Hayuning Ratri Hapsari | Bagus Sudewo
Privasi digital menjadi isu penting di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat pada berbagai platform dan layanan digital. (Pexels/Towfiqu barbhuiya)
Bagus Sudewo

Tiga pejabat tinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) termasuk seorang mantan Kapolri yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, baru-baru ini ditetapkan sebagai tersangka oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri atas kasus penyadapan ilegal. 

Menurut laporan berita yang diterbitkan oleh Suara.com pada 5 November 2026, penyadapan tanpa izin tersebut dilakukan dengan menggunakan sistem yang disebut "Lawful Interception Management System" (LIMS). Sistem ini dilaporkan tidak hanya memantau Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tetapi juga anggota kabinet lainnya, tokoh politik, pihak media, hingga kalangan dunia usaha.

Membaca berita ini melalui perangkat yang sama saya gunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga, menyimpan data perbankan, serta menanggapi pesan terkait pekerjaan, menimbulkan rasa gelisah dan cemas. Sebagai warga negara biasa, tentu bukan kapasitas saya untuk mendahului proses penyidikan kepolisian atau berspekulasi mengenai motif politik di balik kasus ini. Namun, satu hal yang pasti:

Jika komunikasi seorang Kepala Negara dan para pejabat tinggi negara (yang terlindungi dengan pengamanan ketat) bisa disadap, jaminan apa yang saya miliki sebagai warga negara biasa bahwa komunikasi saya tetap aman?

Menjebak Diri dalam Ilusi "Orang Kecil" dan Privasi Digital

Pagi ini dalam perjalanan menuju tempat kerja, kita sempat membuka mobile banking. Kemudian membalas pesan dari anggota keluarga melalui WhatsApp. Bisa jadi, kita juga mengunggah beberapa foto atau memindai dokumen penting ke layanan penyimpanan cloud untuk mengosongkan ruang di ponsel. Karena sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, kita mungkin lupa bahwa hampir seluruh aspek kehidupan kini tersimpan dalam bentuk digital.

Kebanyakan dari kita merasa aman di dunia digital ini. Ilusi sebagai "orang yang tidak penting" membuat kita merasa aman padahal sebenarnya tidak. Kita berpikir, "Saya bukan pejabat pemerintah, bukan pengusaha kaya, ataupun seorang aktivis. Mengapa mereka tertarik untuk menyadap ponsel saya? Mengapa mereka ingin membaca pesan WhatsApp saya?"

Kita mencemaskan keamanan data pribadi, padahal yang seharusnya lebih kita khawatirkan adalah keamanan data pada ribuan aplikasi yang telah kita unduh. Kita terlalu cepat mengklik tombol "I Agree" pada ketentuan layanan tanpa benar-benar membaca apa yang sebenarnya kita setujui.

Syarat dan ketentuan? Kita belum tentu membacanya. Berbagai aplikasi mendapatkan akses ke mikrofon dan daftar kontak kita. Kita mengunggah hampir segalanya. Tanpa disadari, kita telah melepaskan privasi digital kita. 

Sistem yang digadang-gadang mampu melindungi privasi kita justru menjadi semu ketika ditembus oleh pihak-pihak yang tidak berwenang dan berniat jahat, terlebih lagi jika sistem pengawasan secanggih itu jatuh ke tangan yang salah. Kita berasumsi bahwa ada tingkat privasi tertentu saat menggunakan internet, namun kenyataannya, kita justru mengalami "privasi semu".

Banyak dari kita mungkin bertanya-tanya, "Apakah data saya benar-benar sepenting itu?" atau "Siapa pula yang tertarik dengan percakapan saya?" Padahal, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan adalah, "Apakah saya memiliki hak atas ruang pribadi?" atau "Apakah saya berhak mendapatkan privasi?"

Dalam cakupan yang lebih luas, berbicara tentang privasi berarti berbicara mengenai sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar data. Data dapat disusun kembali untuk mengungkap informasi yang sebelumnya tidak terlihat. 

