Berbicara tentang pendidikan, ternyata hal itu sangatlah luas bukan sekedar ada di bangku sekolah formal saja tetapi pendidikan hadir di halaman rumah panggung berasitektur Osing, ini lah yang terjadi di Desa Kemiren, Banyuwangi, terdengar suara gamelan yang diikuti oleh anak anak yang belajar tari gandrung, selain itu juga dapur di desa tersebut masih sibuk dengan mengolah resep leluhurnya. Di sinilah Suku Osing yang hidup sebagai museum nyata yang tidak hanya memajang budayanya didalam lapisan kaca tetapi juga menerapkan dan mempraktekan kebudayaannya sehari hari.
Astra hadir dalam bentuk program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang sudah bermitra dari sejak 2024, Astra memperkuat banyak dimensi seperti Kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Tapi menurut saya dari keempat tersebut ada hal yang tidak terlihat padahal menjadi fondasi segalanya, yaitu pendidikan, padahal pendidikan adalah fondasi yang sangat menentukan sehingga budaya Osing ini bisa dikenal luas dan juga terus Lestari hingga generasi selanjutnya.
PAUD sebagai Ruang Pewarisan Budaya
Penguatan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Desa Kemiren menjadi salah satu program inti DSA di bidang pendidikan. Bukan sekadar penyediaan sarana belajar dan alat permainan edukatif, program ini dirancang agar anak-anak Kemiren mengenal budaya Osing sejak dini, mulai dari mengenal Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Tari Gandrung, musik tradisional, hingga arsitektur khas rumah Osing yang mereka tinggali sehari-hari.
Pendekatan ini penting karena kelestarian budaya jarang bertahan hanya dengan mengandalkan generasi tua. Ketika anak-anak diajak mengenal identitas budayanya sejak PAUD, lewat kegiatan pembelajaran dan outing class yang mengangkat kearifan lokal, mereka tumbuh dengan rasa memiliki terhadap warisan leluhurnya, bukan sekadar menyaksikannya sebagai tontonan wisata.
Kang Edai dan Simpul Penggerak di Kemiren
Program sebaik apa pun membutuhkan sosok penggerak di lapangan yang menjahit program dengan kehidupan nyata warga. Di Kemiren, peran itu antara lain dijalankan oleh para local champion dan anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), termasuk Kang Edai, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pengelola program Desa Sejahtera Astra di desa ini.
Sosok-sosok seperti inilah yang menjadi jembatan antara program besar Astra dan kebutuhan riil warga: memastikan sarana belajar PAUD benar-benar terpakai, mengajak anak-anak muda tetap bangga menekuni tari Gandrung atau musik tradisional di tengah gempuran budaya populer, sekaligus menghubungkan pendidikan budaya dengan geliat ekonomi desa lewat sektor wisata.
Empat Bidang yang Saling Menopang
Pendidikan di Kemiren tidak berdiri sendiri tetapi terintegrasi dengan bidang lain. Di bidang Kesehatan, memastikan generasi selanjutnya tumbuh sehat untuk belajar dengan pelayanan posyandu.Di bidang Lingkungan, mengajarkan anak-anak Kemiren arti berkelanjutan dengan mengelola sampah, membuat pupuk organik sampai biogas. Di bidang kewirausahaan, pendapatan rata-rata Pokdarwis naik dari 1,5 juta menjadi 2 juta kenaikannya sampai 33%, selain itu adanya 50 homestay dan 40 pelaku usaha membuktikan bahwa hal tersebut bisa menjadi jembatan ekonomi untuk Masyarakat disana.
Dampak yang Bisa Diukur, Warisan yang Tak Ternilai
Lebih dari 3.000 kunjungan wisatawan hadir ke Desa Kemiren setiap tahun untuk menjadi saksi bagaimana budaya Osing masih hidup dan terus dilestarikan, Pencapaian ini tidak terlepas dari integrasi bidang bidang terkait yang diprogramkan oleh DSA . Sekitar 300 warga telah dijangkau program DSA. Berbagai penghargaan pun mengikuti, dari Wonderful Indonesia Impact, Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), ASEAN Tourism Award 2025, hingga terpilihnya Kemiren dalam The Best Tourism Village Upgrade Program 2025 di tingkat internasional.
Namun di balik angka-angka itu, capaian paling penting barangkali justru yang paling sulit diukur yaitu seorang anak PAUD di Kemiren yang tumbuh tahu persis mengapa rumahnya berbentuk seperti itu, mengapa desanya menabuh gamelan saat Tumpeng Sewu, dan mengapa ia patut bangga menjadi bagian dari suku Osing. Hal-hal semacam itulah yang harus diteruskan dan juga dipelajari dari dimensi pendidikan sehingga budaya bukan hanya diwarikan, tetapi dicintai, dilanjutkan dan dijaga dengan sepenuh hati.
Suku Osing di Desa Kemiren ini mengajarkan kita bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan oleh hal hal besar tapi dapat dilakukan sebatas oleh anak anak yang belajar mencintai budayanya sendiri.
#DesaSejahteraAstra #YoursayAstra
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Review The Intern: Sindiran Budaya Kerja Korea yang Dikemas Komedi
-
Ragam Seni Tradisional Bali Tampil di Festival Seni Budaya Badung 2026
-
Tren Budaya Lokal di Tangan Gen Z: Benar Merawat Tradisi atau Cuma Konten?
-
Jelang IGA 2026, Kemendagri Dorong Pemda Jadikan Inovasi Sebagai Budaya Kerja
-
Ratusan Museum dan Aset Budaya Direvitalisasi Sepanjang 2026
Kolom
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?
-
Terlalu Lama Berhemat, Gen Z Justru Terjebak Revenge Spending
-
Survei Bilang Anak Muda Muak Politik, Kok Paling Vokal Mengawal Kebijakan?
Terkini
-
Shin Min Ah, Lee Jin Uk, dan Yoo Teo Dipastikan Bintangi Wed Thurs Fri
-
Ulasan Robohnya Surau Kami: Ketika Kesalehan Kehilangan Makna
-
Eccentric! Chef Moon: Saat Kuliner Pedesaan Sembuhkan Dua Jiwa yang Patah
-
Review Godzilla Minus Zero: Ketika Teror Monster Menjadi Alegori Trauma
-
Agensi Umumkan Lee Know Stray Kids Akan Mulai Wajib Militer pada Awal 2027