Apa jadinya kalau kamu bisa menghubungi seseorang dari masa lalu dan mengubah kejadian yang selama ini kamu sesali?
Mungkin kita ingin mencegah kehilangan seseorang, memperbaiki hubungan yang rusak, atau sekadar menghapus satu keputusan buruk yang masih menghantui pikiran. Kedengarannya menyenangkan, bukan? Namun, bagaimana kalau perubahan kecil itu justru membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih mengerikan?
Premis inilah yang ditawarkan The Call (2020), film thriller Korea Selatan garapan Lee Chung-hyun yang dibintangi Park Shin-hye dan Jeon Jong-seo. Film ini mengisahkan dua perempuan yang tinggal di rumah yang sama, tetapi terpisah oleh waktu selama 20 tahun.
Seo-yeon hidup pada 2019, sedangkan Young-sook berada di tahun 1999. Keduanya terhubung melalui sebuah telepon rumah tua, tanpa pernah menyangka bahwa percakapan mereka akan mengubah kehidupan masing-masing.
Seo-yeon awalnya hanya ingin menjalani hidup dengan tenang setelah kembali ke rumah masa kecilnya. Ia memiliki hubungan yang rumit dengan ibunya dan masih menyimpan luka akibat kematian ayahnya. Sementara itu, Young-sook mengaku hidup dalam tekanan karena perlakuan ibu angkatnya.
Dari percakapan yang awalnya terasa seperti pertemanan biasa, Seo-yeon mulai mengetahui bahwa ia memiliki kesempatan untuk mengubah masa lalunya. Ketika satu kejadian berhasil diubah, kehidupan Seo-yeon ikut berubah. Namun, perubahan tersebut ternyata memiliki konsekuensi yang tidak pernah ia bayangkan.
Hal paling menarik dari The Call adalah bagaimana film ini mengubah keinginan sederhana untuk memperbaiki masa lalu menjadi permainan berbahaya yang sulit dihentikan.
Pada awalnya, hubungan Seo-yeon dan Young-sook terasa seperti pertemanan antara dua orang yang sama-sama kesepian. Mereka saling mendengarkan, berbagi cerita, dan membantu satu sama lain. Namun, semakin banyak informasi yang mereka ketahui, semakin rumit pula hubungan tersebut.
Di sinilah film ini memperlihatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu siapa seseorang hanya dari cerita yang ia sampaikan. Kita bisa menganggap diri sedang membantu, padahal keputusan kita justru memberikan kesempatan bagi orang lain untuk melakukan sesuatu yang mengerikan.
Karakter Young-sook menjadi salah satu kekuatan terbesar film ini. Jeon Jong-seo berhasil membangun sosok yang sulit ditebak, membuat penonton terus mempertanyakan apakah ia benar-benar korban atau seseorang yang menyimpan sisi gelap.
Perubahan karakternya terasa mengerikan karena kita melihat bagaimana hubungan yang awalnya tampak tulus bisa berkembang menjadi sesuatu yang penuh manipulasi. Park Shin-hye juga tampil meyakinkan sebagai Seo-yeon.
Ia memperlihatkan kepanikan, penyesalan, dan keputusasaan seseorang yang menyadari bahwa keputusan yang diambilnya telah mengubah segalanya. Kedua karakter ini menjadi pusat ketegangan yang membuat cerita terasa semakin personal, bukan sekadar permainan perjalanan waktu.
Menariknya, The Call juga mengingatkan kita pada kebiasaan manusia yang sering kali baru menghargai sesuatu setelah kehilangan. Seo-yeon ingin memperbaiki kehidupannya, tetapi ketika kesempatan itu datang, ia tidak sepenuhnya memahami harga yang harus dibayar.
Ia terjebak dalam keinginan untuk mempertahankan kehidupan yang lebih baik, sampai akhirnya harus menghadapi akibat dari pilihannya sendiri. Dari segi penyajian, film ini berhasil membangun suasana mencekam melalui penggunaan telepon, rumah tua, dan perubahan realitas yang terjadi secara bertahap.
Penonton dibuat terus menebak apa yang akan terjadi berikutnya. Meski beberapa bagian menjelang akhir terasa semakin rumit dan membutuhkan perhatian ekstra untuk mengikuti perubahan waktunya, ketegangan yang dibangun tetap menjadi daya tarik utama.
Bagi saya, The Call bukan sekadar film tentang perjalanan waktu atau pembunuhan. Film ini juga berbicara tentang keinginan manusia untuk mengendalikan kehidupan, seolah-olah setiap masalah bisa diselesaikan dengan mengubah satu kejadian di masa lalu.
Padahal, hidup tidak sesederhana itu. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan kita tidak selalu bisa mengetahui akibatnya sebelum semuanya terjadi. Pada akhirnya, mungkin kita memang tidak bisa mengubah masa lalu. Namun, kita masih bisa belajar dari kesalahan yang pernah terjadi dan menentukan bagaimana kita menjalani hari ini.
Karena kadang hal paling berbahaya bukanlah kesempatan untuk mengulang masa lalu, melainkan keyakinan bahwa kita bisa mengubah segalanya tanpa kehilangan sesuatu yang berharga.
Baca Juga
-
The World of Us: Mengkhianati Diri Sendiri Demi Jadi Bagian dari Kelompok
-
Tren Slow Living dan Digital Detox: Bisakah Gen Z Benar-benar Melakukannya?
-
Review Microhabitat: Haruskah Kita Miskin untuk Bisa Hidup Bahagia?
-
Budaya Study Date di Kafe: Antara Produktif, Numpang Wifi, dan Ajang Konten
-
Samjin Company English Class: Perjuangan Naik Jabatan yang Tidak Biasa
Artikel Terkait
Ulasan
-
The Bridesmaids Tale: Ketika Luka Lama Membuat Kita Takut Jatuh Cinta Lagi
-
Buku We Are the Keystones, Mengenal Pahlawan Tersembunyi Penjaga Alam
-
The Full Moon Eye Clinic: Klinik Aneh yang Menyembuhkan Luka Masa Lalu
-
Jalan Panjang Menuju Penebusan Dosa di Novel The Kite Runner
-
Ulasan Film Aplikasi Iblis: Horor Digital Menakutkan Buatan Dimas Anggara
Terkini
-
Sinopsis In a Holidaze, Film Romcom Bertema Natal yang Siap Bikin Baper
-
PLTSa DIY Ubah Sampah Jadi Listrik, Solusi Masalah atau Beban Baru?
-
POCO F9 Pro Jadi Kurang Menarik? Ini Alasan F9 Ultra Lebih Worth It!
-
Ibu Aijing A2O LITE Minta Maaf soal Dugaan Tunggakan Gaji Karyawan
-
Kupas Sisi Horor, Trauma, dan Kekejaman Manusia dalam Serial Carrie 2026