Setiap kali seorang bayi lahir, suasana di sekelilingnya selalu dipenuhi kebahagiaan. Ucapan selamat berdatangan, keluarga berebut menggendong si kecil, dan media sosial dipenuhi foto mungil yang mengundang ribuan doa. Namun, di balik momen yang begitu hangat itu, ada satu sosok yang sering kali menghilang dari pusat perhatian, yaitu ibu yang baru saja melahirkan.
Saya semakin menyadari hal ini setelah berbincang dengan tetangga yang belum lama melahirkan. Ia bercerita bahwa rumahnya hampir setiap hari didatangi kerabat dan teman yang membawa hadiah. Hampir semuanya berupa perlengkapan bayi, seperti baju, popok, selimut, botol susu, hingga mainan. Ia mengaku sangat bersyukur atas perhatian tersebut, tetapi di saat yang sama ia merasa bahwa semua orang hanya datang untuk melihat bayi, bukan untuk dirinya.
Pengakuan itu terus teringat di kepala saya. Kita sering menganggap proses melahirkan selesai ketika bayi berhasil lahir dengan selamat. Padahal, bagi seorang ibu, perjuangan justru baru memasuki babak yang berbeda. Tubuhnya masih dipenuhi rasa nyeri, jahitan belum pulih, hormon berubah drastis, dan ia harus belajar menyusui sambil menahan kurang tidur. Anehnya, kondisi fisik dan emosional itu jarang menjadi topik utama ketika orang datang menjenguk.
Budaya kita memang sangat mencintai bayi dan itu tentu bukan sesuatu yang salah. Bayi memang pantas disambut dengan penuh kasih sayang. Masalahnya, perhatian itu sering hadir dengan mengorbankan sosok yang telah mempertaruhkan tubuhnya untuk menghadirkan kehidupan baru. Seolah-olah setelah bayi lahir, tugas ibu hanya tersenyum menerima ucapan selamat.
Padahal kebutuhan ibu pascamelahirkan sangat nyata dan sering kali tidak murah. Tetangga saya bahkan bercanda bahwa andai separuh hadiah bayinya diganti menjadi kebutuhan dirinya, masa nifasnya mungkin akan terasa jauh lebih ringan. Saya rasa ia ada benarnya.
Misalnya, pembalut khusus nifas adalah kebutuhan dasar yang hampir pasti digunakan setiap hari selama beberapa minggu. Baju longgar berkancing depan sangat membantu ibu menyusui tanpa harus merasa tidak nyaman. Bra menyusui bukan sekadar pakaian, tetapi penunjang aktivitas menyusui yang dilakukan berkali-kali dalam sehari. Belum lagi celana dalam khusus yang lebih nyaman digunakan setelah persalinan, serta korset penopang perut yang dapat membantu menopang tubuh ketika otot perut masih lemah. Semua itu mungkin terdengar sederhana, tetapi justru benda-benda inilah yang benar-benar menemani pemulihan seorang ibu.
Yang lebih penting lagi adalah perhatian yang tidak bisa dibungkus dengan kertas kado. Menanyakan, “Kamu sudah sempat makan?” atau “Bagaimana kondisi jahitannya?” mungkin terdengar sepele, tetapi pertanyaan seperti itu mengingatkan seorang ibu bahwa dirinya juga dilihat sebagai manusia, bukan sekadar seseorang yang baru melahirkan bayi.
Saya membayangkan betapa seringnya seorang ibu menerima tamu yang langsung menuju boks bayi tanpa lebih dulu menyapa dirinya. Semua orang ingin melihat wajah bayi, sementara ibu yang masih menahan nyeri hanya duduk tersenyum. Bukankah itu ironi? Orang yang menjalani salah satu pengalaman paling berat dalam hidup justru menjadi latar belakang dari perayaan tersebut.
Sudah saatnya cara kita merayakan kelahiran ikut berubah. Membawa hadiah untuk bayi tentu tetap indah, tetapi tidak ada salahnya menyisihkan ruang yang sama besar untuk ibunya. Karena setiap bayi yang lahir dengan selamat adalah hasil dari perjuangan seorang perempuan yang juga pantas dirayakan, dirawat, dan dipeluk dengan perhatian yang utuh. Saat kita menyambut kehidupan baru, jangan sampai kita lupa menjaga kehidupan yang baru saja mempertaruhkannya.
Baca Juga
-
Ulasan Motherhood: Ketika Kasih Sayang Ibu Terjebak dalam Luka Masa Lalu
-
Ulasan Novel Akan Kulintasi Dunia Untukmu: Surat yang Menjembatani Dua Masa
-
Sang Pemenang Berdiri Sendirian: Ketika Kesuksesan Berujung pada Kehampaan
-
Ulasan Novel 28: Ketika Wabah Mematikan Membuka Sisi Gelap Manusia
-
Tahun Itu Berlalu Begitu Cepat Vol 1: Bayang-bayang Cinta yang Tak Selesai
Artikel Terkait
Kolom
-
Kirain Murah, Ternyata Cuma Pemancing: Prank Harga di Etalase Marketplace
-
Hidup Terlalu Cepat: Kapan Terakhir Kali Kita Benar-benar Berhenti?
-
Pemerintah Tidak Harus Menghabiskan Semua Anggaran untuk Disebut Bekerja
-
Kesederhanaan yang Perlahan Pergi
-
Berhenti Jadi Budak Produktivitas: Lawan Ekspektasi Semua Harus Selesai Hari Ini dengan Jeda Sejenak
Terkini
-
Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!
-
One of a Kind Romance Tayang 9 November, Ini Daftar Para Pemain Utamanya
-
Setelah Sukses di Musim Pertama, Anime Draw This Then Die Lanjut Musim ke-2
-
Memetik Pelajaran Kehidupan dari Buku Harapan Semu untuk Sebuah Masalah
-
Anti-Breakout! 4 Hybrid Sunscreen Mugwort Redakan Kemerahan dan Iritasi