Kejahatan berskala internasional saat ini semakin marak terjadi, terutama kejahatan berbasis cinta atau sering disebut love scamming. Dalam sebuah pemberitaan, seorang pria yang sudah bekerja di salah satu daerah diiming-imingi sebuah pekerjaan di luar negeri melalui media sosial seperti Facebook dengan gaji yang lumayan besar. Iming-iming gaji tersebut membuat orang tersebut tergiur dan mengikuti tawaran ke luar negeri untuk bekerja dengan penghasilan yang cukup besar.
Namun, tragisnya iming-iming tersebut adalah sebuah kebohongan. Ada kesan telah terjadi kejahatan perdagangan orang karena apa yang dijanjikan tidak benar dilaksanakan. Malah si korban dijadikan pelaku love scamming antarnegara untuk mendapatkan keuntungan. Love scamming dilakukan dengan cara mengajak berkenalan melalui media sosial seorang perempuan hanya untuk manipulasi dan keuntungan semata. Kondisi tersebut tentu sangat merugikan dan penting adanya pencegahan.
Lakukan Validasi Terlebih Dahulu
Dalam beberapa kasus ditemukan bahwa pelaku mengajak dan menawarkan si korban bekerja di luar negeri dengan iming-iming gaji yang besar dan menjanjikan melalui media sosial. Akhirnya, si korban pun tergiur dan mengikuti ajakan tersebut dan datang untuk bekerja. Namun, ternyata pekerjaan yang ditawarkan tidak sesuai bahkan ada unsur kekerasan. Pekerjaan yang ditawarkan berupa tindak kejahatan dengan modus cinta hanya untuk mengelabui korban dengan meraup habis kekayaannya.
Manipulasi cinta dipakai agar membuat korban terpukau dan terperangkap, tetapi bukan cinta yang didapat, melainkan tipuan untuk meraup uang dan kekayaan. Sebab itu, love scamming begitu berbahaya jika kita tidak memvalidasi segala sesuatu yang datang. Setiap tawaran baik itu pekerjaan maupun jasa dan lain sebagainya harus mampu kita validasi dengan baik dan cermat. Semua itu agar kita tidak terjerembab dalam kejahatan.
Validasi dapat dilakukan dengan mencari dan meneliti barang maupun jasa pekerjaan dari berbagai media, informasi masyarakat maupun informasi digital lainnya yang terpercaya demi memastikan dan meyakinkan kita sebelum bertindak. Jangan sampai karena sedikit namun merugikan kita secara mendalam. Love scamming bukan kejahatan biasa namun kejahatan luar biasa dan berskala internasional. Para pelaku dapat berasal dari mancanegara maupun di dalam negara. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dan utamakan validasi dulu sebelum bertindak.
Pentingnya Manajemen Risiko dan Literasi Korporasi
Mengejar karier dan kesejahteraan finansial yang lebih baik adalah hak setiap pekerja. Tidak ada yang salah dengan ambisi mencari gaji tinggi, apalagi jika kompetensi kita memadai. Namun, kebanyakan kasus yang terjadi adalah ketika seseorang nekat resign dari pekerjaan lama demi tawaran yang belum jelas legalitasnya. Di sinilah pentingnya manajemen risiko dan literasi korporasi. Sebelum memutuskan pindah kerja, pastikan profil perusahaan, rekam jejak, serta kontrak kerjanya benar-benar terdaftar secara resmi dan diakui hukum.
Jangan sampai ambisi untuk berkembang justru dimanfaatkan oleh sindikat kejahatan siber melalui media sosial dengan iming-iming gaji tinggi semata. Pelajaran berharga yang dapat kita ambil yakni tidak mudah menyerahkan nasib (terutama dokumen penting seperti paspor) hanya berdasarkan tawaran di internet tanpa riset yang mendalam. Mengejar peluang baru sangat dianjurkan, asalkan dibarengi dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Bagi mereka yang sedang aktif mencari kerja, tetaplah bersemangat namun juga rasional dalam membuat keputusan apakah akan mengambil pekerjaan tersebut atau tidak. Kita diminta untuk lebih cermat dalam memvalidasi agar nanti tidak berujung kekecewaan. Love scamming adalah kejahatan terstruktur yang harus kita lawan dan cegah bersama. Korban love scamming sudah terlalu banyak, jadi jangan sampai kita terjerat dan menjadi korban kejahatan tersebut akibat kurangnya literasi digital.
Baca Juga
-
Solusi Cerdas Kelola Sampah Organik: Ubah Sisa Dapur Menjadi Pakan Ternak Berprotein
-
Udaranya Sudah di Tingkat Berbahaya, Korban ISPA di Kalimantan Tembus Ratusan Ribu Jiwa
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Bukan Sekadar Menunggu: Pentingnya Doa dan Usaha Nyata dalam Menjemput Jodoh
-
Arogansi Pengendara dan Hilangnya Budaya Sabar: Saat Hak Pejalan Kaki di Jalan Raya Terabaikan
Artikel Terkait
-
Bukan Tak Tahu Diri, Ini Alasan Lulusan Kabupaten Berhak Ajukan Gaji Tinggi
-
Mimpi Pensiun Dini Gen Z: Antara Ambisi FIRE dan Realita Gaji UMR
-
Dilema Gaji UMR vs Gaya Hidup: Kenapa Bekerja Keras Rasanya Cuma Buat Numpang Lewat?
-
Selain Gratiskan Biaya Sekolah Sampai Kuliah, Prabowo Mau Naikan Gaji Guru
-
OJK Tanggapi Wacana Gaji ASN Dipindah dari BPD ke Himbara, Ganggu Likuiditas?
Kolom
-
Dari Ngajar Jadi Tukang Endus: Ironi di Balik MBG
-
Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?
-
Peran AI di Dunia Kepenulisan: Ancaman atau Partner Kerja bagi Penulis?
-
Ke Mana Perginya Kunang-Kunang? Mengungkap Krisis Ekologi di Balik Polusi Cahaya
Terkini
-
HONOR Pad V9 Resmi Hadir: Tablet Tipis dengan Layar 144Hz dan Baterai Jumbo 10.100 mAh
-
Niti Rumat: Ketika Kurator Seni Rupa Tak Hanya Pameran, tapi Juga Merawat Sejarah
-
Bebas Kilap! 4 Physical Sunscreen Silica untuk Kontrol Sebum Kulit Sensitif
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
Anime From Old Country Bumpkin to Master Swordsman Resmi Berlanjut ke Season 3