M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Poster Abandoned (Disney+)
Athar Farha

Selama ini, banyak dokumenter true crime dibangun di atas satu pertanyaan: siapa pelaku kejahatan? ‘Abandoned’ rupanya mengambil jalan yang jauh lebih menarik. Dokumenter empat episode di Disney+ yang tayang sejak 1 Juli 2026 ini nggak menjadikan kriminalitas sebagai pusat cerita semata, lho. 

Kejahatan hanya menjadi pintu masuk untuk membahas pertanyaan yang jauh lebih sulit dijawab. Apakah seseorang bisa mengenal dirinya lebih dalam bila nggak mengetahui dari mana dirinya berasal? Nah, Sutradara Carlos Alonso Ojea menjawabnya dalam Dokumenter Abandoned. 

Kisahnya perihal Ramon, Elvira, dan Ricard di tahun 1984 ketika mereka ditemukan sendirian di Estacio de Franca, Barcelona. Mereka masih kecil, tanpa identitas maupun keluarga, dan tanpa penjelasan mengapa mereka ditinggalkan. Seorang pria bernama Denis mengantar mereka ke stasiun dengan janji membeli permen, lalu menghilang begitu saja. Sejak saat itu, hidup mereka berubah selamanya.

Mereka memang akhirnya memperoleh keluarga baru melalui adopsi oleh Lluis dan Marisa yang membesarkan mereka dengan kasih sayang. Namun, kasih sayang ternyata nggak selalu mampu menghapus kekosongan hati. Ada bagian dari diri manusia yang tetap ingin mengetahui asal-usulnya, bukan semata-mata karena rindu pada orang tua kandung, tapi karena ‘identitas’ selalu berkaitan dengan cerita tentang dari mana seseorang datang.

Menemukan Kebenaran Kadang Memperumit Hidup Seseorang?

Begitulah yang kurasakan selama menontonnya. Semakin jauh Ramon, Elvira, dan Ricard menggali masa lalu, semakin jelas keluarga kandung mereka bukan korban keadaan semata. Identitas palsu, jaringan kriminal, kasus perampokan, hingga kelompok Gold Bandits of Andalucía perlahan muncul sebagai bagian dari sejarah keluarga mereka. Fakta-fakta tersebut memaksaku mempertanyakan satu hal terkait apakah mengetahui kebenaran selalu membawa kedamaian?

Yang membuat dokumenter ini begitu kuat adalah keberaniannya memperlihatkan bahwa jawaban nggak selalu menyembuhkan luka. Kadang jawaban justru menciptakan pertanyaan baru yang lebih menyakitkan.

Penyutradaraan juga memilih pendekatan yang sangat personal. Nggak ada narasi 'nakal' atau musik yang sengaja memaksa penonton menangis. Kamera lebih sering mengikuti ekspresi para tokohnya ketika membuka arsip lama, membaca dokumen, atau mencoba menghubungkan serpihan ingatan masa kecil yang nyaris hilang.

Salah satu bagian paling menarik adalah ketika Ramon berusaha mengingat detail-detail kecil yang selama ini tampak nggak berarti. Patung buaya di depan toko mainan, air mancur di taman, segelas susu hangat, hingga sosok perempuan tua berbaju hitam. Ingatan yang tampak remeh itu berubah menjadi petunjuk penting dalam investigasi. Dokumenter ini ibarat ngasih tahu kalau memori manusia sebenarnya bukan arsip yang tersusun rapi, melainkan potongan-potongan acak yang baru memperoleh makna ketika disusun kembali.

Namun, di sisi lain, ‘Abandoned’ juga memperlihatkan betapa rapuhnya ingatan. Aku diajak menyadari satu hal, memori nggak selalu bisa dipercaya sepenuhnya. Apa yang diingat seseorang bisa berubah seiring waktu, dipengaruhi trauma, bahkan bercampur dengan imajinasi. Karena itulah dokumenter ini nggak hanya mengandalkan kesaksian pribadi, tapi juga DNA, dokumen resmi, arsip kepolisian, hingga berbagai bukti lain untuk menyusun gambaran yang lebih utuh.

Oleh karena keputusan investigasi itu, apa yang disajikan jadi tampak kredibel, meski ritmenya sesekali melambat. Ada cukup banyak adegan pencarian arsip, pencocokan data DNA, surat elektronik, hingga percakapan WhatsApp yang bagiku terlalu teknis. Akan tetapi, proses yang lambat itu memperlihatkan bahwa menemukan identitas bukan pekerjaan instan seperti yang sering digambarkan dalam film.

Menariknya lagi, dokumenter ini nggak pernah menghakimi orang tua kandung mereka begitu saja. Aku memang diperlihatkan berbagai tindakan kriminal yang dilakukan, tapi dokumenter tetap menyisakan ruang untuk memahami kompleksitas situasi yang melatarbelakanginya. Pendekatan seperti ini membuat kisahnya lebih jujur ketimbang cuma membagi tokoh menjadi pihak baik dan pihak jahat.

Hubungan Ramon, Elvira, dan Ricard juga menjadi sisi emosional dokumenter ini. Di tengah berbagai kenyataan pahit yang terus terungkap, mereka tetap saling menguatkan. Ada banyak momen ketika mereka bercanda di sela penyelidikan yang berat. Kehangatan itu menjadi penyeimbang sehingga dokumenter nggak tenggelam dalam kesedihan.

Momen paling membekas justru bukan ketika fakta kriminal terbesar terungkap, melainkan ketika mereka kembali ke taman bermain masa kecil dan mengulang foto lama bersama. Adegan sederhana tersebut menyampaikan sesuatu yang sangat kuat. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tapi seseorang masih bisa menciptakan kenangan baru yang lebih sehat.

Hal lain yang patut diapresiasi adalah keberanian ‘Abandoned’ menolak memberikan akhir yang sepenuhnya memuaskan. Nggak semua misteri berhasil dipecahkan. Nasib orang tua kandung mereka masih menyisakan tanda tanya hingga dokumenter selesai. Dalam banyak dokumenter, akhir seperti ini mungkin dianggap menggantung.

Yup, begitulah. Kehidupan nyata memang jarang menawarkan penutupan yang sempurna. Nggak semua orang memperoleh jawaban lengkap atas luka masa kecilnya. Kadang proses pencarian itu sendiri menjadi bentuk penyembuhan.

Jangan lupa siapkan camilan saat nonton film dokumenter ini di Disney+, ya! Selamat menonton.