Waktu kecil, kita mungkin pernah berpikir bahwa punya satu sahabat sudah cukup untuk membuat dunia terasa menyenangkan. Seseorang yang mau duduk bersama kita, berbagi bekal, bermain sepulang sekolah, dan mendengarkan cerita-cerita kecil yang mungkin tidak menarik bagi orang lain.
Namun, seiring bertambahnya usia, kita mulai menyadari bahwa pertemanan tidak selalu sesederhana itu.
Ada keinginan untuk diterima, ketakutan menjadi bahan omongan, sampai keberanian yang mendadak hilang ketika kita harus memilih antara mempertahankan seorang teman atau mendapatkan tempat di kelompok yang lebih populer.
Hal-hal itulah yang diceritakan dalam The World of Us (2016), film Korea garapan Yoon Ga-eun yang mengikuti kehidupan Sun, seorang siswi sekolah dasar yang kesulitan mendapatkan teman. Ketika bertemu Ji-a, seorang murid baru, Sun akhirnya merasakan kebahagiaan memiliki sahabat.
Sayangnya, hubungan mereka mulai berubah ketika liburan berakhir dan Ji-a kembali berhadapan dengan lingkungan pertemanan di sekolah. Perlahan, keinginan untuk diterima membuat keduanya saling menyakiti.
Yang menarik, film ini tidak membutuhkan tokoh antagonis yang benar-benar jahat untuk membuat penontonnya merasa kesal. Cukup dengan tatapan yang berubah, ajakan bermain yang tidak lagi datang, atau seseorang yang tiba-tiba bersikap seolah tidak mengenal kita.
Menyakitkan, bukan? Terlebih ketika orang yang melakukannya adalah seseorang yang sebelumnya tahu banyak hal tentang kita. Menurut saya, salah satu kekuatan The World of Us terletak pada keberhasilannya menggambarkan bahwa perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik atau hinaan terang-terangan.
Terkadang, bentuknya justru sangat halus, sengaja tidak mengajak seseorang bermain, membuatnya merasa tidak diinginkan, atau memperlakukannya dengan baik ketika sedang berdua, tetapi mengabaikannya saat ada orang lain. Dan bukankah hal seperti ini masih sering kita temukan, bahkan setelah kita dewasa?
Lingkungan pertemanan mungkin sudah berubah menjadi tempat kerja, komunitas, atau lingkaran pergaulan yang lebih luas. Namun, keinginan untuk diterima tetap ada. Kita bisa saja tertawa bersama orang-orang yang sebenarnya tidak membuat kita nyaman supaya tidak menjadi sasaran pembicaraan berikutnya.
Bukan berarti semua orang melakukannya dengan sengaja untuk menyakiti. Kadang, kita hanya terlalu takut menjadi orang yang tersisih. Kita ingin merasa memiliki tempat, sampai lupa bahwa usaha untuk mendapatkan tempat itu bisa membuat orang lain kehilangan tempatnya.
Di sinilah hubungan Sun dan Ji-a terasa begitu realistis. Keduanya bukan anak-anak yang sepenuhnya mengerti apa yang sedang mereka lakukan. Mereka punya kebutuhan, rasa iri, ketakutan, dan masalah masing-masing.
Sun ingin mempertahankan satu-satunya persahabatan yang membuatnya bahagia, sementara Ji-a juga ingin diterima oleh lingkungan sekitarnya. Mereka saling membutuhkan, tetapi belum tahu bagaimana mempertahankan hubungan tanpa melukai satu sama lain.
Film ini juga memperlihatkan bahwa dunia anak-anak tidak sesederhana yang sering dibayangkan orang dewasa. Perbedaan kondisi keluarga, kemampuan ekonomi, dan kehidupan di rumah ternyata ikut memengaruhi cara anak-anak memandang diri sendiri maupun orang lain.
