Kaki Bukit Cibalak
Penulis: Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020305134
Baca Juga
-
Ulasan Trisurya: Ketika Manusia Berhadapan dengan Ancaman dari Luar Bumi
-
Ulasan Lotus Taxi: Perjalanan Malam yang Membawa Luka ke Permukaan
-
He's Just Not That Into You: Kisah Cinta yang Mengajarkan Arti Kepastian
-
Review Film Colony: Teror Zombi Cerdas dengan Naluri Koloni Semut
-
Four Hands, Two Sonatas: Persaingan, Persahabatan, dan Ambisi Meraih Mimpi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Percikan Darah di Bunga Karya Arafat Nur: Cinta Tumbuh di Tengah Perang
-
Review Film The Uprising: Drama Sejarah Epik Paul Greengrass yang Memukau
-
Ted Lasso Season 4: Menghadirkan Pesan Kehidupan di Balik Taktik Lapangan
-
Mengenal "Venus" Lewat Buku Anak yang Cerdas, Lucu, dan Menghibur
-
Lebih dari Sekadar Warung Sembako: Arti Kebersamaan di Novel Warung Bujang
Terkini
-
Revisi UU Kehutanan Sekadar Tambal Sulam: Siapa yang Sebenarnya Dilindungi?
-
Efisiensi Anggaran Kesehatan Jangan Membuat Pasien BPJS Kehilangan Obat
-
Belajar Menikmati Hari Biasa, Menerima Bahwa Tidak Semua Hari Itu Istimewa
-
Keigo Shinzo Umumkan Manga Hirayasumi Berakhir dalam 2 Bab Lagi
-
Iris Out jadi Lagu Anime Pertama Masuk Pertimbangan Grammy Awards 2027