Sekar Anindyah Lamase | Ervina E. W.
Penampakan Kantor DPRD Kota Makassar Dibakar Massa [Lorensia/Suara.com]
Ervina E. W.

Ketidakadilan adalah bara yang membakar, menyulut amarah di dada setiap insan yang terhimpit. Ketika suara rakyat menjadi angin lalu, ketika janji hanya menjadi debu, bara itu menjelma api yang menggerus kesabaran. Maka, menggeloralah tangisan panjang, sebuah puisi pedih yang ditulis oleh tangan-tangan yang lelah dan hati yang remuk. Ini adalah kisah tentang jiwa yang tidak lagi mampu membendung rasa sakit, tentang sebuah bangsa yang lelah dikhianati.

Api amarah itu bukanlah sekadar kobaran, melainkan sebuah jeritan jiwa yang menuntut hak yang telah lama terampas. Itu adalah wujud nyata dari luka yang menganga, luka yang terlalu lama dibiarkan mengering tanpa sentuhan keadilan. Di tengah kegelapan, api itu menjadi satu-satunya cahaya yang membimbing langkah mereka, sebuah simbol perlawanan yang tidak kenal lelah, yang menyala di hati setiap orang yang merasa tertindas.

Ketika keadilan menjadi ilusi yang memudar

Amarah rakyat lahir dari kebenaran yang dikhianati. Ia tumbuh dari menyaksikan hukum yang menjadi pisau tumpul bagi para penguasa, tetapi tajam bagi mereka yang lemah. Korup adalah racun yang mengikis fondasi negara, membuat rakyat merasa hidup dalam dongeng tanpa akhir yang bahagia, sebuah cerita di mana pahlawan tidak pernah datang untuk menyelamatkan.

Berita-berita yang marak di media sosial hanyalah cermin yang menunjukkan betapa buramnya wajah keadilan. Jurang kekayaan yang semakin lebar memisahkan elit dari rakyatnya, seolah mereka hidup di dua dunia yang berbeda—satu dunia penuh privilese dan kemewahan, dunia lainnya dipenuhi perjuangan dan penderitaan. Dan di antara dua dunia itu, muncullah nyanyian duka yang meratap, sebuah melodi pilu yang mengalir dari hati ke hati.

Pemerintah yang membisu di tengah badai

Di saat badai amarah datang, yang dinanti adalah nakhoda yang mengulurkan tangan untuk menenangkan gelombang. Namun, sering kali yang datang hanyalah kebisuan yang memekakkan telinga. Janji-janji lisan, bagai ilusi yang menari di cakrawala, tidak pernah menjelma menjadi nyata, hanya menjadi jejak hampa yang menguap bersama angin. Kata-kata mereka adalah topeng yang menyembunyikan ketidakpedulian.

Kata-kata para pemimpin, yang seharusnya menjadi penyejuk, justru menjadi garam yang ditaburkan di atas luka. Dalam keheningan itu, rakyat merasa terasing, seolah mereka adalah tamu yang tidak diinginkan di tanah air sendiri. Mereka dibiarkan sendirian, berlayar di lautan kekecewaan yang tidak bertepi, tanpa kompas, tanpa arah, hanya ditemani oleh rasa putus asa.

Pelarian elit: ketika kapal ditinggalkan nakhoda

Di puncak kegaduhan, terlihatlah pemandangan paling menyakitkan: para elit yang menaiki bahtera lain, meninggalkan kapal yang sedang karam. Mereka terbang ke negeri-negeri jauh, mencari ketenangan di bawah langit asing, seolah-olah masalah rakyat adalah kisah fiksi yang tidak berhubungan dengan mereka. Mereka adalah bayangan yang menghilang, meninggalkan sisa-sisa harapan yang mulai redup.

Pelarian elit bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga tentang pengkhianatan yang paling keji. Mereka membawa serta kekayaan dan privilese mereka, meninggalkan rakyat yang kini hanya bisa memandangi siluet punggung yang menjauh, tanpa jejak penyesalan. Mereka adalah nakhoda yang lari, meninggalkan kapal yang terombang-ambing di tengah gelombang yang semakin ganas.

Derap langkah yang menjadi puisi perlawanan

Jika pemerintah terus menutup telinga dan para elit terus berpaling muka, amarah rakyat akan menemukan jalannya sendiri. Ia akan menjelma menjadi gelombang yang tidak tertahankan, mengukir babak baru dalam sejarah, yang ditulis dengan tinta yang tidak akan pernah pudar. Tragedi masa lalu akan menjadi peringatan bahwa api amarah tidak akan padam jika keadilan tidak ditegakkan.

Gelombang protes yang menyebar ke berbagai kota adalah bisikan dari masa depan, sebuah peringatan bahwa rakyat tidak lagi takut. Ketidakpekaan para penguasa adalah bara yang terus menyulut api, dan jika dibiarkan, lautan amarah akan menenggelamkan segalanya. Rakyat akan menulis takdir mereka sendiri, dengan tinta air mata dan api, demi keadilan yang telah lama mereka rindukan dan berhak mereka miliki.

Siklus kemarahan dan kebisuan adalah ujian bagi kemanusiaan. Dibutuhkan pemimpin yang mendengarkan bukan hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hati, yang mampu merasakan denyut nadi rakyatnya. Karena hanya dengan menabur keadilan, sebuah bangsa bisa menemukan kedamaian sejati, dan api amarah pun akan mereda menjadi cahaya harapan yang abadi. Itulah satu-satunya jalan menuju masa depan yang cerah, bebas dari bayang-bayang masa lalu yang kelam. Namun, bisakah bangsa ini?

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS