M. Reza Sulaiman | NK. Saputra
Ilustrasi Nobar Piala Dunia. [Suara.com/Alfian Winanto]
NK. Saputra

Setiap kali Piala Dunia digelar, perhatian publik memang tertuju pada pertandingan, para pemain bintang, dan persaingan memperebutkan gelar juara. Namun, ada satu hal yang menurut saya tidak pernah kehilangan daya tariknya, yaitu tradisi nonton bareng atau nobar.

Boleh jadi sekarang siapa pun bisa menyaksikan pertandingan melalui televisi, laptop, bahkan telepon pintar. Pilihannya semakin banyak dan aksesnya semakin mudah. Meski begitu, saya merasa menonton sendirian tidak pernah benar-benar menghadirkan suasana yang sama seperti ketika duduk bersama puluhan, ratusan, atau bahkan ribuan orang dalam satu lokasi.

Ada sesuatu yang sulit dijelaskan ketika semua mata tertuju pada layar yang sama. Orang yang sebelumnya asing bisa tiba-tiba saling menyapa hanya karena mengenakan jersey tim favorit yang sama. Perbincangan ringan muncul begitu saja, mulai dari prediksi skor, strategi permainan, hingga siapa pemain yang paling layak menjadi penentu kemenangan.

Ketika pertandingan dimulai, suasana ikut berubah. Semua larut dalam permainan. Setiap serangan membuat penonton tanpa sadar menahan napas. Saat peluang emas gagal berbuah gol, terdengar seruan kecewa dari berbagai sudut. Sebaliknya, ketika bola akhirnya bersarang di gawang, sorak-sorai pecah hampir bersamaan. Momen seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Mencairkan Sekat Sosial Melalui Layar Kaca

Bagi saya, nobar bukan hanya tentang sepak bola. Kegiatan ini memperlihatkan bahwa sebuah pertandingan mampu menghadirkan ruang pertemuan bagi banyak orang dengan latar belakang yang berbeda. Anak-anak, mahasiswa, pekerja, hingga orang tua duduk berdampingan menikmati pertandingan tanpa mempersoalkan perbedaan usia, profesi, atau status sosial.

Hal yang menarik, suasana kebersamaan itu sering kali berlanjut setelah pertandingan usai. Ada yang masih berdiskusi soal jalannya laga, ada yang bercanda mengenai prediksi yang meleset, bahkan ada yang baru berkenalan karena sama-sama datang untuk mendukung tim favorit. Interaksi sederhana seperti ini terasa semakin berharga di tengah kebiasaan masyarakat yang kini lebih banyak berkomunikasi melalui layar gawai.

Katalisator Ekonomi dan Pelajaran Sportivitas
Tradisi nobar juga membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Warung makan, kedai kopi, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) biasanya ikut merasakan ramainya pengunjung selama Piala Dunia berlangsung. Di beberapa tempat, kegiatan ini bahkan dikemas bersama acara sosial, hiburan, atau kegiatan komunitas sehingga manfaatnya tidak berhenti pada pertandingan semata.

Tentu saja, tidak semua orang pulang dengan perasaan gembira. Ada tim yang menang, ada pula yang harus menerima kekalahan. Namun, justru di situlah nilai lain yang bisa dipetik. Sepak bola mengajarkan bahwa hasil akhir tidak selalu sesuai harapan. Menang patut dirayakan, sementara kekalahan perlu diterima dengan sikap sportif. Nilai seperti ini terasa lebih mudah dipahami ketika disaksikan dan dirasakan secara bersama-sama.

Merayakan Kebersamaan di Atas Segalanya

Gelaran Piala Dunia 2026 kembali mengingatkan kita bahwa sepak bola memiliki kemampuan yang jarang dimiliki oleh aktivitas lain, yakni menyatukan banyak orang dalam satu suasana. Selama pertandingan berlangsung, perbedaan pilihan, kesibukan, hingga rutinitas seolah dikesampingkan. Hal yang tersisa hanyalah semangat menikmati permainan dan menghargai setiap momen di lapangan.

Menurut saya, itulah alasan mengapa tradisi nobar selalu bertahan dari satu edisi Piala Dunia ke edisi berikutnya. Orang-orang datang bukan semata-mata untuk melihat siapa yang mencetak gol atau mengangkat trofi. Mereka datang karena ingin merasakan atmosfer komunal yang tidak bisa diperoleh ketika menonton sendirian di rumah.

Pada akhirnya, Piala Dunia memang akan berakhir. Trofi akan menemukan pemiliknya, sorotan lampu stadion akan padam, dan para pemain kembali ke klub masing-masing. Namun, bagi banyak orang, kenangan tentang duduk berdampingan, tertawa bersama, ikut tegang, lalu pulang sambil membahas jalannya pertandingan justru menjadi cerita yang paling lama dikenang.

Mungkin itulah makna sebenarnya dari tradisi nonton bareng. Bukan sekadar menyaksikan pertandingan sepak bola, melainkan merayakan kebersamaan dalam bentuk yang paling sederhana.