Scroll untuk membaca artikel
Hayuning Ratri Hapsari | Qonita F.
Ilustrasi Ki Hadjar Dewantara (Canva/Sketchify Indonesia & Sketchify Edu)

Perjuangan pergerakan kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari peranan dan kiprah dari Suwardi Suryaningrat atau lebih dikenal dengan nama Ki Hadjar Dewantara.

Mengutip dari TJANTRIK: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah, semangat perjuangan beliau bermula ketika memilih menekuni profesi sebagai jurnalis di beberapa surat kabar dan majalah seperti Sedyotomo dan Midden Java di Yogyakarta serta De Express di Bandung.

Tulisannya yang tajam, patriotik, dan komunikatif tidak hanya mampu membangkitkan semangat antikolonial di kalangan masyarakat tetapi juga menyadarkan mereka akan pentingnya perjuangan melawan penjajahan.

Perjalanan Politik Ki Hadjar Dewantara

Ilustrasi politik (Canva/Tara Winstead)

Selain aktif sebagai jurnalis, beliau juga berkiprah dalam berbagai organisasi sosial dan politik. Dilansir dari buku Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya, pada 1908 beliau bergabung dengan Budi Utomo sebagai Seksi Propaganda.

Kemudian, pada 25 Desember 1912, bersama dua tokoh pergerakan lainnya, yakni E.F.E. Douwes Dekker (Dr. Danudirja Setiabudi) dan Dr. Cipto Mangunkusumo, beliau mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang bertujuan menumbuhkan jiwa persatuan di antara berbagai golongan serta membangkitkan nasionalisme rakyat guna memajukan tanah air.

Namun, upaya untuk mendaftarkan organisasi ini agar memperoleh status badan hukum ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda karena dianggap dapat merusak tatanan yang sudah mereka bangun di wilayah koloni Hindia Belanda.

Pasca-penolakan tersebut, pada Juli 1913, beliau bersama Dr. Cipto Mangunkusumo membentuk Comite Tot Herdenking van Nederlandsch Honderdjarige Vrijheid (Komite Bumi Putera) sebagai bentuk protes terhadap rencana pemerintah Belanda yang hendak merayakan 100 tahun kemerdekaannya dari Prancis di Hindia Belanda.

Protes tersebut beliau suarakan melalui artikel berjudul Als ik eens Nederlander was (Andaikata aku seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Express.

Dalam tulisannya, beliau menyindir pemerintah Belanda yang menuntut penghormatan dari bangsa terjajah, sementara di saat yang sama tetap menindas dan mengeksploitasi rakyat Indonesia.

Pemerintah kolonial yang merasa terusik kemudian memanggil beliau bersama rekan-rekannya dari komite Bumi Putera untuk diperiksa pada 21 Juli 1913.

Namun, berhubung tidak ada tindak lanjut setelah pemanggilan itu, pada 26 dan 28 Juli 1913, Ki Hadjar Dewantara dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sebagai insan pers, ingin menggali lebih dalam bagaimana pemerintah kolonial menyikapi permasalahan ini.

Mereka kembali menyuarakan gagasannya melalui surat kabar De Express. Pada 26 Juli, terbit tulisan dr. Cipto Mangunkusumo yang berjudul Kracht of Vrees? (Kekuatan atau Ketakutan?).

Kemudian, pada 28 Juli, terbit tulisan Ki Hadjar Dewantara yang berjudul Een voor Allen, Allen voor Een (Satu untuk semuanya, semuanya untuk satu). Dalam tulisannya ini, beliau berpendapat bahwa apa yang dituliskannya mewakili perasaan kaum bumiputra, walaupun sebagian besar masyarakat diam seribu bahasa.

Dr. E.F.E.Douwes Dekker yang baru pulang dari luar negeri, tidak tinggal diam setelah mengetahui informasi bahwa teman-temannya di tahan akibat dari tulisan mereka. Beliau kemudian menulis di surat kabar beberapa kali untuk membela kedua sahabatnya itu.

Salah satu tulisannya berjudul Onze Helden, Tjipto Mangoenkoesoemo en R.M. Soewardi Soerjaningrat (Pahlawan-Pahlawan Kami, Tjipto Mangunkusumo dan R.M. Soewardi Soerjaningrat), yang dimuat dalam surat kabar De Express.

