Menjadi perempuan di era media sosial kadang terasa seperti berada dalam perlombaan yang tidak ada garis akhirnya. Timeline dipenuhi perempuan dengan hal-hal viral yang tampak sempurna di layar.
Tanpa sadar, banyak perempuan akhirnya merasa harus mengikuti standar tersebut agar tidak dianggap tertinggal. Ada dorongan untuk selalu terlihat menarik, update, dan mengikuti tren yang sedang ramai.
Masalahnya, gaya hidup seperti itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun karena sekarang semuanya serba mudah, banyak perempuan akhirnya terbiasa dengan pola pikir “beli dulu, bayar nanti”.
Selama barang terlihat lucu, sedang viral, atau bisa meningkatkan rasa percaya diri, proses checkout terasa jauh lebih cepat dibanding proses berpikir untuk mempertimbangkan kondisi finansial sebelum membeli.
Apalagi dengan hadirnya paylater, cicilan, dan berbagai promo belanja online, keinginan membeli sesuatu menjadi semakin sulit dikendalikan. Perempuan seolah terjebak dalam budaya konsumtif yang impulsif.
Gengsi Sosial yang Diam-Diam Melelahkan
Menurut saya, salah satu hal yang paling memengaruhi kebiasaan konsumtif perempuan saat ini adalah gengsi sosial. Bukan mau terlihat kaya, tapi lebih pada keinginan untuk dianggap “setara” dengan lingkungan sekitar.
Ketika teman memakai outfit terbaru, nongkrong di tempat viral, atau rutin membeli barang estetik, muncul rasa takut tertinggal. Media sosial pun ikut memperbesar tekanan itu karena semua orang terlihat hidup serba cukup.
Akhirnya, banyak perempuan membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, tapi demi menjaga citra diri. Kadang ada rasa malu kalau dianggap tidak update atau malah rasa takut terlihat biasa saja dibanding orang lain di internet.
Ironisnya, demi menjaga gengsi sosial, banyak perempuan rela mengorbankan kondisi finansialnya sendiri. Yang penting terlihat estetik di luar, urusan tagihan dipikir belakangan.
Paylater dan Kebiasaan Impulsif
Saya merasa budaya “beli dulu bayar nanti” semakin kuat karena sekarang belanja memang dibuat terlalu mudah. Tinggal buka aplikasi, pilih barang, checkout, lalu bayar dengan cicilan, dan tanpa proses menimbang ulang.
Tidak ada lagi proses panjang seperti menabung atau menunggu uang terkumpul. Paylater membuat barang yang sebenarnya mahal terasa ringan karena dibayar sedikit demi sedikit. Akibatnya, banyak perempuan jadi lebih impulsif saat belanja.
Awalnya mungkin hanya membeli satu barang kecil. Namun karena media sosial terus menghadirkan tren baru setiap hari, kebiasaan itu terus berulang. Bukan cuma membeli barang pakai, bahkan nongkrong pun kadang dibayar nanti.
Lucunya, semua terasa aman karena nominal cicilan terlihat kecil. Namun, saat akhir bulan datang, tagihan mulai muncul bersamaan dan kondisi finansial langsung terasa berat. Di titik itu, rasa senang saat belanja sering berubah menjadi stres.
Self-Reward yang Kadang Berlebihan
Ada kalanya perempuan menggunakan belanja sebagai self-reward. Setelah lelah bekerja atau menghadapi tekanan hidup, membeli sesuatu terasa seperti hadiah kecil untuk diri sendiri. Dan sebenarnya itu hal yang wajar.
Masalahnya, kadang self-reward berubah menjadi alasan untuk membenarkan pengeluaran impulsif. Sedikit stres belanja, bosan belanja, sedih belanja. Lama-lama kebiasaan itu menjadi pelarian emosional.
Media sosial memperparah kondisi ini karena kita terus melihat konten tentang “self-healing” hingga “treat yourself”. Akibatnya, belanja terasa seperti solusi cepat untuk memperbaiki suasana hati meski rasa senangnya hanya sementara.
Belajar Hidup Sesuai Kemampuan
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan perempuan yang ingin tampil menarik atau membeli barang yang disukai. Semua orang tentu ingin merasa percaya diri dan menikmati hasil kerja kerasnya sendiri.
Namun penting juga untuk sadar kalau hidup bukan kompetisi siapa yang paling estetik atau paling update di media sosial. Tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua validasi sosial layak diperjuangkan dengan mengorbankan ketenangan finansial.
Saya rasa tantangan terbesar perempuan di era digital sekarang bukan hanya soal penampilan, tapi juga kemampuan mengendalikan keinginan di tengah tekanan sosial yang terus muncul.
Kadang kita terlalu sibuk mengejar citra hidup yang ideal sampai lupa kalau kondisi finansial yang sehat jauh lebih penting dibanding pujian sesaat di internet.
Karena tampil sederhana tapi finansial aman jauh lebih menenangkan dibanding terlihat mewah di media sosial tetapi pusing sendiri setiap akhir bulan akibat memikirkan tagihan paylater.
Baca Juga
-
Checkout Dulu, Pikir Belakangan: Tren Paylater di Kalangan Generasi Muda
-
Paylater dan Normalisasi Utang Kecil-Kecil: Kebiasaan Baru Generasi Digital?
-
Perempuan Era Digital: Tampil Kece di Luar, Pusing Sendiri di Akhir Bulan
-
Tumbler, Tote Bag, dan Realita: Apakah Gen Z Benar-benar Peduli Lingkungan?
-
Zero Waste dan Tekanan Sosial: Saat Peduli Lingkungan Jadi Ajang Kompetisi
Artikel Terkait
Kolom
-
Sisi Gelap Unboxing: Adu Cepat Sampai Rumah, Adu Lama Terurai di Tanah
-
Indonesia Darurat Sampah Plastik: Apakah Kebiasaan Belanja Online Kita Penyebabnya?
-
Realistis atau Privilege? Mendalami Zero Waste di Lingkungan Masyarakat
-
Less Waste More Future: Cara Bijak Kurangi Sampah Plastik dari Belanja Online
-
Checkout Dulu, Pikir Belakangan: Tren Paylater di Kalangan Generasi Muda
Terkini
-
Sekawan Limo: Refleksi Luka Masa Lalu Lewat Horor Komedi yang Ringan!
-
Realme Buds Air 8 Pro Resmi Hadir: TWS Flagship Baru dengan ANC 55 dB dan Baterai 50 Jam
-
5 Body Lotion Hyaluronic Acid: Kulit Bebas Kering dan Tetap Kenyal
-
Ulasan Film Close: Cerita Humanis yang Menyentuh Isu Kesehatan Mental Anak
-
Review Film Star Wars: The Mandalorian and Grogu yang Lebih Personal