Setelah sukses memerankan karakter Rangga dalam film musical Rangga & Cinta (2025), El Putra berhasil mencuri perhatian di dunia entertainment. Pria kelahiran 30 Desember 2003 ini muncul membawa angin segar tidak hanya dengan bakat aktingnya, tetapi juga dengan kepribadiannya yang dinilai adem, tenang, dan idaman para wanita.
Awal perjalanan El Putra di dunia hiburan sebelum debut akting sebagai Rangga cukup unik. Tahun 2024 sebelum resmi menjadi aktor, El Putra sempat viral di media sosial setelah terpilih secara acak untuk duet dengan Lyodra Ginting di salah satu konser di Makassar.
Tidak hanya pandai berakting, El Putra ternyata juga memiliki bakat di bidang musik. Ia berhasil membuktikan kepiawaiannya memainkan gitar dan piano saat mengisi soundtrack film debutnya sendiri, yakni ‘Suara Hati Seorang Kekasih’.
Sisi lain El Putra, persis seperti sosok Rangga yang ia perankan, ternyata juga suka membaca buku. Hobi yang satu ini kerap ia bagikan ke media sosial sembari ‘meracuni’ penggemar dan followers-nya untuk turut membaca buku-buku rekomendasinya.
Pada salah satu wawancara, El Putra membagikan tiga buku rekomendasi yang sudah ia baca, dua di antaranya karya penulis lokal. Penasaran buku apa saja yang direkomendasikan El Putra? Berikut daftarnya!
1. Di Tanah Lada
Novel yang berhasil meraih Juara 2 dalam Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014 ini mengangkat isu yang cukup berat, di antaranya seputar kekerasan dalam rumah tangga, trauma, hingga penelantaran anak.
Meski demikian, isu-isu berat tersebut disajikan secara unik melalui sudut pandang anak-anak. Cerita berpusat pada Salva atau Ava, seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang dianugerahi kecerdasan linguistik luar biasa.
Ava tumbuh menjadi anak yang sangat fasih berbahasa Indonesia, sayang kecerdasannya itu justru diabaikan oleh orang dewasa di sekitarnya. Kehidupan Ava jauh dari kata bahagia karena ayahnya memiliki kepribadian yang abusif, pemabuk, serta gemar berjudi.
Selain Ava, ada tokoh lainnya bernama P. Ia adalah anak laki-laki berusia 10 tahun yang menjadi pengamen jalanan di sekitar rusun Nero. Ia dan Ava akhirnya bersahabat dekat dan menjadi sosok pelindung bagi Ava.
Keduanya memutuskan untuk melakukan petualangan untuk menemukan ‘Tanah Lada’, sebuah tempat yang mereka bayangkan penuh dengan kasih sayang, ketenangan, serta bebas dari kekejaman orang dewasa.
2. Mereka Bilang, Saya Monyet!
Buku ini berisi kumpulan cerita pendek debut karya penulis lokal Djenar Maesa Ayu yang terbit sekitar tahun 2002. Buku ini juga sudah diadaptasi ke dalam film layar lebar yang tayang tahun 2008.
Karya populer ini dengan berani mengangkat isu-isu tabu yang kerap dihadapi perempuan, seperti kekerasan domestik, trauma akibat pelecehan seksual hingga standar ganda yang masih lumrah ditemui di masyarakat.
Cerpen utama yang tertuang dalam buku ini menceritakan kisah dari sudut pandang seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya. Sang tokoh utama terbiasa hidup dalam kepura-puraan di balik topeng kesopanan.
Di balik topeng kesopanan tersebut, mereka justru kerap memperlakukan sang tokoh utama secara tidak manusiawi. Dengan kejam mereka menyebutnya sebagai ‘monyet’. Ironisnya, orang-orang yang merasa terhormat ini justru bertindak mengikuti nafsu hewani.
3. Tuesday with Morrie
Tuesday with Morrie adalah sebuah memoar nyata sekaligus buku filsafat kehidupan populer yang menceritakan tentang rangkaian pertemuan terakhir antara sang penulis dengan mantan profesor sosiologinya semasa kuliah dulu.
Cerita dibuka ketika Mitch Albom telah sukses menjadi seorang jurnalis olahraga, tetapi hidupnya sangat sibuk dan dipenuhi ambisi materi yang menyebabkan jiwanya jadi terasa hampa.
Hingga suatu malam, ia tidak sengaja melihat profesor lamanya di universitas sedang diwawancarai di acara televisi Nightline. Lewat acara ini, Mitch mengetahui bahwa sang profesor yang ramah itu kini mengidap ALS, salah satu penyakit saraf mematikan yang perlahan melumpuhkan seluruh tubuhnya.
Keputusan Mitch untuk mengunjungi Morrie, sang profesor, di rumahnya berlanjut menjadi pertemuan rutin setiap hari Selasa. Di sisa-sisa terakhir hidup Morrie, hari Selasa menjadi hari istimewa ketika ia dan Mitch menggelar kelas kuliah terakhir dengan topik utama tentang kehidupan.
Baca Juga
-
Suka Baca tapi Terhalang Budget? 5 Situs Baca Gratis yang Bisa Kamu Pakai
-
Tadabbur Novel Pareidolia: Hidup Sejatinya adalah Permainan dan Senda Gurau
-
Review The Good Son: Thriller Psikologis yang Siap Mengacaukan Pikiranmu
-
4 Episode Pertama Between Steps: Dinamika Hubungan di Tengah Lab Robotika
-
5 Pesan Moral Four Hands Two Sonatas: Sisipkan tentang Trauma dan Ambisi
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bapak Paling Jujur: Sindiran Tajam untuk Budaya Politik Pencitraan di Indonesia
-
Dulu Benci, Sekarang Relate: Mengapa Squidward Adalah Cermin Pekerja Modern
-
Love, Death & Robots Volume 2: Kumpulan Antologi Cerita Pendek yang Terbaik
-
Review 12.12: The Day, Ketika Ambisi Satu Orang Jadi Bencana Banyak Orang
-
Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online
Terkini
-
Rahasia Bumbu Aromatik Masakan Nusantara dan Segudang Manfaat Kemangi
-
Dari Kue Hingga Skincare, Matcha Dimodifikasi Sejauh Ini Demi Bisa Disukai?
-
Bahasa Indonesia Era Gen Z: Bertahan, Berubah, atau Kehilangan Identitas?
-
Sinopsis Mad Blackfin, Dracin Kriminal Dibintangi Wei Xiang dan Sha Yi
-
Nasib Hutan Papua jika Burung Cenderawasih Kehilangan Habitat dan Pohon Pakan