Tak bisa dipungkiri adanya media sosial membuat informasi bisa dijangkau dengan mudah. Bahkan identitas diri seseorang juga mudah untuk didapatkan.
Hadirnya media sosial juga membuat sebuah kejadian atau kasus kejahatan dapat menyebar hanya dalam hitungan menit. Satu video atau foto yang direkam, diunggah, kemudian dibagikan berkali-kali hingga akhirnya menjadi konsumsi banyak orang. Sayangnya, yang terlupakan adalah ketika ada sebuah kasus yang viral dan melibatkan perempuan sebagai korban, perhatian publik tidak selalu berhenti pada persoalan yang terjadi.
Pada akhirnya identitas baik pelaku dan korban juga bisa diakses. Hal yang menyedihkan kemudian adalah kebanyakan perempuan yang menjadi korban kejahatan, baik pelecehan seksual atau kejahatan lainya akhirnya bisa diketahui identitasnya.
Wajah korban bisa ikut tersebar. Namanya dicari. Tempat tinggal, tempat kerja, hingga kehidupan pribadinya mulai diperbincangkan. Semuanya seolah menjadi informasi yang boleh diketahui publik hanya karena sebuah peristiwa telah menjadi viral.
Padahal, menjadi korban bukan berarti kehilangan hak atas privasi.
Ketika Kasus Berubah Menjadi Tontonan
Masyarakat memang memiliki kepedulian terhadap kasus kekerasan atau pelecehan yang terjadi di sekitar mereka. Banyak orang membagikan informasi dengan alasan ingin membantu mencari pelaku, memberikan dukungan kepada korban, atau meningkatkan kewaspadaan.
Namun, niat baik terkadang berubah menjadi persoalan baru ketika informasi yang dibagikan justru memperlihatkan identitas korban.
Video atau foto yang seharusnya menjadi bukti dapat berubah menjadi tontonan. Foto korban beredar dari satu akun ke akun lainnya. Kolom komentar kemudian dipenuhi berbagai pendapat, bahkan tidak jarang muncul komentar yang mempertanyakan pakaian, perilaku, atau keputusan korban.
Pada titik inilah kita perlu bertanya, apakah perhatian publik benar-benar sedang membela korban atau justru kembali menjadikan korban sebagai pusat tontonan?
Viral Bukan Berarti Kehilangan Privasi
Banyak anggapan bahwa ketika sebuah kasus sudah masuk media sosial, semua orang berhak mengetahui ceritanya secara lengkap. Padahal, viral bukan berarti seseorang kehilangan hak untuk menjaga kehidupan pribadinya.
Korban tetap memiliki hak untuk menentukan informasi apa yang ingin dibagikan kepada publik. Terlebih dalam kasus yang menyangkut kekerasan, pelecehan, atau pengalaman traumatis, penyebaran identitas tanpa persetujuan dapat membuat korban semakin tertekan.
Persoalannya bukan sekadar nama atau foto yang tersebar. Jejak digital dapat bertahan jauh lebih lama daripada pemberitaan sebuah kasus. Ketika kasus sudah tidak lagi menjadi pembicaraan, korban masih mungkin berhadapan dengan informasi tentang dirinya yang terus beredar di internet.
Karena itu, membagikan sebuah berita seharusnya tidak membuat kita lupa bahwa ada manusia yang kehidupannya sedang dipertaruhkan.
Empati Tidak Cukup dengan Ikut Membagikan
Mendukung korban tidak selalu berarti ikut menyebarkan video atau foto yang berkaitan dengan kasusnya. Kadang bentuk dukungan yang paling sederhana justru adalah tidak memperpanjang penyebaran informasi pribadi korban.
Kita bisa membicarakan kasusnya tanpa menunjukkan wajah korban. Kita bisa mengecam tindakan pelaku tanpa mengorek kehidupan pribadi korban. Kita juga bisa menyampaikan informasi penting tanpa menjadikan pengalaman traumatis seseorang sebagai bahan konsumsi publik.
Di era ketika satu tombol share dapat membuat sebuah informasi menjangkau ribuan orang, setiap pengguna media sosial sebenarnya memiliki tanggung jawab.
Sebab, korban perempuan tidak membutuhkan lebih banyak penonton. Mereka membutuhkan perlindungan, ruang untuk pulih, dan kesempatan untuk mendapatkan keadilan tanpa harus kehilangan privasi.
Pada akhirnya, sebuah kasus boleh menjadi viral. Namun, privasi korban tidak seharusnya ikut menjadi harga yang harus dibayar agar masyarakat mengetahui sebuah peristiwa.
Baca Juga
-
Setelah 3 Tahun, Yoo Seon Ho Umumkan Hengkang dari 2 Days & 1 Night Season 4
-
Istilah Guru Honorer Dihapus, Bisakah PPPK Paruh Waktu Menjadi Solusi?
-
Belajar dari Kasus Ponpes Pati: Ruang Pendidikan Gagal Hadirkan Rasa Aman
-
Segera Tayang! Intip Fakta-Fakta Menarik Serial Disney+ 'Made in Korea 2'
-
Sekolah Gratis Tapi Tak Setara: Hidden Cost yang Menyaring Status Siswa
Artikel Terkait
-
Parkir Ngepruk di Solo: Mengapa Masalah Parkir Liar Tak Akan Hilang Hanya dengan Dibina
-
10 Nakes Kena Sanksi Usai Bully Pasien BPJS di Threads, Karier Hancur Seketika
-
PNM Ajak Nasabah Mekaar Studi Banding, Dorong Inovasi Usaha Ultra Mikro
-
Viral Eksekusi Rumah Lansia 82 Tahun di Jakbar, Ini Klarifikasi Pihak Koperasi
-
Menjaga Bahasa hingga Kuliner, Bagaimana Upaya Perempuan Lampung Merawat Identitas Budaya?
Kolom
-
Tak Punya Pantai, Kemiren Punya Budaya: Edy Menggerakkan Ekonomi Desa
-
Matinya Era RPUL: Kenapa Hafalan Nama Pejabat Sudah Tidak Relevan Lagi?
-
Gema Lesung Kemiren: Menenun Asa dan Wirausaha di Jantung Suku Osing
-
Eksploitasi Rasa Iba: Kenali Sadfishing sebagai Modus Baru Penipuan Digital
-
Beli Barang Murah di Online Shop: Solusi Hemat atau Malah Bikin Boncos?
Terkini
-
Review Dust Bunny: Sajikan Horor Gothic dan Aksi Menegangkan yang Sempurna!
-
Anniversary ke-10 BLACKPINK Tuai Kekecewaan, Jisoo Tulis Permintaan Maaf
-
Eric THE BOYZ Resmi Bergabung dengan Agensi Baru, Siap Tampilkan Sisi Lain!
-
Review Bumi Manusia: Kisah Minke Melawan Ketidakadilan di Masa Kolonial
-
Kasus Pertanahan Capai 56.844, Mengapa Masyarakat Perlu Melek Soal Tanah?