Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi sukses di usia muda (Pexels/Andrea Piacquadio)
e. kusuma .n

Pernah melihat pencapaian teman sebaya yang terlihat sukses dan membuat kamu merasa tertinggal? Mungkin kamu sedang ada di fase fear of falling behind, tekanan pada diri sendiri yang berkembang saat semua orang terlihat sukses.

Apalagi saat ini media sosial bukan hanya menghadirkan hiburan tapi juga deretan pencapaian orang lain. Ada teman yang baru diterima kerja di perusahaan impian, berhasil membeli rumah, melanjutkan studi ke luar negeri, hingga merintis bisnis.

Tanpa sadar, muncul pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di benak banyak orang, "Kenapa semua orang terlihat sudah melaju, sementara aku masih di sini?". Perasaan ini muncul sebagai bentuk kekhawatiran jika tertinggal, baik soal karier, pendidikan, maupun kondisi finansial.

Menurut saya, perasaan tersebut cukup wajar mengingat semua orang juga ingin sukses. Namun, jika terus dipelihara, situasi ini bisa berubah menjadi tekanan yang melelahkan.

Media Sosial dan Garis Start Terasa Tidak Sama

Salah satu penyebab fear of falling behind semakin mudah dirasakan adalah media sosial. Setiap hari kita disuguhi cerita tentang kesuksesan, promosi jabatan, bisnis yang berkembang, atau pencapaian pribadi.

Sementara proses panjang, kegagalan, dan perjuangan di balik semua itu jarang diperlihatkan. Akibatnya, kita mulai membandingkan kehidupan sehari-hari dengan potongan terbaik dari kehidupan orang lain.

Perbandingan seperti ini sering kali tidak adil. Kita membandingkan perjalanan yang sedang dijalani dengan hasil akhir yang dipilih orang lain untuk ditampilkan. Padahal, setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan tantangan yang berbeda.

Berkembang Tidak Harus Terburu-buru

Keinginan untuk terus belajar dan berkembang tentu merupakan hal yang positif. Banyak anak muda mengikuti pelatihan, membangun portofolio, mempelajari keterampilan baru, atau mencoba berbagai peluang karier.

Namun, saya merasa ada kalanya semangat berkembang berubah menjadi kewajiban yang melelahkan. Seolah-olah setiap waktu luang harus diisi dengan kursus, pengembangan diri, membangun personal branding, atau mencari side hustle.

Ingat, berkembang tidak selalu berarti bergerak secepat mungkin. Ada masa ketika seseorang perlu berhenti sejenak untuk beristirahat, mengevaluasi tujuan, atau sekadar menikmati hasil yang sudah dicapai.

Usia Muda Bukan Perlombaan

Sering kali kita mendengar daftar pencapaian yang dikaitkan dengan usia, seperti sukses sebelum 25 tahun, punya rumah sebelum 30 tahun, atau menjadi CEO di usia muda. Target seperti ini bisa memotivasi sekaligus menciptakan tekanan yang tidak perlu.

Sebenarnya, tidak ada garis waktu yang berlaku sama untuk semua orang. Ada yang sukses setelah beberapa kali gagal, ada pula yang memilih fokus pada kesehatan mental atau keluarga sebelum mengejar target karier.

Fokus pada Proses, Bukan Sekadar Pencapaian

Salah satu cara mengurangi tekanan fear of falling behind adalah dengan mengubah cara memandang kesuksesan. Daripada terus menghitung pencapaian orang lain, kita bisa mulai melihat perkembangan diri sendiri.

Mungkin tahun lalu kita belum berani berbicara di depan umum, tapi sekarang sudah lebih percaya diri. Mungkin tabungan belum besar, tapi sudah mulai terbentuk. Atau mungkin pekerjaan belum sempurna, tapi kemampuan terus berkembang.

Deretan kemajuan kecil yang konsisten semacam ini akan jauh lebih bermakna daripada terus merasa tertinggal dari orang lain hanya karena standar yang dibentuk media sosial. Ingat, kita perlu fokus pada proses dan bukan sekadar hasil.

Tidak Ada yang Terlambat untuk Bertumbuh

Kita sering kali lupa kalau hidup bukan perlombaan dengan garis finis yang sama. Setiap orang memiliki mimpi, tantangan, dan definisi sukses yang berbeda. Karena itu, tidak ada alasan untuk merasa gagal hanya karena perjalanan kita tidak sama dengan orang lain.

Bukankah lebih penting adalah terus bergerak sesuai kemampuan tanpa memaksakan diri mengikuti ritme yang ditentukan lingkungan? Bertumbuh secara perlahan tetap merupakan bentuk kemajuan, kok.

Hidup Bukan Tentang Siapa yang Paling Cepat

Fenomena fear of falling behind menunjukkan bahwa tekanan anak muda saat ini bukan hanya berasal dari dunia kerja atau pendidikan, tapi juga dari derasnya informasi tentang pencapaian orang lain di media sosial.

Memang benar tidak ada salahnya menjadikan keberhasilan orang lain sebagai inspirasi. Namun, akan lebih sehat jika kita tidak menjadikannya sebagai tolok ukur utama dalam menilai diri sendiri.

Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat mencapai kesuksesan. Kesadaran untuk terus berkembang sesuai kemampuan, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta menikmati setiap proses yang sedang dijalani akan jauh lebih penting.

Karena setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Dan sering kali, langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membawa kita lebih jauh daripada terus berlari hanya karena takut tertinggal.