Kejujuran bisa jadi modal paling berharga bagi seorang pemimpin, sekaligus tiket tercepat menuju kehancuran karir politiknya. Premis inilah yang ditawarkan Bapak Paling Jujur, film drama komedi Indonesia garapan Fajar Nugros yang tayang di bioskop mulai 15 Oktober 2026.
Diproduksi Cahaya Pictures bersama Studio Antelope, film berdurasi ±103 menit ini dibintangi Andovi da Lopez, Claresta Taufan Kusumarina, Benidictus Siregar, Indy Barends, Soleh Solihun, Nayla D. Purnama, dan David Nurbianto. Skenarionya ditulis Rino Sarjono, sementara film ini mendapat klasifikasi usia Remaja 13 tahun ke atas dari Lembaga Sensor Film.
Ceritanya terkait Jonas Prakoso (Andovi da Lopez), calon gubernur muda yang piawai membangun citra sebagai pemimpin ideal. Bersama sahabat sekaligus kepala tim suksesnya, Marbun (Benidictus Siregar), Jonas merancang strategi kampanye demi merebut hati rakyat. Semuanya berjalan sesuai rencana sampai kutukan dari neneknya, Suherlin (Indy Barends), membuat Jonas kehilangan kemampuan berbohong sekaligus menyaring perkataan. Rahasia, pikiran spontan, dan pengakuan memalukan mulai meluncur tanpa kendali di hadapan keluarga, tim kampanye, lawan politik, hingga masyarakat. Citra sempurna yang susah payah dibangun pun terancam runtuh.
Amunisi Menyindir Politik Pencitraan
Dari premis tersebut, Bapak Paling Jujur punya amunisi untuk menyindir politik pencitraan yang kerap lebih sibuk mengemas penampilan ketimbang membuktikan kualitas kepemimpinan. Janji kampanye, keramahan di depan kamera, dan kesan merakyat bisa jadi bahan satir yang mengena. Namun, sindiran politik baru terasa tajam ketika berani membongkar pola dan kepentingan di balik pencitraan, bukan cuma menertawakan politisi yang keceplosan. Kalau kritiknya berhenti pada kekonyolan Jonas, film ini cuma jadi hiburan sesaat tanpa gigitan berarti.
Persoalan berikutnya terletak pada komedi kejujurannya. Bayangkan seorang kandidat yang harus berbicara di depan publik, sementara pikirannya bisa berubah jadi bumerang kapan saja. Situasi tersebut memang menjanjikan humor absurd. Sayangnya, pola seseorang membongkar rahasia, membuat orang lain tersinggung, lalu menghadapi kekacauan, bisa terasa repetitif apabila terus dipakai sebagai mesin lelucon. Komedi yang kuat butuh variasi, kejutan, dan konsekuensi yang berkembang. Kejujuran Jonas semestinya melahirkan konflik yang makin rumit, bukan sekadar rangkaian momen memalukan.
Dari sisi karakter, perihal kutukan dalam film, seharusnya jadi media bagi Jonas mengenali dirinya sendiri. Selama ini, dia terbiasa mengatur kata-kata demi kepentingan politik. Ketika kendali itu hilang, kesempatan untuk memperlihatkan pertentangan antara ambisi, moralitas, dan tanggung jawab terbuka lebar. Kalau karakter Jonas hanya jadi korban keadaan yang terus bereaksi pada kekacauan, perkembangan karakternya tentu terasa dangkal.
Film ini juga diadaptasi dari komedi Brasil O Candidato Honesto (2014), yang menginspirasi versi Korea Selatan Honest Candidate (2020). Karena itu, tantangan adaptasi lokalnya cukup besar. Konteks politik Indonesia punya budaya pencitraan, relasi kekuasaan, dan kebiasaan komunikasi publik yang khas. Memasukkan nama, latar, serta lelucon lokal saja belum cukup untuk membuat cerita terasa dekat. Satirnya perlu menyentuh kegelisahan masyarakat sendiri tanpa berubah jadi tempelan referensi politik yang cepat basi.
Intinya, Film Bapak Paling Jujur membawa kisah menjanjikan dengan ruang kritik yang luas. Namun, potensi tersebut baru bernilai ketika humor dalam film ini mampu berjalan beriringan dengan keberanian menyentil kekuasaan dan kedalaman karakternya. Fakta yang dikomedikan boleh saja jadi sumber tawa, tapi satir politik yang berkesan seharusnya meninggalkan sesuatu untuk dipikirkan setelah penonton selesai tertawa.
Sobat Yoursay yakin nggak tertarik nonton Film Bapak Paling Jujur yang kekonyolannya sukses bikin ngakak? Buruan deh, meluncur ke bioskop. Selamat menonton, ya.
Baca Juga
-
Review Crawlers: Teror Laba-Laba Mengubah Apartemen Jadi Ruang Paling Maut
-
Review Sacrifice: Satir Kaum Superkaya dan Ambisi Selamatkan Bumi
-
Review Djamin Setia Selamanya: Cinta dan Perjuangan yang Terlalu Padat
-
Review Film Cidro Asmoro: Viral Semalam, Persahabatan Ikut Berubah Drastis
-
Review Aplikasi Iblis: Balas Dendam yang Gagal Menggali Kedalaman Emosi
Artikel Terkait
-
Nobar Film Bapak Paling Jujur, Anies Baswedan Bicara soal Integritas hingga Sentilan Politik
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
-
Review Film Ditto (2022): Panggilan dari Masa Lalu dan Spoiler Masa Depan
-
Review Clayface: Tragedi Kelam sang Aktor Gotham dalam Teror Body Horror!
-
Review Empat Musim Pertiwi: Saat Trauma, Horor, dan UFO Menyatu di Bromo
Ulasan
-
Dulu Benci, Sekarang Relate: Mengapa Squidward Adalah Cermin Pekerja Modern
-
Love, Death & Robots Volume 2: Kumpulan Antologi Cerita Pendek yang Terbaik
-
Review 12.12: The Day, Ketika Ambisi Satu Orang Jadi Bencana Banyak Orang
-
Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
Terkini
-
Bahasa Indonesia Era Gen Z: Bertahan, Berubah, atau Kehilangan Identitas?
-
Sinopsis Mad Blackfin, Dracin Kriminal Dibintangi Wei Xiang dan Sha Yi
-
Nasib Hutan Papua jika Burung Cenderawasih Kehilangan Habitat dan Pohon Pakan
-
Nubia REDMAGIC 12 Pro+ Menggoda Gamer, Layar Tanpa Notch dan Kipas 25.500 RPM
-
Menjawab Kritik Polisi Bahasa: Mengapa Kita Harus Berhenti Menganggap Bahasa Sedang Rusak