Sekar Anindyah Lamase | Dian Haerani
The Roundup: Punishment (Instagram/lovely_winona)
Dian Haerani

Dulu, ketika membayangkan dunia kriminal, kita mungkin langsung teringat pada transaksi ilegal di tempat tersembunyi, kelompok bersenjata, atau pertemuan rahasia di sudut kota.

Namun, bagaimana jika kejahatan sekarang bisa dijalankan melalui layar komputer, aplikasi, dan jaringan digital yang sulit dilacak? Teknologi memang membuat hidup lebih mudah, tetapi di tangan orang yang salah, kemudahan itu juga bisa menjadi alat untuk merugikan banyak orang.

Gagasan tersebut menjadi salah satu daya tarik The Roundup: Punishment (2024), film aksi kriminal Korea Selatan yang dibintangi Ma Dong-seok dan Kim Mu-yeol. Film keempat dalam seri The Roundup ini mengikuti detektif Ma Seok-do yang menyelidiki kasus perdagangan narkoba melalui aplikasi pengiriman. Penyelidikan itu membawanya pada jaringan perjudian daring ilegal berskala besar yang beroperasi hingga ke Filipina.

Di balik jaringan tersebut, ada Baek Chang-ki, mantan tentara pasukan khusus yang mengendalikan bisnis dengan kekerasan, penculikan, dan pembunuhan. Ia bekerja bersama Jang Dong-cheol, seorang CEO perusahaan teknologi yang memiliki ambisi lebih besar untuk memperluas bisnis ilegal mereka di Korea Selatan.

Keduanya menjadi lawan yang berbeda bagi Ma Seok-do. Baek mengandalkan kemampuan bertarung dan intimidasi, sementara Dong-cheol memanfaatkan kecerdasan serta teknologi. Untuk menghentikan mereka, Ma harus bekerja sama dengan tim investigasi siber dan kembali melibatkan Jang I-soo dalam operasi yang semakin rumit.

Dari premisnya, film ini menawarkan konflik yang terasa relevan dengan kehidupan sekarang. Kita semakin bergantung pada teknologi untuk bekerja, berbelanja, berkomunikasi, bahkan mencari hiburan. Namun, tidak semua yang tersedia secara daring aman dan dapat dipercaya.

Di balik kemudahan yang ditawarkan, selalu ada kemungkinan penyalahgunaan yang bisa merugikan orang lain. Film ini memperlihatkan bahwa kejahatan tidak selalu membutuhkan penampilan yang mencurigakan.

Ada pihak yang menjalankan bisnis dengan tampilan profesional, memanfaatkan sistem digital, dan menyembunyikan tindakan kriminal di balik aktivitas yang tampak biasa. Hal ini membuat penanganan kejahatan menjadi lebih rumit karena penegak hukum tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan fisik.

Meski begitu, The Roundup: Punishment tidak kehilangan identitasnya sebagai film aksi. Ma Seok-do tetap menjadi pusat perhatian dengan gaya bertarungnya yang brutal dan khas. Setiap kali ia berhadapan dengan lawan, penonton disuguhi pukulan keras, perkelahian intens, dan humor yang muncul di tengah situasi serius.

Namun, menurut saya, salah satu aspek paling menarik justru terletak pada karakter Baek Chang-ki. Kim Mu-yeol menghadirkan penjahat yang dingin, minim basa-basi, dan tidak membutuhkan banyak kata untuk menunjukkan betapa berbahayanya dirinya.

Berbeda dari tokoh antagonis yang gemar menjelaskan rencana atau memamerkan kekuasaan, Baek lebih sering berbicara melalui tindakannya. Kehadirannya memberikan tantangan fisik yang cukup sepadan bagi Ma Seok-do.

Di sisi lain, film ini juga mempertahankan unsur komedi melalui interaksi antarkarakter, terutama ketika Ma dan timnya harus menghadapi situasi yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Perpaduan aksi dan humor membuat cerita tetap menghibur tanpa terus-menerus berada dalam suasana tegang.

Meski demikian, alur film ini cukup mengikuti formula yang sudah dikenal dari seri sebelumnya. Penonton dapat memperkirakan bahwa penyelidikan akan berujung pada konfrontasi besar antara polisi dan penjahat. Beberapa karakter pendukung juga tidak mendapatkan ruang pengembangan yang terlalu mendalam.

Namun, bagi pencinta film aksi, pertarungan yang solid dan karakter utama yang kuat tetap menjadi daya tarik tersendiri. Pada akhirnya, The Roundup: Punishment mengingatkan kita bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membuat dunia menjadi lebih aman.

Selalu ada orang yang berusaha memanfaatkan sistem demi keuntungan pribadi. Kita memang tidak bisa mengawasi setiap sudut dunia digital, tetapi kita bisa belajar untuk lebih berhati-hati terhadap layanan yang digunakan dan tidak mudah tergiur oleh tawaran yang mencurigakan.

Sebab, ketika kejahatan terus berkembang mengikuti zaman, penegakan hukum juga harus berani beradaptasi, karena kecanggihan teknologi tidak boleh menjadi alasan bagi pelaku kejahatan untuk merasa kebal.