Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Potret Supporter Argentina di Piala Dunia 2026 (Yahoo)
Angelia Cipta RN

Piala Dunia selalu menghadirkan pemandangan yang menarik sekaligus paradoks. Di satu sisi, sepak bola disebut sebagai olahraga yang menyatukan manusia lintas negara, budaya, dan bahasa.

Namun di sisi lain, turnamen yang sama juga mampu memunculkan kebencian, ejekan, hingga permusuhan terhadap tim lawan yang bahkan tidak pernah berinteraksi langsung dengan para suporter.

Mengapa seorang pendukung Argentina bisa begitu membenci Inggris?

Mengapa sebagian suporter Inggris sulit menerima kemenangan Argentina?

Mengapa rivalitas Brasil dan Argentina, Prancis dan Inggris, atau Belanda dan Jerman terus hidup meski generasi pemain dan pendukung terus berganti?

Pertanyaan tersebut tidak bisa dijawab hanya melalui sejarah pertandingan. Ada faktor psikologis yang jauh lebih dalam.

Sepak bola bukan sekadar permainan 11 lawan 11, melainkan arena tempat manusia mencari identitas, pengakuan, dan rasa memiliki.

Di situlah rivalitas sering berubah menjadi sesuatu yang lebih emosional daripada rasional.

Identitas yang Membuat Kita Merasa Menjadi Bagian dari Sesuatu
Salah satu teori paling relevan untuk memahami fenomena ini adalah Social Identity Theory yang dikembangkan psikolog Henri Tajfel dan John Turner.

Teori tersebut menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung mengelompokkan diri ke dalam kelompok tertentu untuk membangun identitas sosial.

Dalam sepak bola, kelompok itu bisa berupa klub, tim nasional, atau komunitas suporter.

Ketika seseorang mengenakan jersey tim kesayangannya, ia tidak hanya mendukung sebuah tim.

Ia sedang menyatakan siapa dirinya dan kelompok mana yang ia anggap sebagai bagian dari dirinya.

Masalah mulai muncul ketika identitas tersebut menjadi terlalu kuat. Ketika seseorang menganggap kemenangan tim sebagai kemenangan pribadi dan kekalahan tim sebagai kegagalan dirinya sendiri, batas antara olahraga dan identitas mulai kabur.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan untuk meningkatkan citra kelompoknya sendiri atau ingroup.

Salah satu cara paling mudah melakukannya adalah dengan membandingkan kelompok tersebut dengan kelompok lain atau outgroup.

Karena itulah banyak suporter tidak hanya ingin timnya menang. Mereka juga ingin rivalnya kalah.

Fenomena ini menjelaskan mengapa pertandingan tertentu terasa jauh lebih emosional dibanding yang lain.

Ketika Argentina bertemu Inggris atau ketika Prancis menghadapi Inggris, yang dipertaruhkan bukan hanya skor di papan pertandingan. Para pendukung merasa identitas kelompok mereka sedang diuji.

Padahal secara logis, sebagian besar suporter tidak pernah bertemu langsung dengan pemain lawan, tidak pernah mengalami konflik pribadi, dan bahkan mungkin tidak pernah mengunjungi negara yang mereka benci dalam konteks sepak bola.

Namun otak manusia tidak selalu bekerja berdasarkan logika. Ia bekerja berdasarkan rasa memiliki.

Mengapa Kebencian terhadap Tim Lawan Terasa Begitu Nyata?
Ada alasan mengapa emosi dalam sepak bola sering terasa lebih kuat dibanding cabang olahraga lain. Sepak bola menciptakan pengalaman kolektif yang sangat intens.

Ketika jutaan orang menyanyikan lagu yang sama, mengenakan warna yang sama, dan berharap hasil yang sama, otak manusia melepaskan berbagai hormon yang memperkuat rasa kebersamaan.

Dalam psikologi sosial, kondisi ini sering disebut sebagai identitas kolektif.

Akibatnya, kemenangan menciptakan euforia bersama, sementara kekalahan memunculkan kesedihan bersama.

Yang menarik, kebencian terhadap lawan sering kali tidak berasal dari pengalaman pribadi. Kebencian tersebut diwariskan melalui cerita, sejarah, media, dan budaya suporter.

Seorang remaja Argentina yang lahir puluhan tahun setelah Perang Malvinas mungkin tidak memiliki pengalaman langsung terhadap konflik tersebut.

Namun narasi yang berkembang di lingkungan sosialnya dapat membentuk persepsi tertentu terhadap Inggris.

Hal yang sama juga terjadi di banyak rivalitas lain di dunia sepak bola.

Psikolog menyebut fenomena ini sebagai group polarization, yaitu kecenderungan kelompok untuk memperkuat pandangan yang sudah ada melalui interaksi sesama anggota kelompok.

Semakin sering seseorang berada dalam lingkungan yang memiliki pandangan serupa, semakin kuat pula keyakinannya terhadap pandangan tersebut.

Di era media sosial, proses ini menjadi lebih cepat. Algoritma sering mempertemukan pengguna dengan orang-orang yang memiliki pandangan serupa.

Akibatnya, narasi tentang rivalitas terus diperkuat tanpa banyak ruang untuk perspektif berbeda.

Tidak mengherankan jika pertandingan sepak bola terkadang menghasilkan reaksi yang tampak berlebihan. Dari sudut pandang psikologi, yang sedang dipertahankan bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan identitas kelompok yang dianggap bagian dari diri sendiri.

Bisakah Rivalitas Tetap Hidup Tanpa Kebencian?
Meski rivalitas merupakan bagian penting dari sepak bola, bukan berarti kebencian harus menjadi fondasinya.

Faktanya, banyak penelitian menunjukkan bahwa rivalitas yang sehat justru meningkatkan kualitas pengalaman olahraga.

Kehadiran lawan membuat kemenangan terasa lebih berharga dan kompetisi menjadi lebih menarik.

Masalah muncul ketika identitas kelompok berkembang menjadi permusuhan yang menghilangkan rasa hormat terhadap pihak lain.

Piala Dunia 2026 kembali menunjukkan bagaimana emosi dapat menguasai narasi sepak bola. Dari rivalitas klasik Argentina dan Inggris hingga berbagai pertarungan historis lainnya, kita melihat bahwa sepak bola sering menjadi saluran bagi emosi yang jauh lebih besar daripada olahraga itu sendiri.

Namun di balik semua itu, ada pelajaran penting yang sering terlupakan.

Tanpa lawan, tidak ada pertandingan. Tanpa rival, tidak ada cerita dan tanpa kompetisi, tidak ada alasan untuk merayakan kemenangan.

Paradoksnya, tim yang paling kita benci dalam sepak bola sering kali justru menjadi pihak yang membuat perjalanan tim kesayangan kita terasa bermakna.

Fakta inilah yang menyebabkan rivalitas tidak pernah benar-benar hilang. Manusia membutuhkan kelompok untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Tetapi manusia juga membutuhkan lawan untuk memberi makna terhadap identitas tersebut.

Pada akhirnya, kebencian terhadap tim lawan yang tidak pernah menyakiti kita bukanlah tentang mereka. Itu lebih banyak berbicara tentang diri kita sendiri, tentang kebutuhan untuk merasa memiliki, kebutuhan untuk diakui, dan kebutuhan untuk menjadi bagian dari sebuah cerita yang lebih besar daripada kehidupan sehari-hari.

Sepak bola hanya menjadi panggungnya. Sementara drama yang sesungguhnya berlangsung di dalam pikiran manusia.