Lintang Siltya Utami | Athar Farha
Poster Film Cidro Asmoro (Cinema 21)
Athar Farha

Popularitas di media sosial sering terlihat seperti tiket gratis menuju kehidupan yang lebih baik. Satu video meledak, jutaan orang menonton, lalu kesempatan baru berdatangan. Masalahnya, perubahan secepat itu juga bisa menyeret seseorang ke dalam persaingan yang sebelumnya jauh dari kehidupannya. Inilah sisi menarik yang dibawa Cidro Asmoro, film drama komedi musikal tentang viralitas, ambisi, dan perubahan hubungan ketika perhatian publik mulai berpindah arah.

Film produksi VISION+, Adglow Pictures, dan Hompimpa Sinema Nusantara ini disutradarai Senoaji Julius, dengan skenario karya Akbar Bayquni R., Raymond B. Gultom, dan Aldo Prahajanto. Berdurasi sekitar 106 menit, film ini dibintangi Jodilee Warwick, Daru Ndarboy atau Helarius Daru, Happy Asmara, Erick Estrada, dan Zora Zuraidah. 

Cidro Asmoro mulai tayang di bioskop sejak 8 Oktober 2026 dengan klasifikasi usia R13. Film layar lebarnya juga dikembangkan dari serial berjudul sama yang diproduksi Vision Pictures pada 2023.

Cerita mengenai Prita Anjarsari (Jodilee Warwick), pramusaji kafe di Yogyakarta yang menyimpan impian menjadi penyanyi. Suatu hari, dia bernyanyi dan berjoget mengikuti lagu campursari Koyo Jogja Istimewa milik Ndarboy Genk. Aksi spontan tersebut direkam sahabatnya, Molly (Zora Zuraidah), kemudian viral hingga ditonton jutaan kali. Kehidupan Prita pun berubah drastis. 

Erick (Erick Estrada), gitaris Ndarboy Genk, melihat peluang dari popularitas tersebut dan membujuk Daru (Daru Ndarboy) untuk berduet dengan Prita. Rencana itu kemudian bersinggungan dengan proyek kolaborasi Daru dan Happy Asmara, memicu persaingan, benturan ego, dan perubahan dinamika di lingkungan musik campursari. 

Perjalanan menuju sebuah konser besar menjadi bagian dari konflik yang mempertemukan ambisi pribadi dengan semangat bermusik bersama.

Viralitas dan Harga Sebuah Kesempatan

Menurutku, premis Prita paling relevan untuk membicarakan budaya viral. Media sosial memang bisa membuka kesempatan bagi orang yang sebelumnya kesulitan mendapatkan panggung. Bakat yang luput dari perhatian industri mendadak bisa ditemukan publik hanya melalui rekaman sederhana.

Namun, perhatian publik juga menciptakan nilai baru bagi seseorang. Prita awalnya dikenal karena spontanitasnya, lalu berpotensi dipandang sebagai peluang bisnis. Di sinilah persoalan menarik muncul. Ketika popularitas jadi komoditas, kepentingan orang lain bisa ikut menentukan arah perjalanan seseorang.

Konflik tersebut membuat cerita Prita lebih menarik ketimbang sebatas kisah sukses mendadak. Kesempatan yang datang memang layak disambut, tapi keputusan yang mengikutinya perlu dipahami dengan matang. Ketika banyak pihak mulai memiliki kepentingan, menjaga kendali atas pilihan sendiri jadi tantangan tersendiri.

Kehadiran Prita juga mengusik proyek kolaborasi Daru dan Happy. Konflik semacam ini memperlihatkan persaingan dalam industri hiburan bisa muncul ketika perhatian publik jadi sesuatu yang diperebutkan.

Menurutku, sudut ini memiliki potensi kritik sosial yang kuat. Popularitas seseorang seharusnya menjadi kesempatan untuk berkembang bersama, bukan alasan untuk mengukur keberhasilan hanya dari siapa yang paling banyak dibicarakan. Ambisi pribadi tetap penting, tapi hubungan profesional butuh kepercayaan dan kemampuan menerima perubahan.

Pada intinya, Cidro Asmoro menawarkan gagasan tentang viralitas yang lebih luas dari sekadar terkenal dalam semalam. Campursari memberikan identitas budaya, sementara perjalanan Prita membuka ruang untuk membicarakan ambisi, kesempatan, dan tekanan industri hiburan.

Daya tarik gagasan tersebut terletak pada kedekatannya dengan kehidupan digital sekarang. Keberhasilan film dalam mengolahnya menjadi drama yang meyakinkan tetap bergantung pada eksekusi adegan, perkembangan karakter, dan keseimbangan komedi serta konflik. Sebab, viralitas bisa jadi awal sebuah perjalanan, sedangkan mempertahankan jati diri merupakan tantangan yang jauh lebih panjang.

Sobat Yoursay sudah nonton belum, nih?