Bimo Aria Fundrika | Irhaz Braga
Ilustrasi anak muda menatap perkotaan (Pixabay)
Irhaz Braga

Fenomena tinggal di rumah kos telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda perkotaan. Mahasiswa, pekerja muda, hingga perantau dari berbagai daerah menjadikan kos sebagai solusi paling realistis di tengah mahalnya harga hunian kota.

Namun, di balik fungsi praktisnya, kos juga merepresentasikan cara hidup yang khas: sementara, individual, dan minim keterikatan sosial. Kota pun berubah menjadi ruang singgah, bukan ruang untuk berakar.

Banyak anak muda hidup bertahun-tahun di kota tanpa benar-benar mengenal tetangga sekamarnya, apalagi lingkungan sekitarnya. Interaksi sering berhenti pada sapaan singkat atau basa-basi seperlunya. Pintu kamar menjadi batas sosial yang tebal.

Setiap penghuni sibuk dengan ritme hidup masing-masing: berangkat pagi, pulang malam, dan menghabiskan sisa waktu di ruang privat atau dunia digital. Dalam kondisi seperti ini, relasi sosial yang hangat dan berkelanjutan sulit tumbuh.

Kehidupan kos mencerminkan wajah kota yang serba cepat dan transaksional. Relasi dibangun atas dasar kebutuhan sementara, bukan kebersamaan jangka panjang. Ketika kontrak habis, relasi pun ikut berakhir. Anak muda terbiasa hidup berdampingan, tetapi tidak benar-benar bersama.

Individualisasi dan Kehilangan Ruang Komunal

Rapuhnya ikatan sosial anak muda kota tidak dapat dilepaskan dari proses individualisasi yang kian menguat. Kota mendorong efisiensi, kemandirian, dan privasi sebagai nilai utama.

Dalam konteks kos, nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi kamar-kamar sempit yang berfungsi sebagai tempat tidur, bekerja, dan beristirahat sekaligus. Ruang komunal, jika ada, sering kali hanya formalitas dan jarang digunakan untuk membangun interaksi.

Tekanan ekonomi juga memperparah situasi. Anak muda harus bekerja keras untuk membayar sewa, transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya.

Waktu dan energi habis untuk bertahan, bukan untuk membangun relasi sosial. Ketika lelah, gawai menjadi pelarian termudah. Media sosial memberi ilusi keterhubungan, tetapi tidak selalu menghadirkan kelekatan emosional yang nyata.

Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental dan rasa kesepian yang kian meluas. Banyak anak muda merasa sendirian di tengah keramaian kota.

Mereka memiliki banyak kenalan, tetapi sedikit ruang untuk berbagi secara tulus. Ikatan sosial yang rapuh membuat solidaritas melemah, padahal kota justru membutuhkan jejaring sosial yang kuat untuk bertahan dari krisis, baik ekonomi, sosial, maupun kemanusiaan.

Merajut Kembali Kebersamaan di Kota

Menguatkan ikatan sosial anak muda kota membutuhkan upaya di berbagai level. Penyedia hunian, termasuk pemilik dan pengelola kos, dapat mulai memikirkan desain dan tata kelola yang mendorong interaksi sehat, seperti penyediaan ruang bersama yang layak serta kegiatan komunal yang tidak bersifat memaksa.

Hunian tidak seharusnya hanya menjadi tempat tidur, tetapi juga ruang hidup yang manusiawi.

Pemerintah kota memiliki peran penting dalam menyediakan ruang publik yang inklusif dan mudah diakses. Taman, perpustakaan, pusat komunitas, dan ruang kreatif dapat menjadi titik temu lintas latar belakang. Kebijakan kota yang terlalu berorientasi pada fungsi ekonomi kerap mengabaikan kebutuhan dasar manusia untuk terhubung satu sama lain.

Di sisi lain, anak muda juga perlu merebut kembali kesadaran akan pentingnya kebersamaan. Membuka diri untuk berinteraksi, membangun komunitas kecil, dan terlibat dalam kegiatan sosial lokal merupakan langkah sederhana, tetapi bermakna. Ikatan sosial tidak selalu lahir dari relasi besar, melainkan dari percakapan kecil yang konsisten.

Tinggal di kos tidak seharusnya berarti hidup terpisah secara sosial. Kota yang sehat adalah kota yang memungkinkan warganya saling mengenal, saling peduli, dan saling menopang. Jika ikatan sosial anak muda terus dibiarkan rapuh, kota akan dipenuhi individu-individu yang hidup berdampingan tanpa kebersamaan. Pada titik itulah, kota kehilangan rohnya sebagai ruang hidup bersama.