Forbidden Fruits (2026) merupakan film komedi-horor Amerika yang disutradarai Meredith Alloway dalam debut fiturnya, diadaptasi dari drama panggung Lily Houghton berjudul Of the woman came the beginning of sin, and through her we all die.
Film ini memadukan satire pertemanan perempuan, estetika mall kontemporer, dan elemen okultisme campy yang mengingatkan pada Mean Girls, The Craft, serta Jennifer’s Body. Dengan durasi 103 menit dan rating R, karya ini dirilis di bioskop Amerika Serikat pada 27 Maret 2026 setelah premiere di SXSW, lalu tersedia secara digital sekitar akhir April 2026.
Penguasa Kultus Manis yang Penuh Amarah
Kisah berpusat pada Free Eden, butik pakaian mewah di sebuah mal Dallas. Tiga karyawan glamor—Apple (Lili Reinhart), Cherry (Victoria Pedretti), dan Fig (Alexandra Shipp)—secara diam-diam menjalankan coven (lingkaran sihir) feminin di ruang bawah tanah toko setelah jam kerja. Mereka memanfaatkan pengaruh, ritual, dan hierarki ketat untuk menguasai lingkungan mal sekaligus saling mengontrol.
Kedatangan Pumpkin (Lola Tung), mantan pekerja toko pretzel yang berhasil bergabung, mengganggu keseimbangan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan Pumpkin tentang sisterhood yang performatif memaksa kelompok ini menghadapi racun internal, rahasia, dan konsekuensi berdarah.
Film mengeksplorasi dinamika kekuasaan dalam kelompok perempuan, bagaimana rasa memiliki bisa berubah menjadi kontrol, serta kontradiksi antara pemberdayaan dan eksploitasi di era konsumerisme. Setting mal yang klise dan agak suram memperkuat nuansa liminal serta kritik terhadap ruang publik yang semakin kosong.
Review Film Forbidden Fruits
Lili Reinhart sebagai Apple tampil dominan dan menakutkan sekaligus memikat; ia mewujudkan pemimpin yang karismatik namun manipulatif dengan presisi tinggi. Victoria Pedretti sebagai Cherry memberikan komedi yang tajam dan berkesan lewat karakter yang seolah naif namun penuh kontradiksi.
Alexandra Shipp membawa nuansa introspektif sebagai Fig, sementara Lola Tung sebagai Pumpkin berhasil menjadi katalis yang meyakinkan. Cameo dan peran pendukung, termasuk Emma Chamberlain dan Gabrielle Union, menambah warna tanpa mengalihkan fokus.
Alloway dan Houghton menulis dialog yang tajam, penuh slang Gen-Z, serta ironi yang pahit. Produksi visual menekankan busana, pencahayaan toko, serta ritual yang campuran estetika boho-chic dan gore. Hasilnya campy, kadang berantakan, namun memiliki energi yang khas.
Kekuatan utama terletak pada satire pertemanan dan kritik terhadap girlboss yang beracun. Film berhasil menggabungkan humor hitam dengan ketegangan horor tanpa terlalu serius. Akan tetapi, plot terasa tidak merata, klimaks gore-nya juga terasa terburu-buru, dan pesan temanya kadang kabur di balik estetika.
Menurut data yang kubaca di Skor Rotten Tomatoes film ini berada di kisaran 76% (rata-rata 6,6/10) dari puluhan ulasan, menandakan penerimaan yang umumnya positif namun tidak seragam; lain lagi di situs Metacritic yang menunjukkan skor campuran sekitar 56.
Hingga Oktober 2026, Forbidden Fruits tersedia untuk disewa atau dibeli di Apple TV Store di sejumlah wilayah, termasuk Indonesia yang tercantum dalam daftar ketersediaan platform digital. Kusarankan memeriksa langsung di aplikasi Apple TV dengan akun Indonesia untuk konfirmasi ketersediaan, harga, serta subtitle bahasa Indonesia atau Inggris.
Adegan pembuka yang paling kuingat terjadi di parkir mal: Apple melempar latte panas ke pangkuan pria yang berbuat tidak senonoh di mobil sebelah. Momen singkat ini segera menetapkan tone film—berani, agresif, dan penuh sikap—sambil memperkenalkan karakter Apple sebagai sosok yang tidak segan bertindak. Ritual di ruang ganti atau basement juga berkesan: kombinasi pengakuan dosa, konsumsi cairan ritual, dan dinamika kelompok menciptakan atmosfer yang aneh sekaligus memikat.
Bagian paling dramatis terjadi sewaktu perseteruan hebat meluap menjadi perkelahian fisik dan penyingkapan rahasia keluarga. Klimaks cerita diwarnai aksi kekerasan yang mendadak, gugurnya beberapa anggota, serta perselisihan sengit antara Apple dan Pumpkin yang mengungkapkan hubungan kekerabatan sekaligus motif di balik pembalasan dendam.
Adegan ini intens, penuh emosi terkendali yang berubah menjadi kekerasan, serta menutup film dengan rasa pahit mengenai harga dari loyalitas palsu. Meskipun beberapa penonton merasa gore-nya kurang digarap secara memuaskan, momen tersebut tetap menjadi puncak emosional yang sulit dilupakan.
Pada akhirnya, Forbidden Fruits adalah film yang berani dan penuh gaya. Ia tidak sempurna, namun menawarkan pengalaman yang menghibur bagi penggemar komedi gelap, satire feminis, dan horor campy. Buat kamu yang menyukai eksplorasi sisi gelap pertemanan perempuan dalam kemasan yang stylish dan sedikit berdarah, film ini layak ditonton. Rating pribadi: 7.8/10.
Baca Juga
-
Stranger Things: Tales from '85 Season 2, Melangkah Kembali ke Kota Hawkins
-
Review Lanterns: Aksi Hal Jordan dan John Stewart Ungkap Misteri Kelam!
-
Bikin Ngakak! Review Coyote vs. Acme: Saat Tokoh Kartun Looney Tunes Gugat Pabrik ke Pengadilan
-
Review Film Idiots: Cerita Seru Dua Pria Mengawal Remaja Penuh Masalah!
-
Review Film The Uprising: Drama Sejarah Epik Paul Greengrass yang Memukau
Artikel Terkait
Ulasan
-
Gelanggang Anterra: Perjalanan Remaja Tanpa Sihir Menantang Hierarki Dunia
-
Review Street Fighter: Antara Pesta Nostalgia dan Cerita yang Kehilangan Taji
-
Little Blue Truck Lost and Found: Misteri Kecil di Peternakan
-
Stranger Things: Tales from '85 Season 2, Melangkah Kembali ke Kota Hawkins
-
Review Lanterns: Aksi Hal Jordan dan John Stewart Ungkap Misteri Kelam!
Terkini
-
5 Lipstik Merah Bata untuk Kulit Sawo Matang, Bikin Makeup Makin Stunning!
-
Bikin Kaget Fans, Kim Yong Ji Nikahi Pria Jepang dan Nantikan Anak Pertama
-
Shonen Jump+ Buka Kompetisi Manga Heroine "Cute", Hadiah Utama 500.000 Yen
-
Gaji Habis Buat Healing Terus? Hati-Hati, Bisa Jadi Kamu Korban Tekanan Sosial Digital
-
Penutupan TPA Sarimukti dan Langkah Kecil yang Bisa Dilakukan di Rumah