Lintang Siltya Utami | Tarassa Q.
What I Talk About When I Talk About Running (Gramedia)
Tarassa Q.

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara berulang. Bagi Haruki Murakami, salah satunya adalah berlari. Melalui buku What I Talk About When I Talk About Running, penulis asal Jepang ini mengajak pembaca menyelami hubungannya dengan olahraga lari, dunia kepenulisan, kedisiplinan, hingga proses menerima perubahan diri seiring bertambahnya usia. Memoar yang diterbitkan pada 2007 ini menawarkan refleksi personal tentang kehidupan, bukan sekadar panduan bagi mereka yang ingin menekuni olahraga lari.

Murakami mulai menekuni lari secara serius pada awal 1980-an, ketika ia memutuskan meninggalkan bisnis klub jazz yang dikelolanya untuk berkonsentrasi menjadi novelis. Setelah berhenti merokok, ia menyadari perlunya menjaga kebugaran tubuh agar mampu menjalani rutinitas barunya. Sejak saat itu, lari menjadi bagian penting dalam kehidupannya, sekaligus kebiasaan yang turut menopang perjalanan panjangnya sebagai penulis.

Dalam pandangan Murakami, menulis bukan pekerjaan yang hanya mengandalkan imajinasi dan inspirasi. Aktivitas tersebut juga membutuhkan daya tahan fisik karena seorang novelis harus mampu menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja. Ia menjadikan lari sebagai cara merawat tubuh sekaligus mempertahankan konsentrasi dan kestabilan pikiran. Keduanya, menulis dan berlari, menuntut kesediaan untuk terus bekerja bahkan ketika semangat sedang tidak berada pada puncaknya.

Kesungguhan itu tercermin dalam rutinitas latihannya. Murakami terbiasa menempuh sekitar sepuluh kilometer sehari dan mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari maraton hingga ultramaraton sejauh 100 kilometer. Ia juga pernah mengikuti triatlon. Melalui pengalaman tersebut, pembaca diajak memahami bahwa pencapaian tidak selalu lahir dari kemampuan luar biasa, tetapi juga dari disiplin yang dijaga dalam waktu panjang.

Salah satu gagasan yang paling membekas dalam buku ini dirangkum melalui kalimat, “Pain is inevitable. Suffering is optional.” Rasa sakit merupakan bagian yang sulit dipisahkan dari perjuangan, tetapi respons seseorang terhadap kesulitan turut menentukan bagaimana ia melewati proses tersebut. Pemikiran ini tidak terbatas pada olahraga. Dalam pekerjaan maupun kehidupan sehari-hari, kita kerap berhadapan dengan kelelahan, kegagalan, dan kebosanan. Kita memang tidak selalu dapat menghindarinya, tetapi masih memiliki ruang untuk menentukan sikap.

Bagi saya, bagian paling menarik dari memoar ini justru terletak pada refleksi-refleksi sederhana yang terasa dekat dengan kehidupan. Saya hampir tidak pernah membaca karya Murakami selain novel-novelnya. Karena itu, membaca tulisan yang lebih personal seperti ini terasa menyegarkan. Dengan ketebalan 186 halaman, buku ini dapat saya selesaikan dalam waktu relatif singkat karena gaya penceritaannya membuat saya ingin terus membaca. Meski demikian, bagian awalnya terasa sedikit lebih sulit untuk dinikmati sebelum saya mulai terbiasa dengan alur refleksi yang disampaikan.

Saya juga menemukan pengingat bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada motivasi sesaat. Kebiasaan kecil yang dijalankan terus-menerus dapat membangun ketahanan, baik fisik maupun mental. Hal ini berlaku pula ketika kita mengerjakan sesuatu yang terasa monoton. Tidak semua proses akan selalu menyenangkan, tetapi belajar bertahan di tengah kebosanan merupakan bagian penting dari perjalanan menuju tujuan.

Pengalaman Murakami berlari di Yunani, mengikuti rute maraton dari Athena menuju Marathon di bawah terik matahari, hingga mempersiapkan diri menghadapi New York City Marathon memperkaya kisahnya dengan pengalaman konkret. Namun, yang membuat memoar ini terasa bermakna bukanlah sekadar jarak yang berhasil ditempuhnya.

Murakami juga belajar menerima bahwa tubuhnya tidak lagi sekuat atau secepat dahulu. Ia perlahan memahami bahwa bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti bergerak, melainkan kesempatan untuk menyesuaikan harapan dan menghargai kemampuan diri.

Pada akhirnya, What I Talk About When I Talk About Running mengingatkan saya bahwa hidup bukan perlombaan untuk terus mengungguli orang lain. Tantangan sesungguhnya adalah mengenali diri sendiri, menerima keterbatasan, dan berusaha menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Memoar ini layak dibaca bukan hanya oleh penggemar Murakami atau pelari, tetapi juga oleh siapa pun yang sedang belajar menjalani proses panjang dengan sabar, tekun, dan penuh kesadaran.

Identitas Buku

Judul: What I Talk About When I Talk About Running
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit: Bentang Pustaka
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786231864574