Hal-hal yang terlihat kecil bagi orang dewasa bisa terasa sangat besar bagi seorang anak yang sedang berusaha menemukan tempatnya di dunia. Dari segi penyajian, film ini menggunakan alur yang tenang dan konflik sehari-hari. Tidak banyak adegan dramatis yang sengaja dibuat untuk menguras air mata.
Namun, ekspresi para pemain mudanya mampu menyampaikan rasa kecewa dan kebingungan tanpa perlu banyak dialog. Meski ritmenya mungkin terasa lambat bagi sebagian penonton, pendekatan ini justru membuat ceritanya terasa dekat dengan kehidupan nyata.
Pada akhirnya, The World of Us membuat saya berpikir bahwa menjadi dewasa bukan berarti kita sudah selesai belajar tentang pertemanan. Sampai sekarang pun, kita masih belajar membedakan mana hubungan yang membuat kita merasa diterima dan mana hubungan yang mengharuskan kita terus berpura-pura.
Mungkin kita pernah menjadi Sun, seseorang yang berusaha keras agar tidak ditinggalkan. Mungkin juga kita pernah menjadi Ji-a, seseorang yang tanpa sadar melukai orang lain karena terlalu sibuk mencari tempat di kelompok yang dianggap lebih baik.
Bagian paling menyedihkan dari semuanya adalah menyadari bahwa kita bisa menjadi keduanya pada waktu yang berbeda. Sebab, terkadang kita tidak kehilangan teman karena berhenti menyayanginya. Kita kehilangan mereka karena terlalu takut kehilangan penerimaan dari orang lain.
Padahal, pertemanan seharusnya menjadi tempat kita merasa diterima, bukan tempat kita harus mengorbankan diri sendiri agar tetap dianggap ada.
Baca Juga
-
Tren Slow Living dan Digital Detox: Bisakah Gen Z Benar-benar Melakukannya?
-
Review Microhabitat: Haruskah Kita Miskin untuk Bisa Hidup Bahagia?
-
Budaya Study Date di Kafe: Antara Produktif, Numpang Wifi, dan Ajang Konten
-
Samjin Company English Class: Perjuangan Naik Jabatan yang Tidak Biasa
-
A Good Day to Be a Dog: Jatuh Cinta Berarti Belajar Menghadapi Ketakutan
Artikel Terkait
-
Review Microhabitat: Haruskah Kita Miskin untuk Bisa Hidup Bahagia?
-
Samjin Company English Class: Perjuangan Naik Jabatan yang Tidak Biasa
-
Decision To Leave: Ketika Rasa Curiga Perlahan Berubah Jadi Rasa Rindu
-
Friendship Recession: Kenapa Cari Sahabat Dewasa Itu Sulit?
-
You Are The Apple of My Eye: Tentang Cinta Pertama yang Tak Berakhir Sama
Ulasan
-
Sukses Bawa Manga ke Dunia Nyata, Ini Review Film Sakamoto Days yang Super Absurd dan Pecah!
-
Milirik Berbagai Sudut Pandang Kehidupan dalam Buku Batu-Batu Kelaparan
-
Belajar Arti Keluarga, Mimpi, dan Kehidupan dari Novel Gadis-Gadis Kecil
-
Review Ghosthing: Hantu Cerewet yang Mengacaukan Misteri Kematian
-
Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang: Belajar Berdamai dengan Penilaian Orang Lain
Terkini
-
Ironi Guru di Indonesia: Tunjangan Tak Kunjung Cair Sampai Harus Ngutang Bensin buat Mengajar
-
Rekonstruksi Makna YOLO: Hidup Cuma Sekali, tapi Masa Depan Butuh Biaya
-
Pendidikan Indonesia Abad 21: Bukan Zamannya Lagi Gonta-ganti Kurikulum
-
Pansus Ijazah Gibran Menggelinding, Siapa Elite Politik yang Paling Diuntungkan?
-
Pansus Ijazah Gibran: Siapa yang Diuntungkan Jika Kursi Wapres Kosong?