Kehilangan orang yang dicintai memang bisa membuat seseorang kehilangan arah. Akan tetapi, ketika kesedihan berubah menjadi obsesi, cinta berpotensi jadi alasan untuk membenarkan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Inilah wilayah emosional yang coba dijelajahi Aplikasi Iblis, film horor Indonesia garapan Dimas Anggara yang memadukan romansa, misteri, teror supernatural, dan aksi balas dendam.
Film produksi NIH Pictures ini tayang di bioskop pada 15 Oktober 2026. Dimas Anggara bertindak sebagai sutradara, dengan cerita yang ditulis Tisa TS. Deretan pemainnya mencakup Junior Roberts sebagai Arya, Dosma Hazenbosch sebagai Laras, Ruth Marini, Della Dartyan, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Dida Arlingga, Danang, Rifal F. Lestusen, Cut Ara, dan Daffa Alharits.
Berdurasi sekitar 86 menit, Aplikasi Iblis jadi eksplorasi Dimas Anggara di genre horor setelah menyutradarai Film #OOTD: Outfit of the Designer pada 2024.
Ceritanya mengenai Arya yang masih terpuruk setahun setelah Laras meninggal secara tragis. Kekasihnya jadi korban perampokan ketika pulang bekerja pada malam hari. Kehilangan itu meninggalkan luka yang belum mampu dia terima. Dalam usahanya mengobati kerinduan, Arya mencoba aplikasi misterius bernama I LET YOU IN, yang memungkinkan penggunanya terhubung dengan arwah orang yang sudah meninggal.
Keinginannya untuk kembali berkomunikasi dengan Laras akhirnya terwujud. Sayangnya, pertemuan itu membawa perubahan mengerikan. Sosok Laras mendorong Arya melakukan balas dendam, sementara teror demi teror mulai mengancam keselamatannya. Arya pun harus menghadapi situasi ketika kerinduannya sendiri berpotensi menghancurkan hidupnya.
Batas antara Cinta dan Obsesi
Kesedihan Arya punya alasan kuat karena kehilangan kekasih secara tragis bukan perkara sepele. Akan tetapi, alasan emosional saja belum cukup untuk membuat setiap tindakannya masuk akal. Film seperti ini butuh perkembangan karakter yang meyakinkan agar penonton memahami bagaimana seseorang yang berduka perlahan bisa terseret ke dalam keputusan berbahaya. Dalam hal ini. perubahan Arya agaknya berlangsung terlalu cepat, obsesi itu jadi kayak kebutuhan cerita semata, bukan pergulatan batin yang hidup.
Persoalan berikutnya menyangkut Laras. Kematiannya akibat kekerasan merupakan tragedi yang layak dapat perhatian lebih dari sekadar jadi pemicu perjalanan Arya. Perempuan yang jadi korban seharusnya tetap memiliki bobot emosional sebagai manusia, bukan hanya alasan bagi tokoh laki-laki untuk bergerak dan membalas dendam.
Kehadiran Laras setelah kematian juga membuka ruang untuk menggali trauma, ketidakadilan, dan konsekuensi kekerasan terhadap perempuan. Sayangnya, daya tarik gagasan itu bergantung pada seberapa jauh film ngasih kedalaman ke Laras, bukan semata menjadikannya pusat kesedihan Arya.
Perpaduan horor dan aksi balas dendam pun jadi tantangan tersendiri. Adegan menegangkan memang membuat ritme terjaga. sedangkan aksinya memperbesar ancaman. Namun, keduanya perlu tumbuh dari konflik yang sama agar cerita tetap utuh. Sayangnya, teror hanya jadi penghubung menuju aksi, ketegangan psikologis dan persoalan moralnya jadi agak tersingkir.
Yang jelas, Aplikasi Iblis punya pemantik menarik untuk membahas duka, kekerasan, dan cinta yang perlahan berubah menjadi obsesi. Film ini ngajak penonton melihat bagaimana kehilangan bisa mengacaukan logika, mengaburkan batas moral, bahkan mendorong seseorang melakukan tindakan yang sebelumnya mungkin nggak pernah terpikirkan.
Meski beberapa pengembangan ceritanya masih bisa dipertajam, terutama dalam membangun kedalaman emosi dan alasan di balik keputusan para tokohnya, film ini tetap menawarkan bahan renungan yang menarik. Jadi, buat Sobat Yoursay yang menyukai horor dengan sentuhan drama dan balas dendam, film ini masih layak masuk daftar tontonan. Selamat menonton, ya!
Baca Juga
-
Ketua Komite FFI 2026 Ikut Kaget, Publik Pertanyakan Transparansi Seleksi Piala Citra
-
Review Ghosthing: Hantu Cerewet yang Mengacaukan Misteri Kematian
-
Review Street Fighter: Antara Pesta Nostalgia dan Cerita yang Kehilangan Taji
-
Review Whalefall: Saat Penderitaan Manusia Menjadi Tontonan di Bioskop
-
Review Lanterns: Saat Superhero Menyala Lewat Misteri Kriminal di Bumi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Novel Malice: Adu Kecerdasan antara Detektif Kaga dan Sang Novelis
-
Belok Kiri Langsing: Ketika Transformasi Fisik Dimulai dari Mencintai Diri
-
The Bridesmaids Tale: Ketika Luka Lama Membuat Kita Takut Jatuh Cinta Lagi
-
The Call: Satu Panggilan, Dua Nasib, dan Kesalahan yang Tak Bisa Ditarik
-
Buku We Are the Keystones, Mengenal Pahlawan Tersembunyi Penjaga Alam
Terkini
-
Ketika Anak Takut Berangkat Sekolah, Siapa Bertanggung Jawab?
-
Kerja, Upgrade Skill, dan Networking: Saatnya Menggugat Kebutuhan Healing?
-
Antrean Kuliner hingga Produk Viral, Kenapa Kita Ikut Tertarik Mencoba?
-
Miris! Warga di 'Paru-Paru Dunia' Justru Kesusahan Bernapas, Salah Siapa?
-
DPR Musikal Terbukti Nyata: Saat Isu Karhutla Kalah Tajam dari Drama Medsos