Lady Nayoan dan Rendy Kjaernett kini telah memutuskan rujuk. Baru-baru ini, keduanya pun sudah tampil bersama di depan publik sambil menunggu akta perdamaian dari pihak Pengadilan.
Pasangan suami istri itu pun kembali tampil di sejumlah podcast untuk kembali menyampaikan masalah rumah tangganya.
Dalam podcast bersama Denny Sumargo, Lady Nayoan mengungkapkan momen ketika keduanya kembali bertemu usai Lady pergi dari ruamh bersama putra bungsuanya.
Lady Nayoan menyampaikan bahwa Rendy Kjaernett menghubunginya karena anak kedua mereka demam tinggi.
Saat itu, kata Lady, Rendy mengungkap akan keluar dari rumah asalkan dia pulang menjaga anak perempuannya, Emma yang lagi sakit. Namun keesokan paginya, diungkap Lady Nayoan suaminya itu pulang ke rumah.
"Sampai akhirnya dia bilang kamu pulang karena anak kedua gue badannya panas. Kamu please pulang, kalau kamu mau aku yang pergi, aku udah pergi. Gue pulang, paginya dia datang jam 6 gue lagi tidur," kata Lady.
Rendy Kjaernett menyampaikan bahwa dia sengaja pulang pada pagi itu demi untuk berbicara dengan istrinya terkait permasalahan rumah tangganya.
"Gue sengaja pulang pagi, gue ajak ngobrol. Ya nanya kamu kenapa, kenapa ini semua harus terjadi. Gue sebagai manusia kaget, kita semua kaget," tutur Rendy Kjaernett.
"Terus akhirnya gue tanya kenapa, tapi gue bilang kalau ini memang cara kamu ngeluarin marah kamu selesaiin. Keluarin aja semua marahnya, jangan ada yang disisain, gue terima gue salah," kata Rendy Kjaernett.
Sementara itu, Lady Nayoan menyampaikan bahwa Rendy Kjaernett meminta maaf sembari sujud di kakinya.
Melihat sang suami melakukan hal seperti itu, Lady Nayoan memilih diam tak bergeming sama sekali dan langsung mengutarakan soal gugatan cerai.
"Dia minta maaf dia sujud di kaki aku terus aku diem aja. Terus aku cuma bilang pas pertama kali aku bilang aku gugat cerai, sudah tanda tangan surat kuasa," tutur Lady Nayoan.
"Kalau kamu sayang seperti yang kamu bilang ke aku, kamu enggak mau sakitin aku, ikuti aja perceraian ini. Jangan ribut dengan perceraian ini, terus yaudah," sambungnya.
Penuturan Lady Nayoan itu hanya bisa membuat Rendy Kjaernett pasrah, meskipun ia tak ingin berpisah dari sang istri.
Mendengar hal itu, Rendy pasrah. Padahal dirinya sama sekali tak ingin berpisah dari istrinya.
"Gue di posisi bersalah, kalau dari hati enggak mau. Intinya gue mau ngomong jangan gini tapi ini enggak bisa. Di situ posisi gue sendiri banget," kata Rendy Kjaernett.
Baca Juga
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Pendidikan Tinggi, Tapi Ekspektasi Lama: Dilema Perempuan di Dunia Akademik
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan
Artikel Terkait
-
5 Artis Tetap Mempertahankan Rumah Tangganya Meski Diselingkuhi Pasangan, Dari Lady Nayoan hingga Nagita Slavina
-
Nikita Mirzani Sindir Pasutri yang Rujuk dan Tetap Umbar Masalah: Jangan Bangga Diundang ke Podcast
-
Rendy Kjaernett Sempat Marah Lady Nayoan Bongkar Perselingkuhannya, tapi Sadar Gegara DM Netizen
-
Rendy Kjaernett dan Lady Nayoan Rujuk, Dokter Richard Lee Menang Taruhan
-
Rendy Kjaernett Merasa Tak Pantas Selamat dari Kecelakaan Mobil: Dosa Gue Banyak ke Lady
Entertainment
-
Sinopsis Lets Begin Again, Drama Thailand Dibintangi Namtarn Pichukkana
-
5 Film Baru Sambut Akhir Pekan, Ada Salmokji dan Devil Wears Prada 2
-
Diisi Para Aktor Ternama, Netflix Produksi Film Politik Baru The Generals
-
Sempat Ramai, Sekuel Film Clueless Batal Dibuat
-
Tiket Ludes Sekejap! Fanmeeting NCT JNJM 'Duality' di Jakarta Tambah Hari
Terkini
-
DIY Kalung Makrame untuk Anabul: Modal 25 Ribu, Hasilnya Mewah!
-
Pendidikan Tinggi, Tapi Ekspektasi Lama: Dilema Perempuan di Dunia Akademik
-
Rel Padat dan Sistem Renggang: Catatan Kritis dari Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
-
Bukan Sekadar Film Laga, Mengapa 'Ikatan Darah' Justru Bikin Merinding?
-
Saya Memihak Menteri PPPA: Menempatkan Lelaki di Depan Bukan Diskriminasi, Tapi Logika Perlindungan