Karena tulisan-tulisan yang sangat pedas itu dianggap melanggar pasal 47 UU pemerintah kolonial Belanda yaitu mengganggu keamanan dan ketertiban umum, dengan melakukan propaganda yang menghasut masyarakat dan merugikan pemerintah kolonial, Tiga Serangkai—Ki Hadjar Dewantara, dr. Cipto Mangunkusumo, dan Dr. E.F.E. Douwes Dekker diasingkan ke Belanda pada 18 Agustus 1913.

Selain hukuman yang dijatuhkan kepada ketiga tokoh ini, komite Bumi Putera juga dibubarkan dan dianggap sebagai organisasi terlarang di wilayah koloni Hindia Belanda.

Masa Pengasingan dan Cikal Bakal Berdirinya Tamansiswa

Ilustrasi edukasi (Pixabay/Congerdesign)

Selama menjalani pengasingan di Belanda, Ki Hadjar Dewantara bersama dr. Cipto Mangunkusumo dan E.F.E. Douwes Dekker tetap aktif di dunia pergerakan dengan bergabung ke dalam Indische Vereeniging di Den Haag.

Beliau secara rutin menghadiri diskusi yang diselenggarakan oleh organisasi tersebut sehingga gagasan untuk memajukan Hindia Belanda semakin tersebar luas.

Selain itu, beliau juga mendirikan Indonesisch Pers Bureau, sebuah kantor berita yang bertujuan untuk memberikan gambaran dan penjelasan kepada masyarakat di negeri Belanda tentang apa yang sebenarnya terjadi di wilayah koloni Hindia Belanda.

Selama masa pengasingan, beliau juga memanfaatkannya untuk memperdalam Ilmu Pendidikan dengan mengikuti kursus-kursus tertulis dan kursus-kursus malam hingga berhasil meraih Akte Guru Eropa dalam pendidikan Paedagogie pada 12 Juni 1915.

Surat-surat kabar Belanda seperti Het Volk dan De Nieuwe Grone Amsterdamer yang bersikap sangat bersahabat dengan Tiga Serangkai, memberi mereka kesempatan untuk menulis dan menyalurkan pikiran tentang cita-cita perjuangan kemerdekan bangsa Indonesia.

Hukuman pengasingan, bagi beliau justru dipergunakan untuk terus mengobarkan semangat perjuangan, salah satunya dengan menulis artikel berjudul Terug naar het front (Kembali ke medan perjuangan) yang dimuat dalam Het Volk dan De Groene Amsterdammer pada 15 September 1917.

Sekembalinya ke tanah air pada tahun 1919 (setelah enam tahun di pengasingan), beliau tidak lagi terjun ke dunia politik, melainkan memilih jalur pendidikan sebagai medan perjuangannya dalam meraih kemerdekaan.

Beliau menyadari bahwa perjuangan melalui politik saja tidak cukup untuk membangun bangsa, sehingga beliau mulai merancang strategi perjuangan melalui dunia pendidikan.

Berbekal pengetahuan yang diperolehnya di pengasingan, beliau bertekad menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar bersifat pribumi.

Menurut beliau, bangsa Indonesia tidak akan pernah maju selama sistem pendidikannya mengikuti sistem pendidikan kolonial yang bersifat diskriminatif dan mengabaikan nilai-nilai budaya setempat.

Oleh karena itu, pada 3 Juli 1922, beliau mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa (Perguruan Taman Siswa) di Yogyakarta.

Di tempat inilah, beliau menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak pribumi tanpa mengesampingkan nilai-nilai budaya lokal sehingga tertanam rasa cinta tanah air dan semangat perjuangan anti-penjajahan.

Sebuah Renungan dan Inspirasi Ajaran Ki Hajar Dewantara

Ilustrasi belajar (Pixabay/Sabrina Eickhoff)

Melansir dari buku Ki Hadjar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya, ajaran-ajaran beliau meliputi berbagai macam, ada yang sifatnya konsepsional, petunjuk operasional, praktis, dan fatwa.

Salah satu konsep yang sering terdengar dan sangat popular di lingkungan Pendidikan adalah trilogi kepemimpinan yang terdiri dari dari Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.

Adapun gagasan beliau lainnya meliputi Tripusat Pendidikan, Trikon, Trihayu, dan Sistem Among. Melalui konsep-konsep ini beliau meletakkan dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya dalam dunia pendidikan, tanggal lahirnya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional, dan namanya diabadikan sebagai Bapak Pendidikan Nasional.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Qonita F.

Baca Juga