Di dalam ruang-ruang podium diskusi kampus yang berpendingin udara atau di atas trotoar jalanan saat menggelar aksi massa, mahasiswa kerap kali memosisikan diri sebagai makhluk paling perkasa di muka Bumi. Suara mereka menggelegar membelah angkasa, idealisme mereka bertengger setinggi langit, dan tumpukan daftar teori perubahan sosial yang mereka catat di buku harian bahkan jauh lebih panjang dari daftar belanjaan bulanan masyarakat awam. Dengan bangga, mereka melabeli diri sendiri dengan julukan agung seperti agent of change (agen perubahan) dan iron stock (stok besi) yang diklaim siap meruntuhkan tembok ketidakadilan birokrasi.
Namun, panggung kehebatan yang megah itu mendadak runtuh dan roboh seketika saat mereka dihadapkan pada satu pilar akademis yang bernama pengabdian masyarakat: yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Begitu melangkah dan berdiri langsung di hadapan realitas sosiologis pedesaan, keperkasaan oratoris yang biasa dipamerkan itu mendadak menguap entah ke mana. Diksi "mahasiswa kritis" yang tadinya memiliki artikulasi mulia sebagai manusia pembawa arus perubahan, secara tragis mengalami degradasi makna di lapangan menjadi sekadar "mahasiswa yang bikin kritis keadaan", alias figur asing yang justru memperberat beban hidup warga setempat.
Pengabdian Masyarakat atau Festival Pembuatan Konten?
Indikator keberhasilan dari ritual pengabdian KKN hari ini tampaknya telah mengalami pergeseran paradigma yang teramat drastis. Dahulu, keberhasilan pengabdian diukur secara mendalam dari seberapa jeli mahasiswa dalam memetakan akar masalah warga, seberapa ampuh program kerja solutif yang diwariskan untuk keberlanjutan desa, atau seberapa membekas keberadaan fisik dan emosional mereka di tengah-tengah masyarakat.
Lantas, bagaimana dengan tolok ukur hari ini? Indikator utamanya secara dangkal telah digantikan oleh seberapa cepat unggahan video kegiatan KKN mereka mampu menembus halaman For You Page (FYP) di platform TikTok.
Indikator dampak sosial yang nyata kini telah digeser secara paksa oleh penggunaan berkas template video bertuliskan "Day in my life anak KKN", transisi video yang estetik (cinematic transition), hingga aksi joget bersama anak-anak sekolah dasar di pelataran desa. Pengabdian yang seharusnya bertindak sebagai proses kontemplasi sosial yang hening, jujur, dan mendalam, justru disulap menjadi panggung sirkus digital demi memburu fana-nya piala ketenaran di media sosial. Desa yang saat ini sedang bergelut dengan problematik riil, mulai dari krisis air bersih, sanitasi yang memprihatinkan, hingga jerat tengkulak sektor pertanian—hanya direduksi fungsinya sebagai latar belakang (background) estetis demi pemenuhan harmoni warna di feeds Instagram.
Api Idealisme yang Tinggal Asap Tipis
Di manakah gerangan retorika public speaking teoretis yang dulu begitu rajin dipamerkan saat menceramahi para mahasiswa baru di ruang organisasi? Mengapa ketika diposisikan secara langsung di hadapan warga desa yang membutuhkan formulasi solusi konkret, retorika hebat itu mendadak surut tanpa bekas dan yang tersisa hanyalah "kehadiran fisik" yang hampa tanpa isi? Mahasiswa datang berbondong-bondong membawa spanduk besar berukuran raksasa, namun ironisnya mereka gagap dan bingung mau melakukan apa di lapangan, selain sekadar membuat plang penunjuk nama jalan dari kayu sisa.
Di mana pula kobaran api idealisme yang dalam orasi diklaim sanggup membakar segala bentuk ketidakadilan struktural? Saat diuji di atas tanah tapak nyata bersama rakyat kecil, api idealisme itu rupanya sama sekali tidak cukup tangguh. Ia mendadak padam total hanya karena diterpa sepoi angin malam pedesaan, menyisakan kepulan asap tipis bekas pembakaran yang celakanya cuma sanggup membuat mata perih tanpa pernah menghasilkan kehangatan.
Tentu saja, kita semua menyimpan harapan besar bahwa potret kelam ini hanyalah sebuah hipotesis yang salah, ngawur, dan sekadar terjadi pada segelintir oknum mahasiswa belaka. Namun, jika fenomena KKN bergaya influencer ini terus-menerus dimaklumi, dipelihara, dan diwajarkan oleh institusi perguruan tinggi, maka kita mungkin sudah saatnya secara radikal meredefinisi ulang arti dari sebuah pengabdian.
Jangan-jangan, generasi mahasiswa hari ini bukannya sedang berjuang mengabdikan diri untuk memanusiakan masyarakat desa, melainkan sedang secara tega menumbalkan penderitaan masyarakat demi mengabdi pada kesenangan algoritma media sosial.
Baca Juga
-
Koperasi Mendahului Aspal, Membedah Paradoks Desa Kelok Sunyi
-
Tragedi Seribu Perak: Saat Mahasiswa Menggugat Harga Kopi
-
Petaka Cinta Lintas Planet: Kala Dahlan Menjadi Mak Comblang
-
Review Toko Buku Gerbang Kota: Ketika Buku Menjadi Penyembuh Kesepian
-
Falsafah Siri dan Pidato Presiden: Menakar Keadaban Lisan Pemimpin Kita
Artikel Terkait
Kolom
-
Perempuan dan Tren Aktif Olahraga: Gaya Hidup Sehat atau Tekanan Body Goals?
-
Dilema Keuangan Anak Muda: Melek Finansial, tapi Masih Andalkan Paylater
-
Dilema Jobseeker: Dituntut Berpengalaman, tetapi Tak Diberi Kesempatan
-
Menu Digital di Restoran: Efisiensi yang Menggeser Kenyamanan Pelanggan
-
Universitas Republik Indonesia dan Ironi Kesejahteraan Tenaga Pendidik
Terkini
-
Perjalanan Nyonya Beniko Berlanjut, Toko Zenitendo Kembali Kedatangan Tamu
-
Tak Gentar! Davide Tardozzi Yakin Ducati Bisa Raih Gelar Juara Dunia
-
Perjalanan Panjang Amy & Rogers: 4 Hari dalam Mobil yang Mengubah Segalanya
-
5 HP Samsung Kamera OIS Terbaik, Hasil Videonya Mirip Kelas Flagship!
-
Ulasan Novel Negara Kelima, Menguak Konspirasi Gelap Kelompok Aparat Korup