Coyote vs. Acme merupakan film hibrida live-action dan animasi yang menghadirkan Wile E. Coyote dalam peran yang jarang digarap secara serius: menggugat Acme Corporation atas produk-produknya yang terus-menerus gagal. Disutradarai Dave Green dan ditulis Samy Burch, film ini dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 28 Agustus 2026 setelah perjalanan yang panjang dan nyaris berakhir sebagai proyek yang dibatalkan. Warner Bros. sempat menyimpan film yang sudah selesai pada 2023 untuk kepentingan penghapusan pajak, namun setelah protes publik dan industri, hak distribusi dibeli Ketchup Entertainment seharga sekitar 50 juta dolar AS. Hasilnya adalah karya yang mendapat pujian luas, dengan skor critic di atas 90 persen di Rotten Tomatoes dan penerimaan penonton yang sangat positif.
Saat Karakter Kartun Melawan Korporasi: Perjuangan Keadilan Wile E. Coyote
Sinopsisnya sederhana namun efektif. Setelah puluhan tahun gagal menangkap Road Runner karena perangkat Acme yang meledak, jatuh, atau berbalik menyerang dirinya sendiri, Wile E. Coyote memutuskan untuk menempuh jalur hukum. Ia menyewa Kevin Avery (Will Forte), pengacara cedera pribadi kecil-kecilan di Albuquerque yang biasa menyelesaikan kasus dengan penyelesaian di luar pengadilan. Bersama keponakannya Paige (Lana Condor) dan rekan-rekan di firma hukum sederhana, mereka menghadapi tim hukum Acme yang dipimpin Buddy Crane (John Cena) serta CEO perusahaan yang digambarkan sebagai Foghorn Leghorn. Dunia film ini menempatkan karakter Looney Tunes hidup berdampingan dengan manusia, menciptakan ruang bagi gag-gag klasik sekaligus satire terhadap korporasi, hukum, dan ketekunan yang nyaris obsesif.
Review Film Coyote vs. Acme
Will Forte memberikan penampilan yang hangat dan tepat sebagai pengacara yang awalnya hanya ingin menyelesaikan perkara dengan cepat, namun lambat laun terdorong oleh klien bisunya yang penuh ekspresi. John Cena berhasil membawa energi besar sebagai pengacara lawan yang karismatik sekaligus mengancam, sementara Lana Condor memberikan keseimbangan idealisme. Karakter-karakter animasi, disuarakan antara lain oleh Eric Bauza, Candi Milo, dan Jim Cummings, mempertahankan semangat klasik Chuck Jones dan Tex Avery tanpa merasa dipaksakan. Film ini berhasil menggabungkan humor visual fisik dengan dialog yang cerdas, serta sedikit lapisan emosi tentang kegagalan berulang dan perjuangan melawan sistem yang lebih besar. Durasi sekitar 103 menit terasa padat, dengan irama yang jarang mengendur.
Dari segi produksi, integrasi live-action dan animasi berjalan lancar, meski kualitas animasi tidak selalu mencapai puncak klasik. Kekuatan utamanya terletak pada penghormatan terhadap warisan Looney Tunes sekaligus kemampuan memperluasnya ke dalam konteks kontemporer tanpa kehilangan kelucuan absurditas. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh tema tentang ketekunan, keadilan, dan ironi sebuah perusahaan yang menjual produk berbahaya sambil mengklaim nilai keluarga.
Mengenai ketersediaan streaming di Apple TV wilayah Indonesia, film ini telah tersedia untuk disewa atau dibeli secara digital (premium video on demand) di pasar utama seperti Amerika Serikat sejak 29 September 2026 melalui Apple TV, Amazon Prime Video, dan platform sejenis. Hingga awal Oktober 2026, informasi resmi mengenai ketersediaan spesifik di Apple TV Indonesia masih terbatas. Rilis digital sering kali bergulir secara regional dengan jeda waktu. Disarankan untuk memeriksa langsung aplikasi Apple TV atau toko digital setempat, karena ketersediaan dapat berubah sewaktu-waktu. Kemungkinan besar film ini akan tetap dalam format sewa atau beli terlebih dahulu sebelum berpindah ke platform langganan di kemudian hari.
