Lintang Siltya Utami | Naufal Mamduh
Ilustrasi Pengisian BBM (ChatGPT AI)
Naufal Mamduh

Hari ini, 10 Juni 2026, Pertamina resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Naik Rp 3.950 sekaligus. Pertamax Green 95 ikut naik dari Rp12.900 ke Rp17.000. Dan ini bukan kenaikan pertama bulan ini. Pada 1 Juni lalu sudah ada penyesuaian juga.

Saya bukan ekonom. Saya cuma orang yang tiap akhir bulan duduk di depan catatan pengeluaran dan bertanya: pos mana lagi yang bisa ditekan?

Jajan anak sudah dikurangi. Langganan streaming sudah dimatikan sejak awal tahun. Makan siang di kantor? Sudah bawa bekal dari rumah. Tapi yang namanya bensin, listrik, sama kebutuhan dapur, itu susah dikurangi. Itu bukan pengeluaran gaya hidup. Itu pengeluaran bertahan hidup.

Dan sekarang bensin naik hampir Rp4.000 per liter.

Orang yang lebih santai mungkin bilang, "Ya sudah, itu kan BBM non subsidi. Pakai Pertalite saja, tetap Rp10.000."

Boleh. Tapi realitanya tidak sesederhana itu. Kenaikan harga Pertamax bikin ongkos angkutan barang naik. Supir truk logistik tidak pakai Pertalite. Distributor tidak pakai Pertalite. Maka harga di pasar ikut naik, walaupun kita sendiri tidak pernah ngisi Pertamax seumur hidup. Inflasi tidak kenal pilihan bahan bakar kita.

Sudah beberapa bulan terakhir ini harga-harga merayap naik. Bukan naik drastis sekaligus, tapi naik sedikit-sedikit dan konsisten. Itu yang justru berbahaya karena tidak terasa sampai tiba-tiba kita sadar daya beli kita sudah jauh menyusut dari setahun yang lalu.

Kenaikan BBM ini bukan penyebab tunggal, tapi ia jadi bahan bakar baru buat inflasi yang sudah menyala.  "Kebanjiran ora bisa ditambani nganggo payung." (Sudah kebanjiran, masih dikira cukup pakai payung.)

Begitu kira-kira rasanya ketika kita dihadapkan pada kenaikan harga di tengah inflasi yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Solusinya tidak cukup hanya subsidi kecil di sana-sini, sementara tekanan harga terus datang dari segala arah.

Pemerintah dan Pertamina punya argumennya sendiri. Harga minyak dunia memang melonjak sejak konflik Amerika Serikat-Iran pecah Februari lalu. Pertamax sendiri diklaim sudah lama tertahan dan tidak disesuaikan waktu BBM non subsidi lain sudah naik April lalu. Jadi dari sisi bisnis, ada logikanya.

Tapi logika bisnis dan logika dapur itu dua hal yang berbeda.

Di dapur, yang dihitung bukan margin. Yang dihitung adalah berapa liter minyak goreng yang bisa dibeli minggu ini, ongkos bensin ke kantor tahan sampai tanggal berapa, dan apakah uang belanja bisa nutup sampai gajian.

Yang bikin saya lebih khawatir adalah efek domino yang belum selesai. Kenaikan ini bukan titik akhir. Ini titik awal dari putaran berikutnya. Harga bahan pokok naik, ongkos transportasi naik, upah buruh minta naik, harga produksi naik, harga jual naik lagi. Begitu terus.

Ini bom waktu. Dan saya tidak tahu kapan ledakannya, tapi saya tahu tanda-tandanya sudah mulai kelihatan.

Sejarah pernah mencatat apa yang terjadi ketika inflasi tidak tertangani dan daya beli masyarakat jeblok dalam waktu bersamaan. 1998 bukan cerita yang mau kita ulang. Tapi untuk tidak mengulanginya, kita butuh kebijakan yang tidak sekadar reaktif terhadap harga minyak dunia, tapi proaktif menjaga daya beli di dalam negeri.

Kita butuh jaring pengaman yang nyata, bukan sekadar narasi "BBM subsidi tidak naik jadi rakyat kecil aman." Karena rakyat kecil yang saya kenal juga beli ayam, beli cabai, bayar kos, dan naik ojek online yang tarifnya ikut merayap naik tanpa pengumuman resmi apapun.

Saya tidak punya solusi ajaib. Saya cuma orang yang tadi pagi ngisi bensin dan pulang ke rumah dengan perasaan yang tidak enak. Semoga yang di atas sana juga merasakan hal yang sama.