Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
Escape from Mogadishu (Instagram/lookermag)
Dian Haerani

Kira-kira seberapa jauh seseorang bersedia mengesampingkan kebencian ketika nyawanya sendiri sedang terancam?

Selama ini, kita mungkin terbiasa melihat konflik sebagai pertarungan antara dua pihak yang harus saling mengalahkan. Kita sibuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, sampai lupa bahwa di balik setiap perbedaan, ada manusia yang sama-sama ingin pulang dengan selamat.

Pertanyaan itulah yang terasa kuat dalam Escape from Mogadishu (2021), film Korea Selatan garapan Ryoo Seung-wan yang diangkat dari peristiwa nyata. Dibintangi Kim Yoon-seok, Jo In-sung, Heo Joon-ho, Koo Kyo-hwan, dan Park Gyeong-hye, film ini membawa penonton ke Mogadishu, Somalia, ketika perang saudara pecah pada 1991.

Cerita bermula ketika diplomat Korea Selatan dan Korea Utara sama-sama berusaha mendapatkan dukungan pemerintah Somalia untuk kepentingan politik negara mereka di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Keduanya berada di negara yang sama, tetapi tidak benar-benar menjadi rekan.

Persaingan politik membuat mereka saling mencurigai, bahkan ketika berhadapan dengan persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama. Situasi berubah drastis ketika pemberontakan pecah dan Mogadishu berubah menjadi kota yang penuh kekacauan.

Jalanan tidak lagi aman, komunikasi terputus, dan bantuan dari negara masing-masing sulit diharapkan. Dalam keadaan seperti itu, para diplomat beserta keluarga mereka harus mencari cara untuk menyelamatkan diri. Pada akhirnya, pihak Korea Selatan dan Korea Utara dihadapkan pada pilihan sulit, tetap mempertahankan permusuhan atau bekerja sama demi bertahan hidup.

Menurut saya, kekuatan utama film ini terletak pada perubahan hubungan antarkarakter. Mereka tidak tiba-tiba melupakan perbedaan ideologi atau berubah menjadi sahabat hanya karena menghadapi bahaya yang sama. Rasa curiga tetap ada, begitu juga gengsi dan ketidakpercayaan.

Namun, keadaan memaksa mereka menyadari bahwa ada hal yang jauh lebih mendesak daripada memenangkan persaingan politik. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering begitu?

Terkadang, kita terlalu sibuk mempertahankan pendapat sampai lupa mendengarkan orang lain. Perbedaan pilihan, pandangan, atau latar belakang bisa membuat kita memperlakukan seseorang seolah-olah ia adalah lawan yang harus dikalahkan.

Padahal, tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Kita bisa tidak sepakat dengan seseorang tanpa harus menganggapnya tidak layak dihormati.

Escape from Mogadishu memperlihatkan hal tersebut melalui situasi ekstrem. Ketika keselamatan menjadi taruhan, identitas sebagai pihak yang berlawanan tidak lagi cukup untuk menjelaskan siapa yang bisa dipercaya. Mereka harus menilai orang lain berdasarkan tindakan nyata, bukan berdasarkan bendera yang dibawa.

Hal lain yang membuat film ini terasa menegangkan adalah cara sutradara membangun suasana perang. Kekacauan di jalanan, suara tembakan, dan perjalanan melintasi wilayah berbahaya membuat penonton ikut merasakan betapa kecilnya kendali manusia ketika keadaan sudah di luar kemampuan mereka.

Adegan pelarian menggunakan mobil menjadi salah satu bagian paling menegangkan, sekaligus menunjukkan betapa rapuhnya keselamatan ketika setiap keputusan bisa menentukan hidup atau mati. Meski demikian, film ini bukan tanpa kekurangan.

Beberapa bagian terasa lebih berfokus pada pengalaman para diplomat Korea daripada kehidupan masyarakat Somalia yang juga menjadi korban perang. Akibatnya, latar konflik yang begitu besar terkadang lebih berfungsi sebagai panggung bagi perjuangan tokoh utama.

Namun, sebagai drama thriller, film ini tetap berhasil menjaga ketegangan dan menyampaikan gagasan tentang kerja sama di tengah perbedaan. Yang paling membekas bagi saya adalah kenyataan bahwa keberanian dalam film ini bukan hanya soal berlari menghindari peluru. Ada keberanian lain yang lebih sulit, yaitu untuk mempercayai orang yang selama ini dianggap sebagai musuh.

Keputusan itu tidak menjamin semuanya akan berjalan lancar, tetapi tanpa keberanian untuk bekerja sama, peluang mereka untuk selamat mungkin jauh lebih kecil.

Pada akhirnya, Escape from Mogadishu mengingatkan kita bahwa kemanusiaan seharusnya tidak berhenti di batas negara, ideologi, atau kelompok. Ketika keadaan memburuk, kita semua tetap memiliki ketakutan yang sama, kehilangan yang sama, dan keinginan sederhana untuk kembali kepada orang-orang yang kita cintai.

Sebab, terkadang, orang yang selama ini kita anggap sebagai lawan justru menjadi orang yang membantu kita bertahan. Dan mungkin, dunia akan sedikit lebih baik jika kita belajar melihat manusia terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membencinya.