Paus Leo XIV dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terlibat dalam sebuah perdebatan mengenai peperangan yang terjadi antara AS-Israel dan Iran. Paus mendukung perdamaian dan toleransi, sedangkan Trump memerintahkan perang dan pengusiran imigran. Situasi ini memicu sorotan publik terhadap setiap pernyataan Trump yang menyebut Paus Leo layaknya seorang politikus. Bahkan, beberapa hari kemudian Trump membuat fotonya seolah-olah seperti Yesus yang dikelilingi serdadu, perawat, perempuan yang sedang berdoa, dan pria berjanggut dengan topi bisbol yang memandangnya dengan kagum.
Perseteruan ini membuat beberapa pemimpin dunia membela Paus Leo dan menganggap pernyataan Trump tidak dapat diterima. Namun, Presiden Trump tetap menolak berdamai dengan Paus Leo atas pernyataannya tersebut.
Dialog dan Perdamaian
Paus Leo menegaskan bahwa seruannya adalah agar perang dihentikan dan mengutamakan dialog serta perdamaian. Paus Leo juga menyatakan bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang berperang, melainkan menolaknya karena tangan mereka penuh darah. Perang bukanlah jalan terbaik; perang hanya memberikan kerusakan dan kematian. Dalam ajaran agama, perang hanya menghasilkan keburukan dan mengorbankan nyawa mereka yang tidak bersalah. Jadi, dialog harus diutamakan untuk mencapai sebuah perdamaian.
Dalam beberapa berita yang beredar, kita bisa melihat bagaimana serangan AS-Israel dipicu oleh tidak adanya kesepakatan antarnegara. Ada isu soal nuklir hingga adanya oknum militan yang dianggap dapat membahayakan dunia. Namun demikian, apa pun alasannya, perang bukan solusi. Dialog lebih layak dilakukan dengan duduk bersama untuk menyepakati kerja sama maupun kesepahaman demi mencapai sebuah kebaikan.
Landasan Nostra Aetate
Dalam dokumen Konsili Vatikan II, terdapat dokumen bernama Nostra Aetate. Dokumen tersebut menekankan pentingnya dialog dan kerja sama antaragama sebagai jalan untuk mencapai pemahaman yang lebih baik dan mempromosikan perdamaian dunia. Nostra Aetate juga secara khusus mengakui warisan spiritual yang dimiliki umat Yahudi dan Islam, serta agama-agama Timur seperti Hindu dan Buddha sebagai bagian dari upaya gereja untuk membangun hubungan yang lebih harmonis.
Dokumen tersebut telah tegas menyampaikan agar setiap negara mengutamakan perdamaian di tengah perbedaan. Segala masalah antarnegara tentu saja memiliki kunci penyelesaian melalui dialog. Jangan sampai ketika dialog tidak mencapai titik temu, yang terjadi justru pemaksaan kehendak. Perang adalah bentuk tertinggi dari pemaksaan kehendak tersebut. Negara yang sudah merdeka dipaksa untuk mengikuti negara yang berkuasa; jika tidak mau, maka akan diserang.
Di sinilah Paus Leo menyerukan agar tidak ada lagi pemaksaan agar setiap negara menghargai sebuah perdamaian. Perang hanya menghasilkan kerugian. Tuhan tidak pernah berkenan bagi negara yang menyukai perang. Merampas kemerdekaan dan kehidupan orang lain adalah bagian dari dosa. Jadi, jangan pernah menganggap perang adalah sebuah keharusan dan kebebasan.
Berdialog Sebagai Kunci Ketenteraman
Berdialoglah dan ciptakan perdamaian dalam hal apa pun. Dialog adalah cara terbaik untuk saling memahami. Perdamaian adalah bentuk tertinggi dari sebuah kebaikan. Masalah yang ada seharusnya tidak menjadi pemecah kedamaian, karena masalah sangat bisa diselesaikan dengan berdialog sambil mengambil langkah-langkah yang menguntungkan setiap pihak.
