Sekar Anindyah Lamase | Christian Fabio
State of Decay 3 (Undead Labs)
Christian Fabio

Undead Labs memasuki babak baru setelah berpisah dari Xbox dan kembali menjadi studio independen. Namun, perubahan status itu datang bersama tantangan yang tak kecil. Sejumlah karyawan harus meninggalkan studio, sehingga tim kini perlu menyesuaikan beberapa bagian State of Decay 3 menjelang peluncurannya yang masih ditargetkan pada 2027.

Melansir laman GameSpot, kepergian Undead Labs dari Xbox bukan dipicu konflik di balik layar. Bos studio, Philip Holt, mengatakan pihaknya melihat peluang untuk mengambil alih perusahaan ketika Microsoft mempercepat proses pelepasan sejumlah studio.

Setelah mengetahui studio lain mencoba skema management buyout, Holt mengajukan tawaran serupa dan Microsoft menyetujuinya. Ia juga melihat kebutuhan modal untuk menyelesaikan game itu masih masuk akal untuk dihimpun di luar Xbox.

Holt menilai Undead Labs sudah cukup dekat untuk menyelesaikan State of Decay 3, sehingga kebutuhan dana untuk merampungkan proyek itu masih memungkinkan dicari secara mandiri.

Sebagai studio independen, mereka kini harus memikirkan keberlanjutan bisnis, menghasilkan keuntungan, serta membayar karyawan dan mitra. Meski begitu, profit bukan satu-satunya tujuan utama mereka.

Perubahan jumlah staf tetap berdampak pada pengembangan game. Mengutip wawancara The Game Business, Holt menyebut tim memang harus melakukan sejumlah penyesuaian setelah banyak orang pergi, tetapi ia tidak merasa skala permainan akan dipangkas secara besar-besaran. Menurutnya, konten game sudah cukup banyak, dan pemain alpha maupun pengunjung Gamescom bisa melihat kemajuan proyek tersebut.

Holt tidak bersedia mengungkap berapa orang yang terdampak PHK. Ia tak ingin pengalaman rekan-rekannya direduksi menjadi sekadar angka atau statistik. Berpisah dengan teman dan kolega, ujarnya, merupakan pengalaman yang sangat menyakitkan. Meski demikian, Holt menegaskan studio masih memiliki semua yang dibutuhkan untuk menuntaskan State of Decay 3.

Kini, fokus Undead Labs juga terasa lebih jelas. Jika sebelumnya studio berada di bawah perusahaan besar dengan berbagai arahan dan target, sekarang keberhasilan mereka lebih langsung ditentukan oleh apakah pemain mendukung game yang dibuat. Status independen memberi mereka garis yang lebih jelas menuju audiens, sekaligus tanggung jawab lebih besar untuk membuat keputusan sendiri.

Keputusan mengumumkan State of Decay 3 pada 2020 ternyata juga punya alasan strategis. Saat Microsoft gencar mengakuisisi studio dan perusahaan game, Holt khawatir Undead Labs akan tenggelam di antara berbagai kesepakatan bisnis atau bahkan dilepas sebelum sempat menunjukkan proyek terbarunya. 

Selama berada di bawah Xbox, Undead Labs tidak merilis game baru selain terus mendukung State of Decay 2, yang menerima 38 update. Meski game ketiga sudah diperkenalkan sejak 2020, pengerjaan pada awalnya hanya dilakukan tim kecil. Produksi baru meningkat pada 2022 atau 2023, sehingga Holt menilai lamanya waktu sejak pengumuman tidak sepenuhnya menggambarkan periode pengembangan aktif. Ia juga mengakui bahwa jika dihitung sejak State of Decay 2 dirilis, rentang waktunya memang mendekati delapan tahun.

State of Decay 3 tetap direncanakan hadir pada 2027 dan akan tersedia di Game Pass sejak hari pertama. Holt turut mengapresiasi layanan berlangganan Xbox itu karena membantu seri State of Decay mencapai sekitar 25 juta pemain sepanjang masa hidupnya. Menurutnya, dukungan audiens Game Pass ikut membawa franchise tersebut ke posisi sekarang, dengan ribuan pemain baru yang masih datang setiap hari.

Bagi Undead Labs, tantangan berikutnya bukan hanya menuntaskan game yang telah lama dinanti, tetapi juga membuktikan bahwa studio independen dapat bertahan secara finansial tanpa kehilangan fokus pada pemain.