Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
Secret Zoo (Instagram/amocinema.marta.camara)
Dian Haerani

Pernahkah kamu merasa harus melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak masuk akal demi mempertahankan pekerjaan?

Mengikuti aturan yang aneh, menerima tugas di luar kemampuan, atau berpura-pura baik-baik saja karena takut kehilangan kesempatan yang sudah susah payah didapatkan. Kadang, dunia kerja memang membuat kita harus memutar otak agar bisa bertahan, bahkan ketika situasinya terasa seperti lelucon.

Gagasan itulah yang menarik dari Secret Zoo (2020), film komedi Korea Selatan garapan Son Jae-gon yang dibintangi Ahn Jae-hong. Film ini mengikuti Kang Tae-soo, seorang pegawai sementara di firma hukum yang bermimpi mendapatkan posisi tetap.

Kesempatan itu datang ketika ia ditugaskan menghidupkan kembali sebuah kebun binatang yang hampir bangkrut. Masalahnya, hampir semua hewan di sana sudah dijual. Waktu yang diberikan hanya tiga bulan, dan Tae-soo harus menemukan cara agar kebun binatang tersebut kembali menarik pengunjung.

Bersama para pegawai kebun binatang, Tae-soo akhirnya mencetuskan ide yang terdengar konyol, mereka akan mengenakan kostum hewan dan berpura-pura menjadi penghuni kebun binatang. Ada yang menjadi beruang kutub, harimau, gorila, hingga kungkang.

Awalnya, rencana ini terdengar seperti keputusan nekat yang pasti berakhir dengan kekacauan. Namun, siapa sangka, pertunjukan mereka justru berhasil menarik perhatian pengunjung.

Dari premisnya saja, Secret Zoo sudah menawarkan sesuatu yang berbeda. Bayangkan datang ke kebun binatang, lalu melihat beruang kutub yang ternyata manusia di balik kostum. Lebih lucu lagi ketika video beruang kutub yang minum minuman bersoda menjadi viral. 

Namun bagi saya, hal yang membuat film ini menarik bukan cuma tingkah para pegawainya yang harus berakting sebagai hewan. Di balik komedinya, ada gambaran tentang orang-orang yang berusaha mempertahankan pekerjaan dan masa depan mereka di tengah keadaan yang serba sulit.

Tae-soo sendiri bukan sosok yang sejak awal memiliki idealisme besar. Ia ingin sukses, mendapatkan posisi tetap, dan membuktikan bahwa dirinya mampu. Keinginannya terasa sangat manusiawi, terutama bagi siapa pun yang pernah berada dalam posisi tidak pasti di dunia kerja.

Ketika kesempatan datang, kita cenderung menerimanya terlebih dahulu, meskipun belum tahu sepenuhnya apa yang akan kita hadapi. Bukankah situasi seperti ini juga sering terjadi sekarang? Banyak orang rela mengambil pekerjaan apa saja demi mendapatkan pengalaman atau penghasilan.

Film ini memperlihatkan bagaimana ambisi dapat mendorong seseorang melakukan hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Akan tetapi, ketika Tae-soo mulai mengetahui tujuan sebenarnya dari pihak yang memberinya tugas, ia harus menentukan apa yang lebih penting antara karier yang selama ini diimpikannya atau sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Selain Tae-soo, para pegawai kebun binatang juga menjadi bagian penting dalam cerita. Mereka bukan sekadar pelengkap komedi, melainkan orang-orang yang memiliki pekerjaan, tanggung jawab, dan tempat yang ingin mereka pertahankan. 

Film ini juga menyentil cara perusahaan memandang keuntungan. Kebun binatang yang seharusnya menjadi tempat untuk mengenal satwa justru diperlakukan sebagai aset bisnis. Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, kesejahteraan hewan, nasib pegawai, dan lingkungan dapat dengan mudah dikesampingkan.

Pesan tersebut disampaikan melalui komedi sehingga tidak terasa seperti ceramah panjang, meskipun persoalan yang dibahas sebenarnya cukup serius. Dari segi cerita, Secret Zoo memang memiliki beberapa bagian yang mudah ditebak.

Premisnya lebih kuat daripada kejutan alurnya, dan sebagian konflik diselesaikan dengan cara yang terasa sederhana. Namun, penampilan Ahn Jae-hong yang ekspresif, ditambah kekompakan para pemain, membuat film ini tetap menyenangkan untuk ditonton.

Pada akhirnya, Secret Zoo mengingatkan kita bahwa bertahan hidup bukan berarti harus selalu mengikuti apa yang diperintahkan. Ada saatnya kita perlu berhenti dan mempertanyakan apakah sesuatu yang kita kejar benar-benar sepadan dengan hal-hal yang harus dikorbankan.

Sebab, pekerjaan memang penting. Penghasilan dan masa depan juga perlu diperjuangkan. Namun, jangan sampai kita terlalu sibuk memainkan peran agar dianggap berhasil, sampai lupa bahwa kita juga berhak menentukan bagaimana hidup ini seharusnya dijalani.