Apa dampaknya bagi kita? Artinya, data kita yang paling bersifat pribadi termasuk informasi keuangan, dokumen pekerjaan, percakapan pribadi, hingga foto-foto menjadi terekspos. Ketika privasi hilang, kita tidak hanya kehilangan data, tetapi juga kehilangan rasa aman terkait detail-detail sensitif dalam hidup kita.

Setiap hari kita meninggalkan jejak digital yang sering kali tanpa kita sadari. Kita menikmati kenyamanan yang ditawarkan teknologi. Mulai dari pencarian daring yang dilakukan dan tempat-tempat yang kita kunjungi, hingga percakapan yang tersimpan dalam aplikasi pesan instan. Jarang kita mempertanyakan sejauh mana kehidupan pribadi kita telah bergantung pada sistem yang tidak sepenuhnya kita pahami.

Inilah sebabnya mengapa situasi ini terasa begitu personal, bahkan bagi kita yang tidak mengikuti perkembangan politik nasional. Persoalannya melampaui sekadar pertanyaan tentang siapa yang mungkin sedang menyadap siapa. Hal ini menyangkut fakta mendasar bahwa setiap orang membutuhkan ruang pribadi. Sebuah tempat di mana kita dapat merasa aman, berkomunikasi secara terbuka, dan menjalani kehidupan sehari-hari tanpa rasa takut.

Memulihkan Kepercayaan dan Mengambil Kendali

Terlepas dari bagaimana hasil proses hukumnya, insiden ini menjadi pengingat akan satu hal krusial. Keamanan digital bukan sekadar tanggung jawab negara dan pihak berwenang, melainkan juga urusan setiap individu yang memanfaatkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Di luar ranah hukum dan perbaikan sistemik di tingkat negara, tragedi ini semestinya menjadi peringatan keras bagi kita semua yang menggunakan teknologi setiap hari. Meski kita tidak memiliki wewenang untuk mengubah institusi negara, kita memegang kendali penuh atas teknologi yang ada di tangan kita.

Jadi, mulai hari ini, langkah praktis apa yang bisa kita ambil agar tidak menjadi korban yang pasif?

  • Pertama, aktifkan autentikasi dua faktor (2FA) untuk semua akun penting, termasuk surel, WhatsApp, dan aplikasi perbankan. Langkah sederhana ini berfungsi sebagai lapisan keamanan tambahan yang secara efektif mencegah akses ilegal.
  • Kedua, tinjau izin akses aplikasi. Periksa pengaturan ponsel: kenapa sebuah permainan atau aplikasi kalkulator memerlukan akses ke lokasi atau mikrofon? Jika akses tersebut tidak diperlukan, segera nonaktifkan izin tersebut.
  • Ketiga, bangun budaya saling menghormati privasi. Hindari mengunggah tangkapan layar percakapan pribadi orang lain ke media sosial tanpa izin mereka. Privasi bukan sekadar upaya melindungi diri sendiri, melainkan juga soal etika yakni menghargai ruang pribadi orang lain.

Privasi adalah Benteng Martabat Kita

Kasus penyadapan yang menyeret sejumlah tokoh ternama ini akan menjadi proses yang panjang di lingkungan kepolisian. Bagi masyarakat umum, berita ini memberikan pelajaran bahwa keamanan digital bukanlah layanan cuma-cuma, melainkan tanggung jawab yang harus dipikul bersama.

Sebuah negara yang sehat dan demokratis tidak hanya diukur dari kepemilikan perangkat pengawasan canggih, tetapi juga dari kemampuannya dalam menjamin hak privasi serta rasa aman warganya. Meski sistem hukum dan teknis kita masih jauh dari sempurna, mari kita mulai dengan memperkuat pertahanan diri sendiri dimulai dari layar perangkat seluler kita masing-masing.

Seiring dengan kemajuan teknologi, menjaga privasi digital bukan lagi sekadar tambahan pilihan, melainkan sebuah kebutuhan mendasar bagi seluruh warga negara.