Lintang Siltya Utami | Agustian Pamungkas
Novelis ternama asal Irlandia, Sally Rooney. (BuzzFeed)
Agustian Pamungkas

Kabar mengejutkan datang dari dunia sastra internasional, khususnya bagi para penggemar novelis ternama asal Irlandia, Sally Rooney. Penulis yang sukses melahirkan karya-karya best-seller global seperti Normal People, Conversations with Friends, hingga novel terbarunya Intermezzo, kini tidak lagi dapat menjual atau mendistribusikan buku-bukunya di wilayah Inggris Raya.

Keputusan besar ini diambil setelah adanya benturan keras antara aksi solidaritas politik yang ia tunjukkan untuk Palestina dengan aturan hukum ketat yang berlaku di negara tersebut. Langkah berani ini langsung memicu gelombang diskusi hangat di media sosial mengenai batas kebebasan berbicara dan konsekuensi profesional bagi seorang seniman dunia.

Alasan Hukum di Balik Larangan Penjualan Buku

Masalah rumit yang menimpa Sally Rooney ini bermula dari keputusannya untuk terus mendukung sebuah kelompok aktivis pro-Palestina bernama Palestine Action. Kelompok tersebut dikenal gencar melakukan aksi langsung demi menentang keterlibatan pasokan militer Inggris terhadap Israel.

Konflik hukum muncul ketika pemerintah Inggris secara resmi menetapkan Palestine Action sebagai organisasi terlarang di bawah undang-undang antiterorisme. Berdasarkan aturan hukum yang berlaku di Inggris, memberikan dukungan dana atau bentuk apa pun kepada organisasi yang masuk daftar cekal merupakan sebuah tindak pidana serius dengan ancaman hukuman penjara yang cukup lama.

Konsekuensi hukum ini semakin nyata karena pada pertengahan tahun lalu, Sally Rooney secara terbuka menyatakan bahwa ia akan menyumbangkan seluruh keuntungan dari hasil penjualan novel serta hak adaptasi televisi karyanya untuk membantu pendanaan Palestine Action.

Karena niatnya tersebut, pihak penerbit yang menaungi Rooney, yaitu Faber, mengambil keputusan bersama sang penulis untuk menghentikan pasokan dan cetakan edisi baru dari buku-bukunya di Inggris. Pihak penerbit menyatakan bahwa mereka tidak bisa menyalurkan royalti hasil penjualan kepada Rooney jika uang tersebut pada akhirnya akan dialokasikan ke organisasi yang dilarang, karena hal itu dapat dianggap melanggar hukum pidana.

Sikap Teguh Sally Rooney

Meskipun harus menghadapi kenyataan pahit bahwa novel-novelnya ditarik dari jaringan toko buku di Inggris, Sally Rooney tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Sebelum penarikan resmi ini terjadi, ia sempat menyampaikan pandangannya yang cukup berani mengenai risiko hukum yang mungkin akan ia terima.

"Jika hal ini membuat saya dianggap sebagai pendukung terorisme menurut hukum Inggris, biarlah," kata Rooney kala itu.

Ketika keputusan penghentian distribusi buku-bukunya akhirnya resmi disepakati dan diumumkan ke publik bersama penerbit Faber, penulis berusia 35 tahun ini kembali mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan bahwa ia siap bertanggung jawab penuh atas pilihan prinsip hidupnya.

"Saya telah berupaya semaksimal mungkin untuk bersikap jujur kepada publik mengenai keyakinan dan niat saya, dan saya sepenuhnya siap menerima konsekuensinya," tambah Rooney.

Reaksi Publik dan Solidaritas Sesama Aktivis

Keputusan penarikan buku-buku ini memicu reaksi keras dari para aktivis kemanusiaan. Salah satu pendiri (co-founder) dari Palestine Action, Huda Ammori, pasang badan dan memberikan pembelaan terbuka bagi sang penulis. Ammori memuji langkah Rooney sebagai tindakan yang sangat berani karena rela mengorbankan keuntungan finansial dan popularitasnya demi kemanusiaan. Ia juga menyampaikan kritik tajamnya terhadap situasi ini.

"Karyanya patut dirayakan dan tersedia secara luas, bukan justru disingkirkan dari rak-rak toko buku di Inggris hanya karena ia menolak untuk terlibat dalam penindasan terhadap solidaritas bagi rakyat Palestina," tegas Ammori.

Meskipun cetakan edisi baru serta versi e-book karya-karya Sally Rooney sudah resmi dihentikan dan dihapus dari pasar Inggris, kebijakan ini untungnya tidak memengaruhi penjualan karya-karyanya di negara-negara lain.

Toko-toko buku fisik di Inggris juga masih diizinkan untuk menghabiskan sisa stok buku lama yang sudah terlanjur dipajang di rak mereka. Langkah politik yang diambil oleh suara generasi milenial ini semakin mempertegas posisinya sebagai salah satu penulis dunia yang paling vokal dalam membela hak-hak warga Palestina.