Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Salah satu adegan di serial Love, Death & Robots Volume 2 (IMDb)
Ryan Farizzal

‎Love, Death & Robots Volume 2 dirilis secara global pada 14 Mei 2021 sebagai kelanjutan antologi animasi dewasa yang diproduksi oleh Tim Miller dan David Fincher. Berbeda dengan Volume 1 yang terdiri dari 18 episode, Volume 2 hanya menampilkan delapan cerita pendek dengan durasi rata-rata 10 hingga 15 menit.

Setiap episode berdiri sendiri, menampilkan gaya animasi yang beragam, serta mengeksplorasi tema fiksi ilmiah, distopia, horor, dan refleksi filosofis mengenai kehidupan, kematian, serta teknologi.

Secara keseluruhan, volume ini terasa lebih matang dan terfokus pada kedalaman narasi dibandingkan pendahulunya yang lebih banyak menonjolkan kekerasan dan humor kasar.

‎Love, Death & Robots Volume 2 telah tersedia di Netflix wilayah Indonesia sejak tanggal rilis globalnya, yaitu 14 Mei 2021. Seluruh episode dapat ditonton dengan subtitle bahasa Indonesia. Hingga saat ini, serial tersebut masih dapat diakses melalui langganan Netflix di Indonesia.

Perjalanan Emosional di Tengah Dunia Robotik Modern

Salah satu adegan di serial Love, Death & Robots Volume 2 (IMDb)

Volume 2 dibuka dengan episode yang berjudul Automated Customer Service, kisah seorang lansia yang menghadapi robot pembersih rumah yang tiba-tiba berubah menjadi mesin pembunuh. Episode ini menyajikan satir tajam terhadap layanan pelanggan otomatis dan ketergantungan manusia modern pada teknologi. Gaya animasinya yang kartunis memberikan nuansa humor gelap yang efektif sebagai pembuka.

‎Sedangkan episode yang berjudul Ice menampilkan dunia es di mana sebagian manusia telah dimodifikasi secara genetik untuk memiliki kekuatan dan ketahanan luar biasa. Konflik antara saudara kandung yang lunmodded dan modded menjadi inti cerita. Visual pemandangan es yang keras serta adegan balapan berbahaya di atas permukaan beku memberikan daya tarik visual yang kuat.

‎Episode dengan judul Pop Squad merupakan salah satu episode paling kuat. Di masa depan di mana manusia dapat hidup abadi, memiliki anak dilarang keras demi mengendalikan populasi. Seorang petugas polisi yang bertugas membunuh anak-anak ilegal mengalami krisis moral yang mendalam. Episode ini berhasil mengeksplorasi tema overpopulasi, harga keabadian, dan batas kemanusiaan dengan pendekatan emosional yang intens.

‎Kalau episode yang judulnya Snow in the Desert menghadirkan aksi di planet gurun yang gersang. Snow, seorang pria albino yang abadi, diburu oleh berbagai pemburu bayaran. Setelah diselamatkan oleh seorang wanita misterius bernama Hirald, cerita berkembang menjadi pertarungan survival yang penuh ketegangan dan twist mengenai sifat keabadian itu sendiri.

‎Lain lagi episode dengan judul The Tall Grass, ia mengadopsi nuansa horor kosmik. Seorang penumpang kereta yang berhenti mendadak di tengah padang rumput tinggi tertarik oleh cahaya aneh dan menemukan sesuatu yang mengerikan. Episode ini berhasil membangun suasana cemas secara perlahan dan efektif.

‎Kemudian, espisode yang judulnya All Through the House merupakan cerita pendek bertema Natal yang menyimpang. Dua anak mencoba melihat Sinterklas, akan tetapi yang mereka temukan jauh dari ekspektasi. Gaya animasinya yang mengingatkan pada special Natal klasik Rankin/Bass memberikan kontras menarik dengan isi cerita yang gelap dan mengganggu.

‎‎Kalau episode dengan judul Life Hutch menampilkan Michael B. Jordan sebagai pilot yang terdampar dan harus bertahan hidup di dalam kapsul perlindungan yang dilengkapi kecerdasan buatan berbahaya. Episode ini menegangkan, dengan fokus pada ketegangan klaustrafobik dan pertarungan manusia melawan mesin di ruang terbatas.

‎‎Volume 2 ditutup dengan dengan episode yang berjudul The Drowned Giant, adaptasi cerita J.G. Ballard yang disutradarai Tim Miller. Sebuah mayat raksasa terdampar di pantai, dan masyarakat setempat bereaksi dengan rasa ingin tahu, eksploitasi, hingga akhirnya melupakannya. Episode ini bersifat kontemplatif, hampir tanpa dialog berlebihan, dan menjadi refleksi mendalam tentang kematian, mortalitas, serta sifat manusia yang mudah teralihkan perhatiannya.

Review Serial Love, Death & Robots Volume 2

Salah satu adegan di serial Love, Death & Robots Volume 2 (IMDb)

Beberapa adegan yang paling menegangkan dan penuh aksi terdapat di episode Snow in the Desert. Pertarungan antara Snow dan para pemburu bayaran di padang pasir, lengkap dengan tembakan, pengejaran, serta twist mengenai identitas Hirald, memberikan ketegangan tinggi dan visual aksi yang dinamis.

Adegan di episode Life Hutch juga sangat seru, khususnya saat sang pilot harus menghadapi robot yang semakin agresif di dalam ruang terbatas.

Ketegangan klaustrafobik dan keputusan-keputusan cepat menciptakan rasa mencekam yang intens. Di Ice, adegan balapan di atas es yang retak dan ancaman dari makhluk laut raksasa juga menjadi momen adrenalin yang menonjol.

‎Adegan paling berkesan hadir di episode The Drowned Giant. Proses dekomposisi tubuh raksasa yang diamati secara perlahan—dari objek ilmiah menjadi atraksi wisata, kemudian sumber daya, hingga hanya tulang yang tersisa—meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana manusia memperlakukan kematian dan keajaiban.

Pada epislde Pop Squad, momen ketika petugas Briggs berhadapan langsung dengan anak-anak ilegal dan harus menghadapi konsekuensi moral dari pekerjaannya sangat mengena secara emosional.

Adegan penutup episode tersebut meninggalkan pertanyaan yang bertahan lama mengenai harga keabadian. Sementara pada episode All Through the House, twist mengenai Sinterklas memberikan kejutan yang berkesan sekaligus mengganggu dalam konteks cerita Natal.

Jadi kesimpulannya, Love, Death & Robots Volume 2 berhasil mempertahankan daya tarik antologi animasi dewasa dengan kualitas visual tinggi dan cerita yang beragam.

Meskipun tidak semua episode mencapai tingkat yang sama, episode-episode seperti Pop Squad, The Drowned Giant, dan Snow in the Desert menunjukkan kekuatan format pendek dalam menyampaikan ide-ide kompleks.

Serial ini cocok buat kamu yang mencari fiksi ilmiah reflektif, horor, dan aksi dalam dosis yang padat dan terukur. Rating pribadi: 8.3/10.‎