Sekilas, Telepon Pohon karya Alison McGhee mungkin terlihat seperti bacaan anak yang sederhana dengan unsur fantasi di dalamnya. Namun, di balik cerita tentang pohon dan sebuah telepon misterius, buku ini menyimpan kisah emosional tentang kehilangan, persahabatan, kerinduan, serta perjalanan panjang untuk menerima kenyataan.
Ditujukan bagi pembaca middle grade, novel ini memperlihatkan bahwa pengalaman berduka bukan sesuatu yang hanya dipahami orang dewasa. Anak-anak pun dapat merasakan kehilangan dengan sangat dalam, meski cara mereka mengungkapkannya berbeda.
Cerita berpusat pada Ayla dan Kiri, dua sahabat yang sudah bersama sejak masih bayi. Keduanya memiliki kecintaan yang sama terhadap pepohonan. Di tempat mereka tinggal, terdapat kebiasaan menanam pohon setiap kali ada seseorang yang lahir ataupun meninggal. Pohon bahkan menjadi bagian penting dalam kehidupan Ayla dan Kiri.
Mereka mempunyai pohon kesayangan masing-masing yang sering menjadi tempat bermain dan menghabiskan waktu. Ketika masih kecil, keduanya bahkan pernah membayangkan dapat berubah menjadi pohon dan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Kehidupan Ayla berubah drastis menjelang ulang tahun Kiri yang kesebelas. Sebuah kecelakaan membuat Kiri pergi untuk selamanya. Bagi Ayla, kenyataan itu terlalu sulit untuk dipahami. Ia memilih bertahan dalam penyangkalan, seolah-olah dengan menunggu cukup lama, sahabatnya akan kembali. Setiap hari, Ayla berada di dekat pohon birch di depan rumahnya, menjaga benda-benda yang mengingatkannya pada Kiri dan percaya bahwa sahabatnya akan pulang tepat pada hari ulang tahunnya.
Kemudian, sesuatu yang tidak masuk akal muncul. Sebuah telepon tua tanpa kabel tiba-tiba tersangkut di dahan pohon Ayla. Tidak ada sambungan telepon di sana, tetapi benda tersebut dipercaya memiliki kemampuan istimewa. Warga sekitar mulai memanfaatkannya untuk berbicara kepada orang-orang yang telah meninggal. Mereka menyampaikan kerinduan, permintaan maaf, maupun kalimat yang dahulu tidak sempat disampaikan.
Ayla sendiri tidak langsung tertarik menggunakan telepon itu. Ia masih ingin percaya bahwa Kiri akan kembali sehingga tidak merasa perlu mengucapkan selamat tinggal. Dari sinilah perjalanan emosional Ayla menjadi bagian paling kuat dalam novel. Dengan kalimat-kalimat pendek dan sudut pandang yang dekat dengan pikiran seorang anak, McGhee menggambarkan kedukaan secara sederhana, tetapi justru terasa sangat nyata.
Saat pertama kali melihat buku setebal 208 halaman ini, saya sempat menduga ceritanya akan mengarah pada kisah remaja yang ringan, mungkin dengan sentuhan romansa dan berbagai momen menggemaskan. Dugaan itu ternyata cukup jauh dari isi sebenarnya. Setelah membacanya sampai selesai, saya justru menemukan cerita yang jauh lebih kuat tentang persahabatan dan bagaimana seseorang berusaha hidup berdampingan dengan rasa kehilangan.
Salah satu hal yang paling membekas adalah gagasan mengenai kata-kata yang belum pernah tersampaikan. Telepon ajaib tersebut menjadi ruang bagi seseorang untuk meluapkan perasaan yang selama ini tertahan. Meskipun tidak benar-benar mendapatkan jawaban dari orang yang telah pergi, mengucapkan isi hati ternyata dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi beban.
Novel ini juga menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai cara berbeda dalam menghadapi duka. Tidak ada batas waktu yang seragam untuk menerima kehilangan. Seseorang mungkin membutuhkan kesunyian, kenangan, atau sekadar tempat untuk menangis sebelum akhirnya mampu melanjutkan hidup.
Selain itu, pohon menjadi simbol yang indah mengenai kehidupan, kenangan, dan ikatan batin. Kehadiran seseorang memang dapat berakhir secara fisik, tetapi kasih sayang dan kenangan tentangnya tetap dapat tumbuh di dalam diri orang yang ditinggalkan. Kedekatan dengan alam pun memberikan ruang bagi Ayla untuk menemukan ketenangan dan perlahan memahami perubahan dalam hidupnya.
Pada akhirnya, Telepon Pohon bukan hanya cerita mengenai seorang anak yang kehilangan sahabat. Buku ini juga mengajak pembaca menghargai orang-orang yang masih berada di sekitar kita. Mengatakan sayang, menciptakan kenangan, dan tidak menunda percakapan penting mungkin terlihat sederhana, tetapi semuanya dapat menjadi hal yang sangat berarti ketika kesempatan itu tidak lagi tersedia.
Identitas Buku
Judul: Telepon Pohon (Telephone of the Tree)
Penulis: Alison McGhee
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020685649
Baca Juga
-
Ulasan In Teachers We Trust: Ketika Kepercayaan Menjadi Fondasi Pendidikan
-
Kolektor Kisah Unik Para Pelanggan Toko Buku Bekas: Ketika Buku Menyimpan Luka dan Kenangan
-
Belajar Memeluk Diri Sendiri Lewat Kupeluk Diriku Sendiri Sehangat Perhatianku untuk Orang Lain
-
Ulasan Di Kaki Bukit Cibalak: Ketika Kejujuran Berhadapan dengan Kekuasaan
-
Ulasan Trisurya: Ketika Manusia Berhadapan dengan Ancaman dari Luar Bumi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Take Charge of My Heart: Saat Setruman Listrik Jadi Pengisi Daya Cinta
-
Review Drama King of Comedy, Kelucuan Warga Dalam Mempertahankan Desa
-
Review Whalefall: Saat Penderitaan Manusia Menjadi Tontonan di Bioskop
-
Novel Anesthetized: Belajar Menyembuhkan Luka dari Bayang Masa Lalu
-
Review Lanterns: Saat Superhero Menyala Lewat Misteri Kriminal di Bumi
Terkini
-
Siap Jelajah Galaksi di HP? No Mans Sky Rilis 28 Oktober
-
Gugat Keseriusan Pemerintah di Balik Karhutla dan Hak Kesehatan Masyarakat
-
Pet Parents: Mengapa Banyak Lajang Urban Memilih Rawat Hewan?
-
Sinopsis Guarding Stars, Kisah Komedi Romantis antara Artis dan Pengawalnya
-
Manga OVERLORD: New World Hiatus Sementara, Ilustrator Jalani Perawatan