M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
Momen kemenangan tim putra bulu tangkis Indonesia (PBSI)
e. kusuma .n

Ada pertandingan yang dimenangkan karena keunggulan sejak awal. Namun, ada pula kemenangan yang justru terasa semakin berharga karena lahir dari situasi sulit. Final beregu putra bulu tangkis Asian Games 2026 menjadi contoh yang kedua.

Indonesia sempat tertinggal 0-2 dari China. Dua partai pertama menjadi milik lawan hingga satu kemenangan lagi akan cukup bagi China untuk mengunci medali emas. Namun, Indonesia tidak runtuh dengan mudah.

Alwi Farhan muncul sebagai pemantik kebangkitan, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kemudian menyamakan kedudukan, dan ending-nya Moh. Zaki Ubaidillah sukses menyelesaikan tugas pada partai kelima.

Indonesia akhirnya menang 3-2 dan membawa pulang emas setelah penantian panjang 28 tahun. Raihan emas kali ini sekaligus menjadi emas pertama kontingen Merah Putih di Asian Games 2026.

Tertinggal 0-2, Indonesia Berada dalam Tekanan

Final dimulai dengan situasi yang tidak mudah. Jonatan Christie harus mengakui keunggulan Shi Yuqi dengan skor 13-21, 18-21. Tekanan membesar setelah Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri kalah dari Liang Weikeng/Wang Chang dalam tiga gim, 20-22, 21-19, dan 14-21.

China unggul 2-0. Dalam pertandingan beregu, kondisi ini sangat berat karena Indonesia tidak lagi memiliki ruang untuk melakukan kesalahan. Tiga partai berikutnya harus dimenangkan jika ingin merebut emas.

Menariknya, justru di titik inilah karakter tim diuji. Alwi Farhan turun di partai ketiga dan tampil sangat baik, bahkan masuk ke lapangan tanpa keraguan atau rasa takut mengingat lawannya juga tidak bisa dianggap remeh.

Alwi Farhan Menyalakan Api Kebangkitan

Partai ketiga mempertemukan Alwi Farhan dengan Li Shifeng. Tak ada keraguan dari gestur Alwi sejak masuk arena. Terbukti, Alwi berhasil memenangkan pertandingan tiga gim dengan skor 23-21, 15-21, 21-16.

Hasil tersebut membuat Indonesia memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2. Namun, arti kemenangan Alwi terasa lebih besar daripada sekadar sumbangan satu poin bagi tim. Dalam posisi tertinggal 0-2, kemenangan pertama bisa mengubah suasana.

Harapan yang sebelumnya mulai menipis kembali muncul. Alwi seolah menjadi pemantik. Ia menunjukkan bahwa final belum selesai dan Indonesia masih memiliki kesempatan untuk bangkit dan berjuang kembali.

Ekspresi semangat membara pun terlihat jelas di wajah Alwi, tepat setelah kemenangan partai ketiga diambil. Mungkin semangat Alwi inilah yang kembali mampu menghidupkan asa tim.

Di sinilah pertandingan beregu terasa berbeda. Seorang pemain tidak hanya bermain untuk dirinya sendiri. Setiap poin bisa memengaruhi kepercayaan diri rekan satu tim yang menunggu giliran.

Leo/Daniel Membawa Indonesia Kembali ke Titik Nol

Momentum tersebut kemudian diteruskan Leo/Daniel. Tugas mereka jelas: menang agar Indonesia tetap hidup di final. Leo/Daniel menghadapi He Ji Ting/Liu Yi dan berhasil mengamankan kemenangan dua gim langsung 23-21, 21-10.

Hasil itu membuat kedudukan menjadi 2-2. Bukan sekadar menyamakan kedudukan, tapi juga simbol bahwa pertandingan final sebenarnya belum selesai meski Indonesia sempat berada di ujung tanduk.

Dari 0-2 menjadi 2-2, tim Merah Putih menunjukkan kalau tekanan tidak selalu berakhir dengan kekalahan. Tekanan juga bisa menjadi energi untuk bangkit ketika setiap pemain mampu menjalankan tugasnya.

Ubed Mendapat Tugas Terakhir

Setelah skor imbang 2-2, seluruh perhatian beralih kepada Moh. Zaki Ubaidillah yang harus menghadapi Weng Hongyang di partai kelima. Inilah pertandingan yang menentukan apakah comeback Indonesia akan berakhir dengan emas atau justru berhenti di depan pintu juara.

Ubed sendiri tampaknya juga bukan tidak merasakan tegang di posisi ini. Bahkan pada gim pertama, Weng Hongyang sempat mencapai game point 20-16. Namun, Ubed mampu membalikkan situasi dan membalik situasi dengan kemenangan 23-21.

Pada gim kedua, Ubed bermain lebih percaya diri. Terlebih tekanan mulai dirasakan Weng Hongyang  hingga akhirnya gim kedua jadi milik Ubed dengan skor 21-13. Indonesia pun menang 3-2 atas tim China dan memastikan medali emas pertama Asian Games 2026.

Emas Ini Bukan Milik Satu Pemain

Mudah untuk menyebut Ubed sebagai pahlawan setelah menjadi penentu pada partai kelima. Namun, cerita kemenangan ini sebenarnya merupakan rangkaian dari tiga momentum.

Alwi Farhan membuka jalan. Leo/Daniel menjaga momentum sekaligus menyamakan kedudukan. Ubed kemudian menyelesaikan perjuangan. Kemenangan beregu bukan tentang mencari satu pemain paling penting. Setiap partai memiliki perannya sendiri.

Alwi mungkin tidak menentukan skor akhir secara langsung, tapi kemenangannya mengubah arah pertandingan. Leo/Daniel membuat Indonesia kembali memiliki kesempatan. Ubed memanfaatkan kesempatan tersebut sampai akhir.

Ketika Semangat Menjadi Energi Sebuah Tim

Kemenangan Indonesia atas China menjadi pengingat bahwa pertandingan belum selesai selama masih ada kesempatan untuk bertanding. Tertinggal 0-2 memang membuat situasi terlihat berat.

Namun, Alwi, Leo/Daniel, dan Ubed menunjukkan respons berbeda yang saling melengkapi. Sejak menyalakan semangat, menghidupkan kembali peluang, dan menuntaskan tugas, tiga peran yang menjadi energi sebuah tim.

Epic comeback 3-2 bukan sekadar kemenangan. Final ini memperlihatkan bahwa dalam pertandingan beregu, satu pemain bisa membuka pintu, pemain berikutnya menjaga pintu tetap terbuka, dan pemain terakhir menuntaskan misa menuju podium tertinggi.