Suara minyak panas, aroma tempe yang baru diangkat dari wajan, dan udara dingin sore khas Purwokerto selama ini mungkin biasa bagi warga Banyumas. Namun, dari kebiasaan itulah film dokumenter Polifoni Mendoan lahir, yang mana membawa mendoan naik ke layar perfilman sebagai wajah budaya yang hidup bersama masyarakatnya.
Film Polifoni Mendoan resmi digarap melalui program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Menariknya lagi, film ini nggak sebatas dokumentasi makanan khas daerah, melainkan usaha untuk menangkap jiwa masyarakat Banyumas melalui sesuatu yang selama ini terasa begitu dekat dengan keseharian mereka.
Di balik proyek ini ada sosok King Anugrah Wiguna, sutradara sekaligus dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Jenderal Soedirman. Ide film tersebut berhasil lolos hibah Dana Indonesiana 2025 dalam skema Karya Kreatif Inovatif yang dikelola melalui dana abadi kebudayaan nasional.
Nah, proyek ini menarik berkat cara mereka memandang mendoan. Selama ini orang mungkin hanya mengenalnya sebagai gorengan warga Banyumas. Padahal, bagi masyarakat lokal, mendoan punya posisi yang jauh lebih intim ketimbang sebatas camilan.
“Mendoan ada di mana-mana, tapi jarang sekali kita benar-benar mendiskusikannya,” ujar King.
Perkataannya mudah dipahami dan jadi inti dari dokumenter ini. Karena memang benar, ada banyak budaya kecil yang hidup bersama masyarakat setiap hari, tapi sering dianggap terlalu biasa untuk dibicarakan lebih jauh. Mendoan adalah salah satunya.
Dalam Polifoni Mendoan, tempe goreng berbalut tepung tipis itu diposisikan sebagai wajah budaya Banyumas yang hidup yang hadir di meja warung kopi, di angkringan pinggir jalan, di perjalanan menuju kawasan Baturaden, bahkan dalam momen-momen sederhana yang membentuk ingatan kolektif masyarakat Banyumas.
Setelah berdiskusi dengan penulis naskah Abdul Aziz Rasjid, tim kreatif akhirnya menjadikan mendoan sebagai ‘tanda’ kedekatan emosional warga Banyumas. Sebab di balik satu potong mendoan hangat, ada cerita tentang kebersamaan, ekonomi rakyat kecil, hingga wajah daerah yang terus bertahan di tengah modernisasi.
Film ini juga nggak berhenti di sisi romantisme kuliner semata. Dokumenter tersebut merekam kehidupan sosial orang-orang yang hidup bersama mendoan: pengrajin tempe, pedagang kaki lima, hingga para penikmatnya. Ada semacam usaha memperlihatkan makanan tradisional bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang rantai kehidupan yang menopangnya.
Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi di Kabupaten Banyumas, mulai dari Desa Pliken, pusat Kota Purwokerto, kawasan Baturaden, hingga Desa Kebocoran. Lokasi-lokasi itu dipilih untuk memperlihatkan perjalanan mendoan dari dapur produksi sampai akhirnya disantap hangat masyarakat.
Secara pendekatan, Polifoni Mendoan menggunakan gaya dokumenter Poetic-Expository dengan konsep polifoni. Artinya, film ini mencoba menghadirkan banyak suara sekaligus dalam satu harmoni budaya. Ada suara pembuat tempe, penjual, pembeli, hingga suasana jalanan Banyumas yang menjadi rumah bagi mendoan itu sendiri.
Nuansa Banyumasan juga diperkuat lewat kehadiran Aksara Dena sebagai narator utama. Selain itu, mayoritas tim kreatif dan kru berasal dari Banyumas dan Purwokerto, membuat film ini terasa lahir langsung dari tanah yang sedang mereka ceritakan.
Menariknya, di tengah maraknya dokumenter yang mengangkat isu besar atau tema yang megah, Polifoni Mendoan memilih sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Begitulah, karena kadang budaya paling penting bukanlah yang paling mewah, melainkan yang selalu hadir di meja makan, di obrolan sore, dan di ingatan banyak orang sejak kecil.
Dan mungkin benar, mendoan bukan cuma gorengan, melainkan suara kecil dari warga Banyumas yang selama ini terus hidup. Mari kita nantikan kabar menarik serta perilisan Film Polifoni Mendoan, ya, Sobat Yoursay!
Baca Juga
-
Pencarian Identitas yang Menyayat Hati: Mengapa Abandoned di Disney+ Lebih dari Sekadar Dokumenter
-
Review Film Moana: Saat Disney Kembali Berlayar dalam Balutan Live-Action
-
Review Color Book: Meramu Duka Menjadi Perjalanan Cinta yang Begitu Tulus
-
Film Shelter Membuktikan Jason Statham Bisa Berhenti Menjadi Mesin Pembunuh
-
Gintama: Yoshiwara in Flames Menebas Cara Kita Memandang Korban Penindasan
Artikel Terkait
-
Tayang Juli, Film Anime Crayon Shin-chan ke-33 Ungkap 7 Pengisi Suara Yokai
-
Viral! Mama Papua Kecewa, Suara dan Wajahnya Dipakai Tanpa Izin di Film Pesta Babi
-
Curhat Menteri Pendidikan Saat Nobar Children of Heaven: Pakai Sepatu Seminggu Sekali
-
Kisah Tragedi Berdarah di Apartemen Virgil dalam film, They Will Kill You
-
Manga Horor Junji Ito, The Long Hair in the Attic Siap Diangkat Jadi Film Live Action
Entertainment
-
Romansa Quinn dan Staten Berlanjut di Ransom Canyon Season 2
-
Tayang 21 Juli, Lee Seok Hoon dan DinDin Jadi Pembawa Acara di Playlist 109
-
Lama Dinanti, Delicious in Dungeon Season 2 Tayang Oktober 2027 di Netflix
-
L INFINITE Dipastikan Absen dari Tur Fan Meeting, Agensi Ungkap Alasannya
-
Mulai Rp 1,45 Juta, Ini Harga Tiket Konser ENHYPEN 'Blood Saga' di Jakarta
Terkini
-
Seni Menghadapi Tetangga Cerewet dan Julid: Manfaatkan Situasi dengan Baik!
-
Review Moana Live Action: Hadirkan Sentuhan Budaya Polinesia yang Autentik
-
Bye Kemerahan! 4 Moisturizer Cream Madecassoside Cocok untuk Kulit Kering
-
Rumah Kecil dengan Seribu Tawa
-
FIFA Turun Tangan Selidiki Dugaan Rasisme Terhadap YouTuber IShowSpeed