Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Harmonium (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Sastra bukan sekadar rangkaian kata indah atau cerita yang menghibur pembacanya. Di dalamnya, ada persoalan moral, pergulatan manusia, proses kreatif, hingga pertanyaan tentang bagaimana sebuah karya seharusnya dinilai. Berbagai persoalan tersebut dibahas Budi Darma dalam Harmonium, kumpulan esai sastra yang mengajak pembaca melihat kesusastraan Indonesia secara lebih kritis.

Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 10 Oktober 2023, buku ini terdiri atas 206 halaman. Sebagai salah satu kumpulan esai penting Budi Darma, Harmonium melengkapi warisan pemikirannya, termasuk melalui buku Solilokui. Gagasan-gagasan yang dibahasnya masih terasa relevan, terutama ketika persoalan sastra Indonesia seolah terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Isi Buku

Harmonium memuat sepuluh esai yang membicarakan berbagai aspek kesusastraan, mulai dari sastra hiburan, proses kreatif pengarang, moral dalam karya, hingga konsep negativity capability. Keragaman topik ini membuat buku tersebut tidak hanya menarik bagi kritikus atau akademisi, tetapi juga bagi pembaca umum yang ingin memahami cara berpikir seorang sastrawan.

Salah satu daya tarik Budi Darma terletak pada kemampuannya membahas persoalan sastra dengan bahasa yang kadang mudah dicerna, tetapi sesekali menuntut pembacaan lebih serius. Ia tidak sekadar menjelaskan konsep, melainkan mengajak pembaca mempertanyakan asumsi yang selama ini dianggap lumrah. Bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang pendidikan sastra, buku ini bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal perdebatan mengenai kualitas karya, tanggung jawab pengarang, dan fungsi kritik sastra. Meski demikian, sejumlah pembahasan tetap membutuhkan konsentrasi karena kepadatan gagasan dan penggunaan istilah yang cukup akademis.

Salah satu esai yang menonjol adalah “Novel Indonesia adalah Dunia Melodrama”. Melalui pembahasan ini, Budi Darma mengajak pembaca menelaah kecenderungan novel Indonesia dalam membangun konflik dan mengolah emosi. Melodrama pada dasarnya mengandalkan konflik emosional yang kuat, pertentangan moral yang jelas, serta situasi yang dirancang untuk menggugah perasaan pembaca. Unsur tersebut tidak otomatis membuat sebuah karya buruk. Persoalannya muncul ketika emosi menjadi terlalu dominan sehingga kompleksitas manusia dan kehidupan justru menyempit.

Pembahasan Budi Darma mendorong pembaca untuk tidak berhenti pada pertanyaan apakah sebuah cerita menyentuh atau menyedihkan. Pembaca juga perlu menilai bagaimana konflik dibangun, apakah karakter memiliki kedalaman, dan apakah persoalan yang diangkat disajikan secara meyakinkan. Esai ini sekaligus membuka rasa ingin tahu terhadap karya-karya yang dibahas dalam perdebatan sastra Indonesia, seperti Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya dan Namaku Hiroko karya N.H. Dini. Dengan demikian, kritik sastra tidak hanya menjadi penilaian terhadap sebuah karya, tetapi juga undangan untuk membaca lebih jauh.

Esai “Andaikata Nirdawat Seorang Kritikus Sastra” menawarkan pendekatan yang berbeda. Alih-alih menyampaikan gagasan semata-mata melalui uraian argumentatif, Budi Darma menghadirkan tokoh Nirdawat dengan karakter jenaka dan tajam. Esai ini terasa memiliki unsur penceritaan yang mengingatkan pembaca pada cerpen. Di balik humor tersebut, terdapat persoalan serius tentang posisi kritikus sastra. Kritik bukan sekadar kegiatan memuji karya yang disukai atau mencela karya yang tidak sesuai selera. Seorang kritikus perlu memiliki pertimbangan, ketelitian, dan keberanian menyampaikan penilaian.

Namun, kritik juga bukan wilayah yang bebas dari persoalan. Bagaimana seorang kritikus mempertanggungjawabkan pendapatnya? Sejauh mana penilaian pribadi memengaruhi pembacaan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memperlihatkan bahwa kritik sastra merupakan praktik intelektual yang menuntut lebih dari sekadar kepandaian berkomentar.

Sementara itu, esai “Pengalaman Pribadi dengan Nugroho Notosusanto” menghadirkan sisi personal Budi Darma melalui kisah pengalaman menulis cerpen dan pertemuannya dengan tokoh tersebut. Bagian ini memberi dimensi historis sekaligus memperlihatkan bahwa pemikiran sastra tumbuh melalui pengalaman, pergaulan intelektual, dan proses kreatif.

Kelebihan dan Kekurangan

Persoalan moral menjadi salah satu pokok penting dalam Harmonium. Budi Darma memandang sastra sebagai sarana untuk memanusiakan manusia, tetapi bukan dengan cara menyembunyikan kenyataan pahit. Justru melalui penggambaran konflik, penderitaan, dan hal-hal yang semestinya tidak terjadi, sastra dapat membantu pembaca memahami kehidupan secara lebih mendalam.

Gagasan ini menempatkan sastra bukan sebagai khotbah yang membagikan jawaban moral secara sederhana, melainkan sebagai ruang untuk menghadapi kerumitan manusia. Pengarang dapat memulai proses kreatifnya dari ketidakpuasan terhadap kenyataan, kemudian mengolahnya menjadi konflik yang menggugah pemikiran pembaca.

Pada akhirnya, Harmonium menunjukkan bahwa sastra membutuhkan pembacaan yang lebih kritis daripada sekadar menikmati alur dan karakter. Buku ini cocok bagi pencinta sastra, penulis, mahasiswa, maupun pembaca umum yang ingin memahami bagaimana karya sastra dinilai dan mengapa persoalan-persoalan di dalamnya terus diperdebatkan.

Melalui esai-esainya, Budi Darma meninggalkan pertanyaan yang layak direnungkan: apakah persoalan sastra Indonesia terus berulang karena pemikiran kritis mampu menembus zaman, atau karena kita belum sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan yang sama? Barangkali, jawaban atas pertanyaan itu justru menjadi alasan terpenting untuk membaca Harmonium.

Identitas Buku

  • Judul: Harmonium
  • Penulis: Budi Darma
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tanggal terbit: 10 Oktober 2023
  • ISBN: 9786020672489
  • Tebal: 206 halaman
  • Kategori: Esai sastra, kritik sastra, kajian kesusastraan Indonesia