Superhero biasanya dimunculkan dengan ledakan, kostum mencolok, dan pertarungan yang sanggup menghancurkan separuh kota. Lanterns justru berbeda. Serial DC ini membawa dua penjaga antargalaksi ke sebuah kasus pembunuhan di pedalaman Amerika, seolah-olah ancaman terbesar bagi alam semesta bisa bersembunyi di tempat yang kelihatannya biasa saja.
Lanterns merupakan serial drama HBO dan HBO Max yang diproduksi bersama Warner Bros. Television dan DC Studios, berdasarkan karakter komik Green Lantern terbitan DC. Chris Mundy, Damon Lindelof, dan Tom King menjadi kreatornya, sementara Mundy bertugas sebagai showrunner. James Hawes menyutradarai dua episode pertama, disusul Stephen Williams, Geeta Vasant Patel, dan Alik Sakharov.
Deretan pemainnya mencakup Kyle Chandler sebagai Hal Jordan, Aaron Pierre sebagai John Stewart, Kelly Macdonald, Garret Dillahunt, Poorna Jagannathan, Laura Linney, Jason Ritter, Ulrich Thomsen, Nathan Fillion, J. Alphonse Nicholson, dan Jasmine Cephas Jones.
Serial Lanterns tayang perdana pada 16 Agustus 2026 dan menutup musim pertamanya pada 4 Oktober 2026, dengan total delapan episode yang dirilis secara mingguan melalui HBO dan HBO Max.
Cerita Lanterns berpusat pada John Stewart (Aaron Pierre), rekrutan Green Lantern yang tengah menjalani perjalanan bersama Hal Jordan (Kyle Chandler), seorang veteran yang menjadi mentor sekaligus rekannya. Kisahnya berubah menjadi penyelidikan pembunuhan ketika Hal ditemukan tewas di sebuah tribun stadion sekolah, dengan cincin Green Lantern yang menghilang dari tubuhnya.
John kemudian terlibat dalam upaya mengungkap penyebab kematian Hal dan mencari tahu siapa yang berada di balik kejadian tersebut. Penyelidikan itu membawa John berhadapan dengan berbagai petunjuk, rahasia, dan konflik yang membuat kasus tersebut jauh lebih rumit dari pembunuhan biasa. Di tengah suasana pedalaman Amerika yang terasa ganjil, misteri kematian Hal menjadi benang merah yang menghubungkan drama kriminal dengan mitologi Green Lantern.
Keberanian Menggeser Pusat Perhatian dari Perrtarungan Kosmik Menuju Pnyelidikan yang Lebih Membumi
Yup, penonton diajak mengikuti petunjuk, membaca perilaku tokoh, dan mencurigai hal-hal yang tampak sepele. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi ketegangan untuk tumbuh melalui percakapan dan rahasia, bukan sekadar adu kekuatan. Di sisi lain, penggemar Green Lantern yang mengharapkan aksi spektakuler agaknya merasa sajian ini bergerak terlalu pelan.
Pilihan menjadikan Hal Jordan dan John Stewart sebagai pusat cerita juga membuka peluang drama karakter yang menarik. Hal membawa pengalaman, sedangkan John berada dalam posisi belajar sekaligus membangun identitasnya sendiri. Hubungan keduanya jadi lebih hidup ketika konflik profesional berkelindan dengan persoalan kepercayaan. Sayangnya, konsep mentor dan murid hanya terasa kuat apabila perkembangan karakter berjalan seimbang dengan misteri utama, bukan sekadar menjadi penghubung antarkasus.
Misteri pembunuhan memang menawarkan ketegangan, tapi Lanterns seharusnya memberi warna yang sulit ditiru serial kriminal biasa. Unsur kosmik, kekuatan cincin, dan tanggung jawab menjaga kehidupan perlu memiliki pengaruh nyata terhadap konflik.
Bisa dikatakan, Lanterns menawarkan pendekatan yang berani untuk memperluas cara bercerita tentang superhero. Perpaduan investigasi kriminal dan konflik antargenerasi menghasilkan drama yang lebih dewasa. Lebih uniknya lagi terletak pada keseimbangan: misteri harus memikat, jelas Lanterns berhasil menyajikan dengan memikat. Krakter perlu berkembang, tentunya yang dilakukan Lanterns berhasil bikin penonton percaya tiap karakternya berhasil dikembangkan. Dan tentu saja, Green Lantern tetap terasa meski tanpa aksi spektakuler.
Terlepas dari berhasilnya Lanterns, para superhero saja jelas belum cukup untuk lebih bersinar tanpa adanya penonton, termasuk tanpa adanya Sobat Yoursay yang mengukuti kisah ini sampai tamat. Tertarik mau nonton juga? Kamu bisa langsung cek HBO atau HBO Max, ya. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Review The Pet Cemetery Murders: Hantu, Pembunuhan, dan Sejarah yang Kelam
-
Review Love Story: Saat Nama Kennedy Terlalu Besar bagi Sebuah Cinta
-
Matchbox The Movie: Nostalgia Mainan Beradu dengan Ambisi Film Mata-Mata
-
Review Film Animals: Ketika Kursi Politik Lebih Berharga daripada Nyawa Anak Sendiri?
-
My Plastic Mother: Film Pendek tentang Duka Eki dan Krisis Sampah Indonesia
Artikel Terkait
-
Review The Pet Cemetery Murders: Hantu, Pembunuhan, dan Sejarah yang Kelam
-
Review Love Story: Saat Nama Kennedy Terlalu Besar bagi Sebuah Cinta
-
Ted Lasso Season 4: Menghadirkan Pesan Kehidupan di Balik Taktik Lapangan
-
Dinda Kirana Cerita soal Rasa Tak Dianggap yang Mengubah Diana di Serial Tante Sonya
-
Sinopsis Below, Serial Thriller tentang Teror Makhluk Laut Misterius
Ulasan
-
Samjin Company English Class: Perjuangan Naik Jabatan yang Tidak Biasa
-
Bikin Ngakak! Review Coyote vs. Acme: Saat Tokoh Kartun Looney Tunes Gugat Pabrik ke Pengadilan
-
5 Keunikan Novel The Great Gatsby, Diceritakan dari Sudut Pandang Tetangga
-
Bukan Sekadar Menang, Ini Pesan Persahabatan dalam "Two Turtles"
-
Review The Pet Cemetery Murders: Hantu, Pembunuhan, dan Sejarah yang Kelam
Terkini
-
A Dog's Perfect Christmas: Kisah Anjing Bantu Keluarga Pulih dari Duka
-
Gandeng Yoo Young-jin dan Sunny SNSD, Ini Gebrakan Baru Lee Soo Man Lewat Agensi A2O Entertainment
-
Tak Perlu Server Cloud, Mini PC Asus Ini Bisa Jalankan AI Lokal!
-
4 Ide OOTD Casual Chic ala Kim Young Kwang, Cocok buat Cowok Anti-Ribet
-
Batas Tipis Jaga Mental Health dan Hilang Empati, Kapan Self-Care Berubah Jadi Masalah?