Dialog dan perdamaian adalah kunci dari terciptanya ketenteraman dan kenyamanan. Jadi, keputusan Paus Leo untuk mengajak AS dan Iran berdialog adalah langkah yang tepat. Begitulah tugas seorang pemimpin umat Katolik sedunia: mengajak setiap negara yang bertikai untuk berdamai. Tidak seyogianya Presiden Trump membalas seruan damai tersebut dengan permusuhan.
Pesan Injil berbunyi, "Berbahagialah para pembawa damai." Itulah misi Gereja untuk bersuara akan perdamaian dunia. Semoga saja Presiden Trump dapat memahami pesan Injil tersebut bukan sebagai kepentingan politik seorang Paus Leo. Kekuasaan yang dimiliki Trump jangan sampai kebablasan. Trump tidak boleh menentang segala kebaikan yang diinginkan oleh seorang pemimpin Katolik sedunia.
Agama hadir untuk menyuarakan kebaikan, bukan untuk kepentingan semata. Oleh karenanya, sangat disayangkan bila Trump malah membantah dan beranggapan buruk terhadap setiap pernyataan Paus Leo. Trump harus menyadari bahwa sebagai penguasa, ia tidak boleh bertindak sesuka hati. Persenjataan perang yang canggih tidak boleh membuat seorang pemimpin menjadi angkuh. Hentikan segala bentuk kesombongan yang ada. Jangan menganggap kekuatan adalah di atas segala-galanya, karena hal tersebut justru akan menjatuhkan diri sendiri. Berdamailah meski keinginan belum sepenuhnya tercapai. Solusi terbaik hanya akan ditemukan saat duduk bersama dalam dialog.
Baca Juga
-
Dari Sampah Jadi Cuan: Mengintip Potensi UMKM Berbasis Ekonomi Hijau di Indonesia
-
Jalur Migrasi Terputus Akibat Kebun, Bencana Besar Mengintai Populasi Gajah Kita
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Bukan Cuma Perkara Cinta, Ini 3 Batasan Wajib agar Gaya Pacaran Tetap Sehat dan Positif
-
Waspada Manipulasi Asmara: Saat Perhatian Berlebih Berujung Bencana Mental
Artikel Terkait
-
Beda Pendidikan Donald Trump vs Paus Leo XIV yang Bersitegang
-
Ancaman Taktik Adu Domba Trump di Balik Pengumuman Genjatan Senjata di Lebanon
-
PM Lebanon Nawaf Salam Puji Donald Trump soal Gencatan Senjata 10 Hari dengan Israel
-
Gencatan Senjata Lebanon - Israel Berlaku, Donald Trump Serukan Penghentian Pembunuhan
-
Cueki Permintaan Trump, Presiden Lebanon Ogah Bicara dengan Benjamin Netanyahu
Kolom
-
Capek Ditanya Kapan Nikah? Ini Alasan Main Aplikasi Kencan Malah Terasa Kayak Interview Kerja
-
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta oleh MSCI, Akibat Terlalu Sering Goreng Saham?
-
Dari Sampah Jadi Cuan: Mengintip Potensi UMKM Berbasis Ekonomi Hijau di Indonesia
-
Belum Jadi Apa-Apa di Umur 25 Tahun? Tenang, Kamu Cuma Butuh Jeda
-
Bahaya AI Companion: Ketika Teman Virtual Menggantikan Empati
Terkini
-
Mulai Rp50 Ribuan, Ini 6 Pilihan Parfum Mawar Tahan Lama untuk Temani Aktivitasmu
-
Dari Piyama Hiu ke Panggung Dunia, Intip Perjalanan Park Geon-roung Jadi Idol K-Pop
-
Bikin Malu Negara! 7 Perusahaan Indonesia Kena Semprot Singapura Gara-Gara Biang Kerok Karhutla
-
Ketika Dongeng Ayah Berhadapan dengan Skeptisisme Anak yang Beranjak Dewasa
-
Gods With Badges: Game Taktis di Mana Kamera Polisi Menentukan Nasibmu!