Salah satu adegan paling kocak terjadi di ruang sidang, ketika Wile E. Coyote—yang tidak berbicara—menyampaikan kesaksian melalui rangkaian ekspresi wajah dan gestur tubuh yang ekstrem, sementara produk-produk Acme yang gagal dipamerkan sebagai barang bukti. Reaksi hakim dan pengacara lawan terhadap serangkaian gag visual klasik menciptakan tawa yang bertubi-tubi, terutama saat perangkat sederhana berubah menjadi bencana berantai di dalam ruang pengadilan yang seharusnya formal. Adegan ini berhasil menggabungkan timing komedi fisik Looney Tunes dengan reaksi live-action yang jujur dan natural.
Adegan paling absurd muncul ketika plot melibatkan usaha menghentikan kesaksian Coyote dengan cara yang sangat berlebihan, termasuk penggunaan perangkat Acme yang melibatkan karakter seperti Tweety dalam situasi yang sama sekali tidak masuk akal di lingkungan resmi. Kontras antara dunia kartun yang penuh kemungkinan mustahil dengan setting hukum dan politik nyata menghasilkan momen yang gila sekaligus menggelikan. Foghorn Leghorn sebagai pemimpin korporasi yang sombong dan mengancam juga menambah lapisan absurditas yang konsisten dengan semangat original.
Secara keseluruhan, Coyote vs. Acme adalah kemenangan bagi penonton yang menghargai komedi visual cerdas dan semangat underdog. Film ini membuktikan bahwa warisan klasik masih relevan bila diolah dengan rasa hormat dan keberanian. Bagi penggemar Looney Tunes maupun penikmat komedi keluarga yang cerdas, ini merupakan tontonan yang layak dinantikan di layar digital.
Rating pribadi: 8/10.
Baca Juga
-
Review Film Idiots: Cerita Seru Dua Pria Mengawal Remaja Penuh Masalah!
-
Review Film The Uprising: Drama Sejarah Epik Paul Greengrass yang Memukau
-
Ted Lasso Season 4: Menghadirkan Pesan Kehidupan di Balik Taktik Lapangan
-
Ulasan Cidro Asmoro: Drama Komedi Musikal yang Sangat Menyentuh dan Lucu
-
The Rivals of Amziah King: Balas Dendam Tragis Peternak Lebah di Oklahoma
Artikel Terkait
-
Review Film Crawlers: Aksi Matilda Lutz Melawan Invasi Ribuan Laba-Laba!
-
Review Other Mommy: Saat Horor Mencekam Dirusak oleh Jumpscare Murahan
-
Lebih dari Sekadar Hujan Peluru, One Last Shot Tutup Trilogi dengan Penuh Haru
-
Review Film Fall (2022): Saat Ketinggian Ekstrem Membongkar Rahasia dan Trauma Terkelam
-
Menilik Makna Kepemimpinan di Captain America: Brave New World, Sudah Tayang di Disney+!
Ulasan
-
5 Keunikan Novel The Great Gatsby, Diceritakan dari Sudut Pandang Tetangga
-
Bukan Sekadar Menang, Ini Pesan Persahabatan dalam "Two Turtles"
-
Review The Pet Cemetery Murders: Hantu, Pembunuhan, dan Sejarah yang Kelam
-
A Good Day to Be a Dog: Jatuh Cinta Berarti Belajar Menghadapi Ketakutan
-
Ulasan In Teachers We Trust: Ketika Kepercayaan Menjadi Fondasi Pendidikan
Terkini
-
Gandeng Yoo Young-jin dan Sunny SNSD, Ini Gebrakan Baru Lee Soo Man Lewat Agensi A2O Entertainment
-
Tak Perlu Server Cloud, Mini PC Asus Ini Bisa Jalankan AI Lokal!
-
4 Ide OOTD Casual Chic ala Kim Young Kwang, Cocok buat Cowok Anti-Ribet
-
Batas Tipis Jaga Mental Health dan Hilang Empati, Kapan Self-Care Berubah Jadi Masalah?
-
Bukan Wajib Militer, Negara Justru Lebih Butuh Hacker dan Praktisi IT Buat Jadi 'Komcad'